Laut yang Mengingat Nama: Kesetiaan Muslim di Bawah Imperium, 1775-1945

Laut yang Mengingat Nama: Kesetiaan Muslim di Bawah Imperium, 1775-1945

Di bawah langit yang tak pernah menetap, di antara pusaran angin, debur gelombang, dan jejak kapal yang lenyap seketika di punggung ombak, hidup sejenis manusia yang namanya kerap dihapus dari ingatan sejarah resmi. Mereka adalah anak-anak dari dua matahari: yang satu tenggelam di Hadramaut yang berdebu, yang lainnya terbit di pulau-pulau tropis tempat hujan tak kenal lelah turun, dan angin muson membawa berita-berita tentang perang, kekuasaan, dan kadang-kadang cinta. 

Inilah cerita tentang mereka: para Muslim yang hidup di bawah imperium, terseret oleh gelombang kolonialisme, melintas antara kesetiaan dan keterasingan, menenun hidupnya di antara negara-negara yang tidak pernah benar-benar menjadi rumah, namun juga tak bisa mereka benci sepenuhnya.

Sejarawan Michael Francis Laffan, dalam Under Empire: Muslim Lives and Loyalties Across the Indian Ocean World, 1775-1945 (Columbia University Press, 2022) bukan hanya menulis sejarah. Ia menggali reruntuhan identitas. Ia mendengarkan bisik-bisik yang tercecer di pelabuhan Cape Town, di kamp tawanan di Ceylon, di madrasah-madrasah Batavia, dan di jalanan berdebu Hadramaut. Ia mengangkat potongan-potongan kehidupan yang terlalu rumit untuk dimasukkan ke dalam kotak-kotak etnis dan negara-bangsa: orang Arab yang berbicara dalam bahasa Melayu, orang Melayu yang menjadi tentara Inggris, orang India yang mati di tanah asing, dan para perempuan yang tidak disebutkan namanya, tetapi menyulam sejarah dari balik tirai rumah mereka.

Tidak ada peta yang bisa menggambarkan seluruh jejak mereka. Mereka adalah bayangan yang melintasi batas koloni dan kerajaan, tak sepenuhnya loyal tapi juga tak bisa disebut pengkhianat. Di sinilah Laffan menunjukkan kegeniusan naratifnya: ia tidak memaksa kita memilih antara imperium dan perlawanan. Ia membiarkan kita berdiri di tengah badai—tempat seorang pemuda bernama Salih bin Salim bin ‘Abdat dari Bogor mengenakan jas putih dengan kancing berbentuk bulan sabit dan bintang, dan berdiri di depan konsul Inggris yang curiga.

Mereka bertanya kepada Salih: apakah kancing bajumu tanda kesetiaan kepada Turki? Kepada Sultan Turki Utsmani? Kepada Islam? Salih menjawab bahwa ia tidak tahu, bahwa itu hanya hiasan dari pasar Batavia. Akan tetapi di balik jawabannya, kita tahu: tubuhnya adalah peta politik. Ia membawa Hadramaut di dalam darahnya, tetapi ia dibesarkan dalam bahasa Melayu, dengan pendidikan Belanda, dan mimpi tentang Mesir. Kancing itu, seperti ujar Laffan, lebih dari sekadar logam: ia adalah simbol dari dunia yang tercerai-berai, dan keinginan untuk merangkainya kembali.

Buku ini bukan kronik peperangan. Tak ada jenderal yang dielu-elukan. Tidak ada perjanjian damai yang ditandatangani. Yang ada justru suara-suara yang terlalu sering dibungkam: Tuan Guru yang menulis Al-Qur’an di pulau Robben saat tubuhnya diasingkan dan jiwanya dicoba. Para perempuan yang menulis petisi kepada penguasa kolonial agar suami mereka dipulangkan. Anak-anak yang di kirim ke Tunis atau Makkah agar tetap terjaga identitasnya. Dan lelaki-lelaki yang kembali ke tanah asal, hanya untuk mendapati mereka dianggap “bukan siapa-siapa” oleh keluarga ningrat yang menjaga kemurnian nasab.

Laffan mendedah bagaimana kesetiaan tidaklah semenjana. Loyalitas kepada Kekhalifahan Turki tidak berarti anti-Inggris. Cinta kepada Hadramaut tidak berarti benci pada tanah kelahiran di Bogor atau Cape Town. Islam bukan hanya agama; ia adalah jalan pulang, tapi kadang-kadang juga penjara. Kita diajak menelusuri bagaimana pan-Islamisme bisa hidup berdampingan dengan nasionalisme lokal. Bagaimana seorang ulama bisa menjadi agen kolonial, dan seorang tentara Inggris bisa bermimpi tentang kemerdekaan umat.

Dalam perjalanan panjang antara Makassar dan Istanbul, antara Zanzibar dan Bombay, kita bertemu manusia-manusia yang tidak ingin menjadi pahlawan. Mereka hanya ingin hidup, mencintai, berdoa, dan dimakamkan di tanah yang mereka pilih. Namun dunia tidak mengizinkan mereka begitu saja. Paspor mereka diperiksa, identitas mereka dipertanyakan, dan niat mereka selalu dicurigai. Laffan dengan lembut namun tajam menunjukkan bahwa kekuasaan kolonial bukan hanya tentang senapan dan perintah, tapi juga tentang klasifikasi, tentang siapa yang disebut “Arab”, “Melayu”, “Moors”, “Muslim”, atau “pemberontak”.

Ada sesuatu yang sangat menyakitkan dalam membaca buku ini. Bukan karena tragedi besar atau kekejaman terbuka, melainkan karena keheningan. Karena kita menyadari bahwa sejarah tidak ditulis oleh mereka yang hidup di antara dermaga dan masjid, antara pasar dan madrasah. Akan tetapi melalui buku ini, mereka akhirnya bersuara. Mereka yang namanya tidak tercantum di prasasti kiwari mengisi halaman demi halaman dengan perlawanan yang halus namun abadi.

Kalakian, Laffan tidak menutup bukunya dengan kepastian. Ia tahu bahwa sejarah ini masih berlangsung. Bahwa keturunan Salih bin ‘Abdat, Tuan Guru, dan perempuan-perempuan tak bernama itu masih mencari tempat mereka di dunia. Mereka kini disebut “diaspora”, “minoritas”, “Muslim perantauan”. Namun, laut belum berhenti mengingat nama-nama mereka.

Laut yang sama yang membawa mereka pergi, juga menyimpan bisik doa mereka. Angin yang sama yang membawa kapal-kapal dagang juga membawa harapan mereka. Dan kita, para pembaca yang telah diajak menyusuri peta yang tidak tergambar ini, tahu bahwa kita juga bagian dari kisah ini.

Karena dalam dunia yang dikoyak oleh perang, oleh batas negara, oleh paspor dan visa, kita semua sedang mencari rumah. Rumah yang bisa menerima kompleksitas kita. Rumah yang tidak meminta kita memilih antara iman dan negara, antara sejarah dan masa depan. Buku ini, dalam segala kedalaman dan keindahan bahasanya, adalah pengingat bahwa rumah itu, mungkin, adalah laut itu sendiri.

Laut yang mengingat nama-nama kita.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo