“Ngebeng”, Cara Joget Orang Batanghari

“Ngebeng”, Cara Joget Orang Batanghari

Apakah ada orang yang tidak suka berjoget? Mungkin ada, mungkin banyak. Namun, bukankah kini banyak orang joget sedih? Sedih? Jogetin saja, begitu narasinya, sambil mendengarkan lagu Didi Kempot, “Nang kene nang kene nang kene, aku mgenteni kowe….”. 

Coba setel musik dengan irama ritmis, setidaknya pikiran dan hati pendengarnya akan mampu merasakan, meski tubuh bergeming. Mungkin, malu. Menari adalah naluri. Menggerakkan badan adalah reaksi atas stimulus. Tidak perlu harus “gemoy”, apalagi “di-gemoy-gemoykan”, bukankah demikian?

Bicara tentang menari, hampir semua etnik memiliki tradisi itu. Bisa menari hanya dengan menggerakkan tangan sambil duduk bersila sebagai iringan salawatan, misalnya salawat emprak yang saat ini masih hidup di Yogyakarta. Atau, mari lihat Tari Saman dari Gayo Aceh, yang mempertunjukkan tepukan tangan atau tepukan tangan ke paha sambil menyanyikan syair tertentu, sementara posisi tubuh tetap duduk bertumpu lutut. 

Tarian yang mengandalkan gerak kaki pun banyak, lazimnya tarian bertemakan peperangan seperti Tari Foti khas Rote dan Soya-soya dari Ternate. Tari Poco-poco dari Sulawesi Utara juga menonjolkan gerak kaki dengan pola lantai tertentu. Tarian Papua yang enerjik dan bersemangat, meski mengandalkan gerak kaki namun juga membutuhkan gerakan tangan yang rancak, sebut saja Tari Sajojo dan Tari Soanggi.

Ngebeng Jambi

Di Jambi, tepatnya di daerah Rambutan Masam, Batanghari, ada jenis seni pertunjukan bernama Ngebeng. Ngebeng adalah sebuah seni pertunjukan tradisi yaitu seni tari yang berasal dari Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muaro Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Desa Rambutan Masam merupakan desa tua di pinggiran Sungai Batanghari.  

Kata ngebeng menurut warga setempat sama dengan nyoget atau joget. Tradisi ngebeng ini merupakan tradisi joget berpasangan bagi masyarakat agraris, lelaki dan perempuan dewasa. Namun pada perkembangannya, terutama setelah Islam masuk ke tanah Melayu, ngebeng dilarang atau tabu untuk dipentaskan, dan oleh karena itu peran penari perempuan diganti dengan lelaki yang didandani dengan kostum dan riasan menyerupai perempuan (disebut babancian). Ngebeng biasanya ditampilkan sewaktu baselang nugal di talang (kebun) atau baselang nandur (menanam padi) dan baselang nuwe (panen padi) di humo (sawah).

Gerak tari ngebeng menggambarkan percintaan muda-mudi, lebih tepatnya perumpamaan pria yang sedang mendekati wanita. Maka itu, gerakan ngebeng menyerupai ayam jantan yang ngepek ayam betina ketika mulai bercinta. Jadi, pola gerak tari ngebeng meniru gerak binatang yang bercinta, seperti seekor ayam jantan yang sedang merayu ayam betina untuk diajak kawin. Tentu saja tidak sama persis plek dengan gerakan ayam kawin, tetapi disesuaikan dengan “kodrat” dan harkat-martabat manusia, he-he-he, ya masa sama persis dengan binatang, kan, ya tidak mungkin? 

Kostum yang digunakan pada awalnya adalah baju harian saja seperti baju kurung yang umumnya dipakai oleh kaum wanita bila ke sawah, dan juga menggunakan tekuluk. Akan tetapi karena ngebeng saat ini sudah ditampilkan di panggung, maka kostum yang dikenakan adalah kortum tari sebagaimana mestinya, cenderung gemerlap dan bercirikan etnik Jambi. 

Kostum yang digunakan oleh penari laki-laki adalah baju teluk belango belah bulu dan penari perempuan bebancian memakai kostum baju kurung atau kebaya dan suluk kumo. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi ngebeng adalah biola, gambus, gendang, kulintang kayu, tamborin, dan tak tawak (gong), untuk mengiringi lagu Batanghari dan Asam Payo (Pipit Dwi Vibriana dalam Pelestarian tari ngebeng di sanggar seni Bako Lantang Desa Rambutan Masam Kabupaten Batanghari. Skripsi: Institut Seni Indonesia Padang Panjang, 2021).

Dalam formulir usulan warisan budaya takbenda (WBTB) tahun 2021 disebutkan, Datuk Syamsul Bahri, pelaku tari tradisi ngebeng (kini berusia 62 Tahun) menyampaikan bahwa ia mengenal dan mempelajari ngebeng dari orang tuanya yang bernama Muhammad Ali secara langsung sewaktu ia berumur 15 tahun, dan ayahnya berumur 36 tahun. Muhammad Ali belajar dari ibu dan ayahnya atau nenek dan kakek Syamsul Bahri yang bernama Gde Saiya dan Datuk Sayo Muhammad Gencet. Mereka suka menari ngebeng sewaktu masih muda. Ngebeng sudah dipraktikkan selama beberapa generasi, jadi bisa dikatakan bahwa ngebeng sudah berumur lebih dari 100 tahun.

Pokoknya, Menari

Ngebeng pada masa kini makin menyesuaikan diri. Maksudnya, para pelaku ngebeng dan penyelenggara acara ngebeng. Zaman berubah, sawah makin sempit, jarang ada orang ngebeng di ladang. Ngebeng pun menjadi seni pertunjukan yang ditampilkan di acara-acara pemerintah, acara undangan, dan hajatan-hajatan. Waktunya pun menyesuaikan, bisa hanya 10 menit saja atau 30 menit tergantung situasi dan kondisi. Jika suasana asyik dan penontonnya aktif serta atraktif, ngebeng pun menjadi acara menari bersama yang gerakannya tidak beraturan. Hal itu bisa terjadi karena iringan musiknya memang enak dan mengundang orang untuk ikut menari. 

Pada suatu hajatan di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu, saya tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut berjoget. Awalnya dua pasang penari ngebeng, laki-laki semua namun dua penari didandani perempuan (babancian), naik ke panggung dan menari sesuai pakem. Komunitas penari sudah menyiapkan pula penari-penari latar yang semuanya perempuan. Ketika mereka menari bersama, sontak para penonton turun ke gelanggang, berbaur, ikut menari. Gerakannya? Sesuka hati. Pokoknya, menari. Suasana pun menjadi meriah dan bisa sampai 20 menit meski waktu yang dijanjikan hanya 10 menit. Jangan tanya seperti apa jogetan saya. Asal menggerakkan kaki, tangan, dan tubuh, hingga keringat menetes. Segar, rasanya.

Nah, lantas apa bedanya ngebeng dengan ngibing? Sebelum ke sana, rupanya ngebeng ini bisa diartikan berbeda oleh etnik lain atau masyarakat masyarakat di luar “pemilik” tarian ngebeng. Di Riau, ngebeng berarti joget nyawer atau berjoget sambil nyawer atau memberi uang kepada penari. Ngebeng dalam konteks ini justru dilakukan oleh audien yang menonton pertunjukan kesenian tertentu, misalnya joget Bontek dari Kabupaten Meranti, Riau. 

Seperti ditulis oleh Desmita Sari dalam Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Ngebeng dalam Pertunjukan Joget Bontek Desa Tanjung Padang Kecamatan Tasik Putri Puyu Kabupaten Kepulauan Meranti (2018), ngebeng atau ngibing atau nyawer merupakan hiburan yang dilakukan seorang penari perempuan dengan penonton yang ikut serta meramaikan acara dengan berjoget ke depan panggung dan kemudian memberikan saweran atau uang saat hiburan berlangsung. Ngebeng merupakan pelengkap hiburan yang ada di dalam tari joget bontek yang bahkan lebih diminati.

Desmita Sari bahkan menyebut ngebeng atau nyawer itu sama dengan ngibing. Padahal, ngibing menurut KBBI adalah menari atau menari bersama-sama dengan penari bayaran (tandak), sama artinya dengan ngibing bagi orang Sunda dan Jawa. Entah sejak kapan ngibing lantas diartikan sama dengan nyawer, bisa jadi karena dalam acara ngibing itu ada penari profesional yang dibayar oleh panitia acara dan dia disawer juga oleh penonton.

Satu hal yang pasti, ngebeng, ngibing, atau jejogetan, mengajarkan kita banyak hal, mulai sejarah etnis, antropologi kawasan, kearifan lokal, kompromi kemanusiaan, kegembiraan, hingga olah raga. Lho, olah raga? Pastilah, karena kita menggerakkan tubuh. Saya teringat obrolan dengan seniman tari yang juga perupa kawakan, Sardono W. Kusumo. Ketika saya tanya, apa kunci kebugarannya, hingga tetap kuat dan eksis di usia tua? “Pernapasan,” sahutnya, dan itu ia peroleh dari olah tubuh, olah raga, menari. “Saya berenang secara rutin juga”. Oh, ya, pantesan….     


$data['detail']->authorKontri->kontri

Susi Ivvaty
Eks Jurnalis Harian Kompas. Founder alif.id


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo