Kisah Pensiunan Guru Non-Muslim yang Mengajar dan Hidup di Desa Mayoritas Berpenduduk Muslim

Kisah Pensiunan Guru Non-Muslim yang Mengajar dan Hidup di Desa Mayoritas Berpenduduk Muslim

Toleransi dan moderasi beragama menjadi isu menarik untuk diperbincangkan, meskipun pada kenyataanya cukup sulit untuk dipraktikkan. Buktinya masih terdapat konflik yang dipengaruhi oleh faktor sentimen agama, wujudnya beberapa tahun lalu kita dengar adanya pembakaran tempat ibadah oleh umat agama lain, ataupun pelarangan didirikannya tempat ibadah. Bahkan beberapa kasus, terjadi pengeboman terhadap gereja. Ini merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab bersama kita sebagai warga Indonesia, untuk menjaga rumah bersama kita bernama Indonsia.

Bagaimana mewujudkan toleransi sebagai salah satu unsur penerapan moderasi beragama? Salah satunya adalah dengan sikap dan tindakan tiap-tiap pemeluk agama yang menghormati pemeluk agama lainnya. Salah seorang yang konsisten dan teguh melakukan itu adalah Tugimin, pensiunan guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Dukuhmulyo 01 kemudian SDN 02 Dukuhmulyo di Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati,  Jawa Tengah. Menariknya, bukan hanya generasi atau anak seusia saya yang diajar Pak Tugimin, namun generasi ibu, paman dan bibi saya, pun sudah diajarnya.

Saya jadi teringat sebuah kisah saat masih belajar di kelas 2 SD. Waktu itu saya tidak diajar Pak Tugimin, namun oleh seorang guru wanita yang juga non-Muslim atau seorang Kristiani. Namanya adalah Bu Endang. Bu Endang, selain mengajar juga berjualan kecil-kecillan berupa jajanan ringan dan alat tulis kepada anak-anak kelas dua.

Mengetahui hal itu, saya punya semacam prasangka, mungkin berjualan itu hanyalah cara Bu Endang untuk melancarkan gerakan Kristenisasi. Entah dari mana bisa terlintas di benak soal Kristenisasi. Mungkin karena waktu itu cukup sering terdengar isu Kristenisasi. Waktu itu Bu Endang menolak keras prasangka saya itu. Bu Endang menegaskan dia hanya berjualan biasa.

Beruntungnya, pikiran saya berhenti di situ, tidak membesar yang mungkin bisa menimbulkan pikiran negatif berikutnya. Dan memang, waktu itu, sekitar 50 persen guru-guru di sekolah saya adalah non-Muslim. Meskipun begitu, saya dan teman-teman serta murid-murid lain tidak pernah terlintas berburuk sangka terhadap guru-guru kami yang non-Muslim itu. Kami sangat menghormati guru-gur kami, bahkan hingga sekarang setelah kami dewasa.

Kembali ke Pak Tugimin, karena sudah lama tidak ngobrol, saya menyempatkan mengunjunginya pada Selasa (19/12/2023). Waktu itu Pak Tugimin sedang bersama cucunya. Dengan sedikit berbasa-basi antara murid dan guru yang lama tak mengobrol, akhirnya saya pun mulai menggali informasi terkait pengalaman otentik beliau sebagai umat Kristiani terkait toleransi beragama di Desa Dukuhmulyo, Jakenan, Pati, Jateng.

Ia menyebut, toleransi beragama, khususnya di Desa Dukuhmulyo berjalan dengan baik dan tidak ada masalah. Tidak ada gejolak. Buktinya, katanya, selama hidup di Desa Dukuhmulyo tidak pernah ada masalah terkait perbedaan agama. Apalagi sampai meruncing.

"Orang-orang Islam selalu ramah dan bersikap baik tehadap saya, dan sebaliknya. Begitu pun dengan keluarga saya," ungkapnya sambil mengenang perjalanan hidupnya.

"Saya sudah 40 tahun lebih di sini. Sejak tahun 1976 hingga saat ini, tidak pernah ada masalah terkait perbedaan agama. Masyarakat bersikap baik kepada saya, sehingga saya bisa berbaur dengan masyarakat," tambahnya.

"Bahkan di sini saya dipilih sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) selama 30 tahun lebih di RT 01/RW 02 Dukuh Ketawang, Desa Dukuhmulyo, sejak tahun 1986 sampai sekarang," paparnya lagi dengan pembawaan tenang.

Ia merasa tidak berbeda dengan masyarakat lainnya. Bahkan ketika di rumah, di tempat kerja dan di sawah, ia dan masyarakat bersikap biasa saja, tanpa ada hambatan dan halangan apa pun dalam bergaul dan berinteraksi. Semua mengalir begitu saja, saling mengerti dan memahami.

"Ini tidak hanya masyarakat Islam di sini saja, tapi masyarakat Islam secara umum juga baik. Tidak membeda-bedakan dan memperlakukan saya seperti wajarnya," tegasnya.

Ia menuturkan ketika perayaan hari-hari besar Islam, semisal Hari Raya Idul Fitri, ia juga ikut berpartisipasi. Seperti kebiasaan atau adat ketika Hari Raya Idul Fitri, umat Islam biasanya saling bersilaturrahim atau anjangsana ke rumah tetangga atau saudara.

"Saya biasanya juga ikut bersilaturrahim ke rumah saudara-saudara dan tetangga Muslim. Biasanya mereka juga berkunjung ke rumah saya. Seperti umat Muslim, saya juga menyediakan makanan ringan untuk menjamu mereka," jelas Tugimin.

Ia mempunyai pengalaman menarik terkait toleransi dan moderasi agama yang lain. Dulu saat ia mengajar di Sekolah Dasar Negeri Dukuhmulyo 01, yang mayoritas para siswanya beragama Islam, ia sama sekali tidak ada masalah waktu itu. Ia tidak mempermasalahkan agama-agama yang dianut murid-muridnya.

Orang-orang tua murid juga tidak mempermasalahkan terkait agama yang ia anut. Bahkan anak-anak juga mengahargai, juga dengan takdzim mengikuti pelajaran yang diajarkannya di sekolah. Padahal anak-anak juga tahu kalau ia seorang non-Muslim.

"Bahkan hingga dewasa atau istilahnya podo tuwane anak-anak juga tidak ada masalah dan tetap menghargai saya," ujarnya.

Saat ditanya terkait gologan umat Islam yang beraliran keras, bahkan melakukan pengeboman terhadap gereja saat Hari Natal, Tugimin tidak ingin mengomentari terlalu jauh. Ia bahkan tidak ingin mempermasalahkannya, karena berdasarkan pengalaman hidupnya hingga di usia senja kini, ia tidak pernah melihat secara langsung pengalaman seperti itu. Yang ia lihat di sekelilingnya, umat Islam menghormati dan menghargai umat Kristiani, begitu pun sebaliknya.

"Berdasarkan pengalaman saya sendiri, biasanya kalau Natalan lingkungan sekitar gereja diundang. Begitu pun beberapa umat Muslim diundang dan mereka juga datang. Lantas apa yang dipermasalahkan?" tukasnya.

Namun ada sesuatu yang tak biasa pada suatu waktu, kata Tugimin, saat Natalan pernah yang jaga Banser Nahdlatul Ulama (NU). Ia lupa, dan berusaha mengingat-ingat entah tahun berapa waktu itu. Menurutnya, kalau Natalan yang jaga TNI dan Polri itu sudah bisa, tapi ini Banser, sungguh luar biasa. Bahkan hal itu terjadi beberapa kali.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Saudara-saudara Banser yang ikut mengamankan gereja saat Natalan bahkan turut mengamankan kendaraan di gereja kami, di Sleko, Dukuhmulyo, Jakenan, Pati. Ini merupakan hal luar biasa," ungkapnya.

Kesaksian Murid 

Seorang warga Dukuhmulyo yang juga dulu bersekolah di SD Dukuhmulyo 01, dan juga murid Pak Tugimin menceritakan tentang sikap moderat Pak Tugimin dan keteladanan kebaikannya di masyarakat dan sekolah. Siswa ini, Muhammad Zaenuri, juga merupakan seorang santri Matholiul Falah Kajen Margoyoso Pati, dan alumnus Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ia menjelaskan bahwa toleransi dan penerimaan umat Muslim terhadap umat non-Muslim khususnya warga Kristen di Jakenan sangat baik. Ini terbukti tidak ada gejolak di Jakenan soal perbedaan agama. 

Di Desa Dukuhmulyo contohnya, memang terdapat perbedaan agama, misal antara Islam dan Kristen. Ini tidak mempengaruhi dalam interaksi sosial di masyarakat. Terbukti ketika ada kumpulan RT, meraka bersama-sama bahkan ketika menjelang tujuh belas Agustus meraka menggelar rapat bersama.

"Saya kira perbedaan agama tidak menghalangi terjadinya hubungan harmonis di masyarakat, selama mereka saling menghargai, menghormati dan memahami serta tidak mengusik masalah pribadi satu sama lain," ungkap Zaenuri.

Zaenuri mengungkapkan, beberapa hal kunci tercipatanya hubungan harmonis terkait keragaman agama di desa, yaitu peran perangkat desa, perangkat RT, tokoh agama dan masyarakat luas untuk menyadari terkait kesadaran bertetangga daripada memperuncing perbedaan agama. 

"Jadi kesadaran hidup bertetangga merupakan kunci daripada mempermasalahkan perbedaaan agama," tegasnya.

Menurutnya, hal yang menghambat toleransi yaitu ekonomi dan politik. Ketimpangan ekonomi dan politik yang menggunakan identitas agama.

Batasan toleransi, kata Zaenuri, apabila sudah menyangkut akidah. Toleransi menyangkut masalah furu'iyah atau cabang itu wajar. Termasuk kemanusiaan.

Zaenuri mengisahkan dulu waktu SD ketika diajar oleh guru-guru non-Muslim, hal yang masih melekat di benaknya, bahwa mereka sangat profesional, mengajarkan kedisiplinan, ketekunan, keuletan dan tanggung jawab. Guru-guru non-Muslim itu tidak mempermasalahkan agama yang dianut murid-muridnya, apalagi sampai mendiskriminasi.

"Baliau-beliau tidak membeda-bedakan murid-muridnya yang berbeda agama apalagi membenci," kenang Zaenuri.

Ahmad Solkan, jurnalis tinggal di Pati, Jawa Tengah.


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo