Irama Tom-tom: Memoar Bom Malam Natal 1984 dan Candi Borobudur Januari 1985

Irama Tom-tom: Memoar Bom Malam Natal 1984 dan Candi Borobudur Januari 1985

Sejak akhir 1970-an, unsur-unsur umat muslim Indonesia semakin tidak puas dengan roda pemerintahan Orde Baru. Dan sikap Presiden Suharto adalah tindakan tegas yang bermusuhan terhadap setiap pendapat bahwa gagasan politik dan sosial Islam, sebaiknya didengarkan.  

Sikap bermusuhan itu juga menebal akibat kecurigaan rezim Suharto bahwa kekuatan-kekuatan Islam akan lebih kuat menentang kebijakan-kebijakan persatuan Indonesia tinimbang pelbagai kekuatan lainnya.

Suharto juga berulang kali menekankan bahwa Indonesia bukan negara agama, bahwa Indonesia didasarkan pada kebebasan beragama, serta bahwa dia sangat menghargai kehidupan beragama.

Dalam konteks sosial-politik inilah yang melatari peristiwa bom “Pesta Natal” tahun 1984 dan peristiwa bom Candi Borobudur pada 1985. 

Alkisah, seorang aktivis muslim garis keras bernama Husein al-Habsyi dan kawan-kawannya sepakat untuk melakukan aksi terorisme kepada pemerintah Orde Baru. Aksi teror menjadi pilihan dengan cara melakukan aksi pengemboman. 

Bahan-bahan peledak mereka dapatkan dari daerah Lampung melalui bantuan Abdul Kadir Baraja, aktivis Darul Islam (DI) Lampung yang sempat ditahan, karena dituding terlibat dalam Komando Jihad.

Seperti dikisahkan Solahudin dalam bukunya, The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jema’ah Islamiyah (2013), Husein al-Habsyi sendiri mulai berkenalan dengan pemikiran Syiah, ketika dia belajar agama kepada Habib Husein bin Abu Bakar al-Habsyi, pemimpin pesantren Yayasan Pendidikan Islam (YPI) di Bangil, yang juga tokoh Syiah di Jawa Timur. Usai tamat belajar, Husein al-Habsyi tinggal di Malang.

Mulai 1983, Husein al-Habsyi mengadakan majelis taklim di rumahnya yang diadakan setiap Kamis malam. Pengajiannya banyak diikuti oleh para pemuda dan mahasiswa. Dia sering memberikan ceramah yang isinya panas dan pedas.

Misalnya, dia menyebut bahwa gaji para pegawai negeri sipil hukumnya haram untuk dimakan dan dibelanjakan, karena uang pemerintah ini didapatkan dari pajak kegiatan maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan minuman keras. Dia juga menfatwakan haram hukumnya memberikan ketaatan kepada pemerintah yang tidak melaksanakan syariat Islam.

Selain Husein al-Habsyi, pengajian itu juga sering diisi oleh Ibrahim Jawad. Ibrahim Jawad merupakan mubaligh asal Lawang, Malang, yang baru pulang dari Iran. Nama aslinya Krisna Triwibowo. Dulunya dia mahasiswa Universitas Jember, jurusan Sastra Inggris. Semasa mahasiswa, dia rajin mengaji ke Pesantren YPI Bangil. Lelaki asal Lawang ini menjadi tergila-gila dengan Revolusi Iran, sehingga tahun 1982, dia memutuskan berangkat ke Qum, Iran, untuk belajar agama.

Pada 1984, Ibrahim Jawad kembali ke Tanah Air dan aktif mengisi pengajian di majelis taklim Husein al-Habsyi. Ceramah-ceramah Ibrahim Jawad pun tidak jauh beda dengan versi Husein al-Habsyi. Ibrahim Jawad kerap membahas soal pentingnya menjaga ruhul jihad (semangat jihad), juga menekankan pentingnya jihad dengan harta dan jiwa dalam menegakkan syariat Islam.

Selain itu, Ibrahim Jawad tidak hanya paham soal keislaman. Dia juga relatif melek politik, bahkan banyak tahu soal rumor-rumor politik. Kebanyakan rumor-rumor politik ini berkelindan dengan Suharto. 

Jawad sering menyampaikan isu, bahwa Kongres Dewan Gereja se-Dunia di Roma tahun 1970 telah memilih Suharto untuk memimpin proyek Kristenisasi di Jawa-Madura dalam jangka waktu 25 tahun, serta kristenisasi Indonesia dan Asia Tenggara dalam jangka 50 tahun. Disebutkan juga bahwa Suharto terlibat skandal korupsi ongkos haji, di mana dari setiap orang yang akan berangkat haji sebanyak 1,5 juta rupiah disetor ke kantong Suharto.

Selain bicara politik dalam negeri, Ibrahim Jawad kerap berwicara ihwal ancaman Zionisme dan imprealisme Amerika Serikat terhadap dunia Islam. Dia tampak sangat terpengaruh oleh pemikiran politik luar negeri Imam Khomeini (Iran).

Para aktivis muslim Lembaga Pendidikan dan Pengembangan  Pesantren Kilat (LP3K) mengenal kedua ustaz Syiah ini lewat Muhammad Achwan, aktivis pesantren kilat yang tinggal di Malang. Kedua kelompok ini langsung cocok karena punya kesamaan cita-cita menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Orang-orang pesantren kilat, seperti Rizal Fadilah dan Enceng Syarif, sering diminta mengisi pengajian di majelis taklim Husein al-Habsyi. Begitu sebaliknya, Husein al-Habsyi dan Ibrahim Jawad juga kerap diminta mengisi pelatihan LP3K.

Belakangan kedua kelompok ini sepakat bersekutu dan menyatukan kekuatan. Mereka membentuk kelompok bernama Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini tidak ada hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, hanya nama saja yang sama.

Ada dua tujuan organisasi baru ini. Pertama, pengkaderan melalui pesantren kilat dan majelis taklim. Kedua, mengobarkan revolusi di Indonesia. Ikhwanul Muslimin membentuk struktur organisasi revolusi yang diberi nama Koordinator Komando (KK). Struktur ini sebenarnya merupakan peniruan dari organisasi revolusi yang dibuat Ir. Sanusi. KK ini terbagi menjadi lima divisi, yaitu divisi intelijen, penculikan dan pembunuhan, mobilisasi massa, dana logistik, dan pembebasan tahanan politik.

Rencana revolusi bersenjata benar-benar dijalankan secara serius pada September 1984, tepatnya setelah terjadi tragedi berdarah Tanjung Priok. Insiden yang terjadi titimangsa 12 September 1984 ini dipicu oleh aksi tentara yang dikabarkan mengotori kesucian sebuah masjid, berujung pada kerusuhan antara lebih dari 1000-an warga muslim Tanjung Priok, Jakarta Utara, dengan aparat keamanan. Bentrokan ini memakan korban jiwa lebih dari 100 orang. Pihak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sendiri berusaha menutupi kasus ini (Akmaliah 2020).

Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani mengungkapkan akibat insiden tersebut sembilan orang meninggal dan 53 luka-luka. Upaya menutup-nutupi insiden berdarah ini bukannya meredakan kemarahan orang, malahan semakin menyulut emosi dan kebencian para aktivis muslim kepada pemerintah Orde Baru.

Beberapa pekan setelah tragedi berdarah Tanjung Priok, tepatnya awal Oktober 1984, tiga bom meledak di kawasan bisnis yang didominasi etnis Tionghoa di Jakarta, yang merusak dua kantor Bank Central Asia (BCA) milik Liem Sioe Liong, salah seorang sekutu bisnis Presiden Suharto yang terkaya dan paling dipercaya (Borsuk & Ching 2018).

Belakangan aparat keamanan bisa membongkar, bahwa pelaku pengeboman adalah para aktivis Gerakan Pemuda Kabah (GPK) yang dekat dengan Ir. Sanusi. Akibatnya, Ir. Sanusi ikut ditangkap polisi karena dituding membiayai aksi pengemboman ini.

Kemarahan serupa dirasakan oleh aktivis Ikhwanul Muslimin. Apalagi mereka mendengar isu bahwa tragedi Tanjung Priok didesain oleh Pak Harto untuk memancing amuk warga muslim supaya berbuat kekerasan, sehingga ada alasan untuk membantainya. Mereka juga mendengar isu bahwa tragedi ini ialah bagian dari proyek besar kristenisasi dan mayoritas tentara yang menembak warga Priok merupakan tentara Kristen yang langsung dipimpin oleh Jenderal Benny Moerdani (Van Bruinessen 2002).

Sementara itu, pada awal Oktober 1984, Muhammad Achwan, Husein al-Habsyi, dan Ibrahim Jawad berinisiatif mengadakan pertemuan besar Ikhwanul Muslimin di sebuah perkebunan tebu desa Probolinggo, Jawa Timur dengan tujuan untuk mempersiapkan aksi balas dendam.

Pertemuan ini di antaranya dihadiri orang-orang Syiah serta para aktivis LP3K dari berbagai kota, seperti Bandung, Jakarta, Probolinggo, dan Malang. Di antara yang hadir: Simpuang Abdul Malik (aktivis LP3K Surabaya), Lutfi Ali (tokoh Syiah dari Probolinggo), Muhammad Acwan Ibrahim Jawad, Husein al-Habsyi, satu utusan Jakarta, serta dua utusan Bandung.

Rapat Probolinggo ini menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain Pasukan Siap Syahid (Pasisa) segera dibentuk di Malang dan Surabaya. Aksi penculikan dan pembunuhan serta mobilisasi akan dilakukan oleh tim dari Jakarta. Di daerah-daerah juga akan dilakukan mobilisasi massa, sementara Surabaya dan Malang akan mempersiapkan aksi pengemboman.

Selepas pertemuan di Probolinggo, rapat-rapat lanjutan diadakan di Surabaya, di antaranya rapat pada awal Oktober 1984 yang dipimpin oleh Simpuang Abdul Malik. Dalam pertemuan itu beredar kabar bahwa yang membunuh umat muslim Tanjung Priok adalah tentara Kristen. Rapat itu menyepakati, mereka akan melakukan aksi propaganda dengan cara menyebarkan selebaran gelap berisi pelbagai tulisan yang mendiskreditkan pemerintah. 

Selebaran yang sudah disiapkan antara lain: Jenderal Moerdani Otak Pembantaian Umat Islam, Seret Moerdani ke Pengadilan Mempertanggungjawabkan Peristiwa Berdarah Tanjung Priok, Tentara Kristen Telah Membunuh Umat Islam, Wahai Tentara Islam Bangkit Melawan Tentara Kristen, dan Menandatangani Kartu Golkar Berarti Teken Kontrak Ke Neraka.

Rencananya selebaran ini akan dicetak sebanyak 100.000 lembar dan akan ditempel di rumah-rumah, di jalan-jalan, dan di masjid-masjid. Aksi propaganda itu akan dibarengi dengan aksi peledakan, penculikan, dan pembunuhan. Husein al-Habsyi menamakan aksi peledakan ini dengan sebutan “irama tom-tom”.

Ada beberapa tempat yang dijadikan sasaran pengemboman yakni Gedung DPRD Tingkat 1, gereja-gereja, serta pertokoan yang dimiliki pengusaha Tionghoa. Peledakan ini akan dilakukan bersamaan dengan aksi penculikan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Golongan Karya (Golkar), anggota DPRD, tokoh pemerintah, serta orang-orang Tionghoa di Surabaya. Mereka yang diculik akan dibunuh, dan tubuhnya akan dimasukkan ke dalam karung persis kasus pembunuhan misterius (petrus).

Akan tetapi, rencana tinggal rencana. Hingga akhir Oktober 1984 tidak ada aksi teror di Surabaya. Begitu juga di kota-kota seperti Bandung, juga di kota-kota liyan seperti Bandung dan Jakarta. Tak ada mobilisasi massa. Tidak ada peledakan-peledakan. Tidak ada aksi penculikan kepada Presiden Suharto, Ibu Negara Tien Suharto, Jenderal Benny Moerdani, dan Jenderal Ali Moertopo. Tak jelas kenapa batal.

Bom Pesta Natal

Batalnya aksi teror di berbagai kota tidak menyurutkan hasrat Husein al-Habsyi dan Ibrahim Jawad. Mereka tetap pada rencana semula.

Pada November 1984, Ibrahim Jawad mulai merakit bom dari bahan-bahan peledak yang dibeli dari Lampung. Keduanya kemudian memutuskan bahwa objek yang akan diledakkan adalah makam mewah milik Suharto yang dibangun di Yogyakarta. Makam itu menjadi sasaran, karena uang yang dipakai untuk membangun makam itu berasal dari dana korupsi pembangunan proyek Taman Mini Indonesia Indah.

Kemampuan Ibrahim merakit bom nampaknya dia dapat tatkala berada di Iran. Dia tidak hanya belajar agama, tapi juga mendapat ilmu pelatihan militer, terutama merakit bom.

Mereka juga sepakat dalam melaksanakan aksi peledakan akan melibatkan dua orang lainnya, yaitu Abdulkadir al-Habsyi (saudara Husein al-Habsyi) dan Achmad Muladawilah.

Keterlibatan Muladawilah dalam rencana aksi ini cukup menarik. Lelaki asal Bangil, Jawa Timur ini mulai mengaji kepada Husein al-Habsyi tahun 1984. Muladawilah terpilih ikut aksi ini, karena dia salah satu murid al-Habsyi yang paling galak. Waktu yang diperlukan untuk meradikalisasi Muladawilah cukup singkat. Kurang dari setahun, dia sudah siap melakukan aksi teror. Nampaknya, proses radikalisasi di kelompok Malang memang berlangsung cerkas.

Menjelang Natal 1984, bom-bom rakitan telah siap. Ibrahim Jawad, Husein al-Habsyi, Achmad Muladawilah, dan Abdulkadir al-Habsyi mengadakan rapat pengemboman yang akan segera dilakukan titimangsa 24 Desember 1984.

Sasarannya telah berubah. Bukan lagi komplek pemakaman keluarga Presiden Suharto, melainkan gereja-gereja. Mereka menyebut aksi ini sebuah “Pesta Natal”. Gereja dipilih sebagai wujud ketika balas dendam atas kekejaman tentara Kristen membantai kaum muslim di Tanjung Priok.

Pesta Natal dilakukan menjelang tengah malam, dengan meledakkan kompleks Seminari Al Kitab Asia Tenggara Kompleks Gereja Kepasturan Katolik. Aksi ini mengejutkan warga Malang. 

Aparat keamanan cepat bertindak. Dalam hitungan hari polisi berhasil menangkap orang-orang yang diduga terkait dengan peledakan. Pada akhir Desember 1984, aparat keamanan menciduk Murjoko, salah satu anggota LP3K Malang, sementara awal Januari 1985, Mochamad Achwan tertangkap. Namun, penangkapan ini gagal mengungkap lebih jauh pelaku sebenarnya.

Bom Borobudur

Pada Januari 1985, proyek Husein al-Habsyi dan kawan-kawan yang lebih kolosal, yaitu peledakan Candi Borobudur. Alasannya, Borobudur merupakan lambang pemujaan atau berhala. Ada alasan liyan yang lebih politis, ialah sebagai peringatan kepada Suharto dan keluarganya, karena Candi Borobudur akan dibisniskan oleh Titiek Suharto yang sudah dapat persetujuan dari Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Parpostel) (Temby 2010). 

Jikalau pengemboman gereja menggunakan kata sandi “Pesta Natal”, rencana peledakan Borobudur menggunakan kata sandi “Camping”. Mungkin karena dianggap proyek besar, persiapan dilakukan sangat rahasia. Tidak seorang pun tahu proses persiapan hingga proses sebelum keberangkatan. 

Pada pertengahan Januari, Ibrahim Jawad mengajak Achmad Muladawilah dan Abdulkadir al-Habsyi camping alias jalan-jalan ke Jawa Tengah. Ajakan ini disambut antusias oleh keduanya. Ketika sampai, barulah keduanya diberi tahu Ibrahim bahwa mereka akan meledakkan Candi Borobudur.

Achmad Muladawilah dan Abdulkadir al-Habsyi sangat keranjat, mereka marah merasa dibohongi sekaligus takut. Akan tetapi, keributan tidak berlangsung lama karena Ibrahim berhasil membujuk mereka untuk kabur ke Iran.

Mereka sempat mensurvei Borobudur selama beberapa hari. Ibrahim Jawad sendiri sudah menyiapkan 14 bom. Mereka merencanakan empat bom di stupa di tingkat ke-10. Lima bom di stupa tingkat sembilan, serta lima bom lagi di tingkat delapan. Mereka juga sepakat bom akan diledakkan malam itu, tepatnya titimangsa 21 Januari 1985.

Malam harinya, 14 bom dibawa masuk ke dalam candi, sebelum diletakkan di lokasi yang sudah ditetapkan. Ibrahim melakukan pengetesan terakhir. Setelah dites, ternyata hanya 13 bom yang kondisinya baik, sementara ada satu yang tidak berfungsi.

Ketiga belas bom itu selanjutnya diatur akan meledak beberapa jam setelah bom diletakkan di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Mereka kini bisa bekerja dengan tenang, karena biasanya patroli keamanan dilakukan pada tengah malam. Selesai menempatkan bom, mereka langsung berkemas pulang ke Malang.

Pada pukul satu dini hari 21 Januari 1985 bom pertama meledak, disusul bom-bom berikutnya meledak dalam selang waktu tertentu. Hanya sembilan bom yang meledak. Sisanya sebanyak empat bom gagal meledak. Bom kesembilan sendiri meledak sekira pukul tiga dini hari.

Paginya baru ketahuan, bom-bom itu berhasil menghancurkan sembilan stupa beserta arca yang ada di dalamnya. Pengemboman ini membuat geger Indonesia maupun dunia internasional. Apalagi candi ini belum setahun selesai dipugar, di mana sebagian besar dana pemugaran ini dikucurkan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), 28 negara asing, dan delapan badan swasta internasional.

Menurut Robert Edward Elson dalam Suharto: a Political Biography (2001: 523), tanggal 23 Januari, Presiden Suharto menuding pelaku peledakan adalah orang-orang yang didorong oleh fanatisme suatu golongan yang tidak mempunyai kebanggaan nasional. Lebih jauh peledakan ini mencoreng wajah Indonesia di panggung global.

Menurut pengakuan I Gusti Ngurah Anom selaku Kepala Proyek Konservasi Candi Borobudur, dirinya banyak mendapat telepon dari berbagai negara yang seakan mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk menjaga keamanan candi yang ditahbiskan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini.

Bom Bali nan Kandas

Keberhasilan aksi ini membuat Ibrahim Jawad dan Husein al-Habsyi makin bersemangat untuk menabuh kembali “irama tom-tom”. Pada Februari 1985, mereka menetapkan target baru: Bali. Proyek ini menggunakan kata sandi, “Belajar Bahasa Arab”.

Untuk pelaksana proyek Bom Bali, Husein al-Habsyi menyiapkan sebuah tim kecil. Achmad Muladawilah tidak lagi terlibat, karena ketakutan, sementara Abadulkadir al-Habsyi tetap ikut. Tiga orang murid al-Habsyi juga ikut antara lain: Abdul Hakim, Hamzah alias Supriyono, dan Imam alias Gozali Hasan.

Tim ini juga dilatih oleh Ibrahim Jawad untuk merakit bom. Titimangsa 7 Februari 1985, Ibrahim bersama anak dan istrinya terbang ke Iran. Pada 15 Maret, Muladawilah bersama kawan-kawan berhasil menyelesaikan bom-bom yang akan dibawa ke Pulau Bali.

Malam itu juga, tim Bom Bali yang dipimpin oleh Abdul Hakim berangkat ke Bali. Sebelumnya mereka telah dibekali uang 200.000 rupiah oleh Husein al-Habsyi. Mereka berangkat menggunakan bus Pemudi Express jurusan Malang-Bali yang malam itu mengangkut 29 penumpang.

Perjalanan relatif lancar. Bus sempat berhenti untuk makan malam di daerah Paiton. Setelah itu, bus kembali melaju kencang menuju pelabuhan Gilimanuk, Banyuwangi untuk menyeberang ke Bali. Bus melaju dengan kecepatan sekitar 90 km/jam. 

Sebagian penumpang terlelap tidur. Ketika bus memasuki kampung Curah Paser, desa Sumber Kencono, Banyuwangi, tiba-tiba terdengar ledakan.

Setelah itu lampu bus mati, ledakan terdengar lagi dan disusul dengan munculnya asap putih yang memenuhi ruangan bus. Ledakan ini membuat sebagian badan bus luluh lantak.

Ledakan bom ini juga menewaskan tujuh penumpang, termasuk anggota tim Bom Bali, yaitu Abdul Hakim, Supriyono, dan Gozali Hasan. Sementara Abdulkadir al-Habsyi selamat. Dia bisa keluar dari bus, meskipun dengan luka di telinga dan sempat kabur, tapi malam itu dia juga berhasil ditangkap polisi.

Arkian, kasus meledaknya bom di bus Pemudi Express ini diketahui oleh Husein al-Habsyi pada malam setelah kejadian. Tidak sengaja dia mendengarnya di radio ABC Australia siaran Indonesia. Pagi harinya dia lari ke Bangil. Di Bangil, Husein menghubungi temannya dan minta diantar ke bandara Juanda Surabaya. Dari sana dia terbang kabur ke Kalimantan.

Sementara itu, pasca-penangkapan Abdulkadir, satu per satu para pengikut Husein al-Habsyi ditangkap termasuk Sodik Musawa dan Achmad Muladawilah. Sementara itu, dua otak aksi peledakan Husein al-Habsyi dan Ibrahim Jawad hilang tidak ada berita.

Beberapa tahun setelah para pelaku diadili, Husein al-Habsyi tertangkap di Garut, Jawa Barat pada 1990. Sementara Ibrahim Jawad tidak pernah tertangkap dan hingga kiwari tak ketahuan jejaknya. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo