Ralf Dobelli, penulis populer kebangsaan Swiss, menyarankan setiap orang berhenti membaca berita. Manifesto yang lahir dari filsafat stoa itu diklaim sebagai salah satu cara untuk merawat kewarasan, membangun hidup bahagia, tenang, dan bijaksana. Saran yang terasa benar di tengah ledakan informasi yang terjadi setiap hari. Namun, hidup di dunia tidak semudah itu dibuat bahagia.
Dobelli yang lahir dari negara sejahtera di Eropa mungkin tidak merasa perlu untuk dipusingkan dengan berita penderitaan yang terjadi di berbagai negara dunia ketiga yang masih berkembang. Untuk orang-orang di negara jelata, berita masih menjadi bagian penting guna membangun rasa solidaritas dan empati pada kemanusiaan.
Seperti situasi yang saat ini terjadi di Gaza. Sebagian besar negara-negara Barat terlihat mengabaikan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel kepada warga Palestina. Bahkan filsuf Jerman, Jürgen Habermas memberikan pembenaran pada keganasan rudal-rudal Israel yang menyasar warga sipil yang tidak berdaya. Bersama Nicole Deitelhoff, Rainer Forst, dan Klaus Günther, Habermas menulis sebuah surat terbuka pada 13 November lalu yang menyatakan bahwa tindakan Israel di Gaza sebagai pernyataan moral dan protes politik atas serangan yang dilakukan oleh Hamas terlebih dahulu.
Tentu saja publik di dunia ketiga merasa heran dan kesal terhadap sikap pengabaian pada kejahatan yang menimpa sesama negara dunia ketiga. Dalam konteks kasus Palestina, persepsi acuh tak acuh pada kejahatan yang dilakukan Israel yang terlihat pada sebagian besar sikap negara-negara Barat memiliki alasan yang kompleks dan riwayat yang panjang.
Menurut Azyumardi Azra (2016), hal tersebut muncul dari gabungan antara pengaruh pandangan-pandangan teologis, penyesalan sejarah masyarakat Barat pada bangsa Yahudi, dan kemampuan Isarel membuat pencitraan dirinya kepada dunia.
Dalam aspek pandangan teologis masyarakat Barat, asal-usul kemunculan bangsa Israel yang ada dalam adicerita (superstory) teks Bibel edisi pertama menjadikan mereka memiliki kedekatan tersendiri dengan peradaban Barat. Azra mencontohkan hal ini dengan mengutip pernyataan David Lloyd George, Perdana Menteri Inggris pada 1917 saat Deklarasi Balfour. “Nama Yudea, Saamaria, dan Yerussalem lebih kukenal ketimbang nama-nama desa di sekitar tempat kelahiranku di Inggris.” Deklarasi tersebut kemudian menjadi dasar dukungan Inggris pada Zionisme Internasional dan cikal bakal pendirian negara Israel.
Alasan selanjutnya yang membuat masyarakat Barat memiliki banyak pemakluman pada Israel adalah perasaan bersalah mereka kepada bangsa Yahudi. Selama ribuan tahun, bangsa Yahudi menjadi pengembara dan menjelajahi banyak tempat termasuk Eropa sambil menerima berbagai pengusiran. Fenomena sebuah bangsa tanpa tanah air ini bahkan menjadikan bangsa Yahudi menjadi identik dengan makna khusus dari pengertian diaspora.
Menurut William Safran dalam Diaspora in Modern Societies: Myths of Homeland and Return (1991) pada awalnya kata diaspora memiliki makna yang spesifik, merujuk pada para eksil Yahudi yang pergi dari tanah air historis mereka lalu menyebar ke berbagai tempat. Saat pengembaraan itulah mereka mendapatkan penindasan dan penghinaan. Berdasar pada riwayat makna kata saja, sudah tergambar bagaimana kesalahan sejarah yang dilakukan oleh masyarakat Barat pada bangsa Yahudi. Belum lagi jika menengok pada peristiwa holocaust yang terjadi di sekitar Perang Dunia II.
Perasaan bersalah inilah yang hingga kini mengaburkan sebagian besar pandangan masyarakat Barat terhadap isu kemanusiaan yang menimpa warga Palestina. Seperti tergambar dalam surat terbuka, Habermas dan ketiga rekannya yang menyinggung soal kejahatan Nazi di masa lalu. Segala suara kritis pada Israel sering kali dicap sebagai anti-semit, dan pola itu tampaknya masih bertahan hingga kini.
Pada sisi lain, Israel juga memiliki kemahiran dalam menempatkan diri mereka di benak publik Barat. Kementerian Luar Negeri Israel setiap tahun menyewa jasa para penulis lepas untuk menguraikan berbagai sisi kehidupan Israel yang positif dan membagikannya pada penerbit-penerbit di Amerika Serikat. Badan Siaran Luar Negeri Israel juga membuat konten radio yang dikemas secara apik untuk didengarkan oleh pendengar Amerika serta didistribusikan juga ke Amerika Latin dan Eropa. Hal serupa dilakukan pada jaringan televisi yang ada di Amerika.
Dalam Media Coverage of the Middle East: Perception and Foreign Policy (1985), Jack Shaheen menjelaskan produksi media di Amerika mulai dari program televisi, penerbitan buku, sampai media cetak turut membentuk persepsi masyarakat negara tersebut dalam memandang Israel dan negara-negara Arab. Beberapa di antaranya melakukan glorifikasi Israel atau menempatkan Israel sebagai pihak yang dirugikan di tengah negara-negara Arab. Shaheen mencontohkan ada beberapa novel dan media cetak yang memuat banyak misinformasi tentang keadaan di Timur Tengah.
Penjelasan di atas senada dengan apa yang ditulis Edward Said dalam Covering Islam (1997), yang melihat bahwa banyak penulis pro-Israel yang menulis buku dan jurnal dengan perspektif menempatkan Israel sebagai korban dari kekerasan Islam. Publikasi ini secara khusus ditujukan untuk publik Amerika dan Eropa dengan harapan cara pandang tersebut bisa memengaruhi lebih banyak masyarakat Barat.
Dengan berbagai faktor di atas, tidak heran jika kemudian publik Barat yang masih terjebak dalam bias dan memandang tragedi Palestina dengan mata tertutup. Sebuah persepsi yang sudah terbangun lama tentu tidak mudah untuk dijernihkan kembali.
Meskipun demikian, suara alternatif tetap hadir dalam wacana pemberitaan di negara Barat. Pada 9 November 2023, sebanyak 600 jurnalis yang berbasis di Amerika menandatangani sebuah surat terbuka yang mengecam kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Isreal di Gaza. Sampai dengan 13 November, penandatangan surat terbuka itu terus meningkat sampai 1.265 orang jurnalis.
Pada 2021 lalu, surat terbuka yang ditujukan pada media-media Amerika juga pernah dibuat oleh para jurnalis di negara itu oleh 514 orang. Menurut para penandatangan, surat itu dibuat dari jurnalis untuk jurnalis. Isinya memprotes framing media Amerika terhadap kejahatan kemanusiaan Israel dan pemilihan diksi media yang mendiskreditkan warga Palestina.
“Kami menulis surat ini untuk mendesak diakhirinya kekerasan terhadap jurnalis di Gaza dan menyerukan kepada para pemimpin redaksi di negara-negara Barat untuk bersikap jernih dalam meliput kekejaman yang berulang kali dilakukan oleh Israel pada warga Palestina.”
Kutipan bagian surat yang dibuat 9 November lalu ini menjadi sikap solidaritas yang hadir dari realitas yang ada di Gaza. Karena sampai 15 November 2023, Comitee to Protect Journalists mencatat sudah 42 jurnalis yang terbunuh dalam serangan Israel ke Gaza yang dimulai sejak 7 Oktober lalu. Kasus ini merupakan peristiwa terparah sejak pertama kali lembaga itu mencatat jurnalis yang terbunuh dalam perang pada 1992.
Gifari Juniatama
Penulis lepas dan peneliti independen. Meminati kajian sosial, agama, dan budaya. Saat ini tinggal di Tangerang.
Editor: Muhammad Zunus


