Ngadas adalah sebuah desa di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, Jawa Timur dengan potensi keagamaan beragam. Tiga agama dipeluk oleh penduduk mayoritas suku Tengger tersebut dengan persentase pemeluk kepercayaan Buddha Jawa sebesar 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%.
Ngadas juga adalah salah satu dari 36 desa Suku Tengger yang tersebar dalam empat kabupaten/kota. Terletak di tengah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Ngadas menjadi kantung (enclave) dari TNBTS dan berada di ketinggian mencapai 2.150 mdpl dengan luas area sekitar 395 ha dengan topografi berbukit.
Sebagian besar masyarakat Ngadas berprofesi sebagai petani. Ngadas menjadi salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa dan tidak jarang disebut sebagai 'Negeri di Atas Awan'. Tak heran Ngadas menjadi salah satu desa tujuan wisata pula yang kerap dikunjungi pelancong baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Jefanda Rike dari Universitas Jember dalam skripsinya berjudul Perkembangan Agama Islam di Desa Ngadas Poncokusumo Jawa Timur menyebut bahwa Suku Tengger tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Islamisasi di Jawa dan pengaruh Pemerintah Orde Baru yang hanya mengakui agama resmi sehingga memengaruhi dinamika keagamaan di Desa Suku Tengger termasuk Desa Ngadas.
Dinamika keagamaan dan struktur sosial masyarakat Desa Ngadas mengalami perubahan yang awalnya menganut Budo, kepercayaan asli Suku Tengger, beralih menganut Agama Buddha dan Hindu. Kemudian, masuknya agama Islam membuat sebagian masyarakat menganut agama Islam. Tokoh yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Desa Ngadas yaitu Sulianto tahun 1979. Pada tahun 2001 perkembangan agama Islam di Desa Ngadas dapat dilihat dengan berdirinya dua rumah ibadah yaitu Mushala Hidayatullah dan Masjid Al-Asfiyah. Adanya perkembangan agama Islam di Desa Ngadas berdampak terhadap tingkat toleransi agama, kehidupan sosial, serta akulturasi budaya dalam bentuk ritual adat-istiadat.
Pada perkembangan berikutnya penduduk Desa Ngadas hidup rukun dan masih memegang teguh adat istiadat Tengger meski memiliki tiga keyakinan agama. Hal ini karena kuatnya pengaruh adat Tengger akan pandangan masyarakat terhadap kekuatan-kekuatan supranatural yang ada di lingkungan mereka.
Contohnya pada prosesi upacara Entas-entas. Bagi warga Ngadas, pelaksanaan upacara Entas-entas secara khusus yaitu untuk menyucikan roh atau adma bagi orang yang sudah meninggal dunia. Atau sebagai upaya untuk memperingati kematian keluarga yang tiada agar arwahnya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik. Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke-1000 atau minimal pada hari ke-44 setelah keluarga ada yang meninggal. Istilah Entas-entas berasal dari bahasa Jawa, yaitu entas yang berarti mengangkat. Sebuah tradisi yang terus berlangsung dan dilaksanakan hampir oleh seluruh masyarakat tengger tanpa memandang latar belakang agama.
Pada pelaksanaan kegiatan keagamaan sesuai agama yang dianut, penduduk Ngadas sudah terbiasa hidup rukun tanpa gesekan. Misalnya saat Galungan. Pernah Hari Raya Galungan bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan. Meski merayakan bertepatan dengan Ramadan namun umat Hindu di Desa Ngadas masih memegang teguh tradisi, yakni menghormati umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
Contoh lain saat Sembahyangan umat Hindu, warga Desa Ngadas yang beragama Hindu sudah melakukan persembahyangan sejak pagi di Pura Desa. Usai melakukan sembayang, umat Hindu membagikan makanan kepada sesama umat Hindu sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Esa (YME).
Keharmonisan umat beragama di Desa Ngadas sangat mengagumkan, karena tolerensi antarumat beragamanya yang tinggi. Keharmonisan dalam beragama telah menyatukan warga. Tradisi yang kuat menjadikan desa tersebut tumbuh rukun dan bertoleransi tinggi, sehingga antarumat dapat hidup berdampingan.
Salah satunya seperti saat bulan suci Ramadan, umat Hindu dan Budha lainnya juga menghormati, seperti tidak makan dan minum di sembarang tempat. Hal ini untuk menghormati umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sejak dulu hingga kini tidak ada yang berubah dalam bertoleransi. Semua warga saling tolong dan menghargai.
Contoh lainnya seperti peringatan sholat atau kumandang adzan bagi umat Muslim, tetap berkumandang. Bahkan, rumah ibadah seperti pura dan masjid dibangun berdekatan, seakan-akan menyampaikan isyarat, meski warga Desa Ngadas berbeda keyakinan, tapi tetap rukun. ”Jika Hari Raya Idul Fitri bukan hanya Umat Muslim seluruh umat juga saling kunjung dari ke satu rumah ke rumah lainnya untuk saling bermaafan,” ujarnya .
Berada dalam kawasan BTS, menjadikan masyarakat Ngadas satu sama lainnya bergotong royong dalam membangun kawasan wisata yang ramah dan rukun, agar nyaman dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sejak dulu kala, di Desa Ngadas tidak pernah terjadi masalah, meski satu sama lainnya berbeda keyakinan atau beda agama.
"Kami terbiasa hidup rukun, tak ada masalah dengan perbadaan agama yang kami peluk, alhamdulillah kerukunan terjaga," tutur warga yang memiliki Taman Pendidikan Al-Qur'an dari dusun Jarak Ijo, Ustadz Rubianto saat wawancara pada Jumat (22/12/2023).
Menurutnya Desa Ngadas ada dua dusun yankni Ngadas Krajan dan Jarak Ijo pedukuhan.
"Kalau Jarak Ijjo mayoritas Muslim sedangkan Ngadas Krajan warganya mayoritas memeluk Budha dan Hindu," urai Ustadz Rubianto.
Ngadas menjadi sebuah kehidupan keagamaan yang menarik untuk dipelajari dan menjadi role model pelaksanaan moderasi beragama. Sebuah alasan positif menjadikan desa ini sebagai sasaran pula unruk belajar moderasi beragama bagi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). KKM adalah Program penting oleh setiap kampus di Indonesia yang sasarannya adalah masyarakat. KKM merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh setiap mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir atau skripsi.
Di penghujung tahun 2023 ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Kabupaten Malang, meliputi Kecamatan Dau, Wagir, Ngajum, Wonosari, Tumpang, Jabung, Turen, dan Poncokusumo. Program KKM dilaksanakan tanggal 20 Desember 2023 sampai 31 Januari 2024. Tema yang diusung adalah Peningkatan Moderasi Beragama, Pencegahan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem.
"Adapun Peserta KKM ini berjumlah 3.060 mahasiswa, meliputi 2.915 peserta KKM regular, 109 peserta KKM MBKM, 28 peserta KKM Internasional, 2 peserta KKM DR (dari rumah), 6 peserta pengabdian lain. Untuk pengabdian internasional 13 mahasiswa di Thailand, 11 mahasiswa di Malaysia, dan 4 mahasiswa di Cambodia," jelas Syaiful Mustofa, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat .UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Di Desa Ngadas, mahasiswa diterima langsung oleh Kades, Mujianto M di Kantor Desa Ngadas. Mendapat sambutan hangat dengan ucapan selamat datang. Mahasiswa juga bertatap muka langsung dengan beberapa perwakilan penduduk. Tak hanya itu, mereka memperoleh paparan singkat tentang Desa Ngadas beserta kehidupannya untuk menjadi referensi mahasiswa ketika KKM di Ngadas.
"Harapan kami, program dari mahasiwa berjalan lancar dan program desa yang belum tertangani bisa terkafer oleh mahasiswa," tutur Kades Mujianto.
Anis Hidayatie, aktivis NU, jurnalis media online tinggal di Malang Jawa Timur
Editor:


