Pramoedya Ananta Toer (Sedikit) Berpuisi

Pramoedya Ananta Toer (Sedikit) Berpuisi

Pada masa 1950-an, para pengarang Indonesia dalam tegangan mengusung lokalitas dan pesona sastra dunia. Industri penerbitan buku tampak marak dengan kemunculan beragam sastra terjemahan. Konon, pilihan buku untuk diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia tak sekadar urusan estetika. Di situ, ada "tarung ideologi" melalui beragam kubu.

Kita agak mengetahui setelah membaca puisi gubahah Slamet Wibisono berjudul Untuk Pramoedya Ananta Toer. Puisi wagu dimuat dalam majalah Medan Bahasa edisi Februari 1957. Puisi dipersembahkan kepada pengarang sedang kondang di sastra Indonesia melalui terbitan novel-novel. Pram berada dalam sorotan ramai. Puisi berharap terbaca oleh Pram meski isi puisi tak mencantumkan nama Pram.

Kita membaca: Boleh sadja bilang!/ Hamzah bilang, aku punja Setanggi Timur/ Taslim Ali bilang, aku Puisi Dunia/ Mochtar Lubis kasih undjuk, ini Negeri Dollar/ Boleh sadja bilang/ Aku bisu! Di situ, kita membaca sastra terjemahan berkiblat Timur dan Barat seolah mau melanjutkan polemik seru berlatar masa 1930-an. Kita membaca lagi: Rebut itu Barat/ Trisno Sumardjo ambil Shakespeare/ Barus Siregar borong Dickens/ Anas Maruf tjulik William Sarojan/ Nur Sutan Iskandar kenal Alexander Dumas/ Boleh sadja bilang/ Aku kurang!

Bait kedua memastikan pengarang-pengarang Indonesia condong menggemari kerja penerjemahan sastra berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Pada masa 1950-an, situasi sastra terjemahan berkiblat Barat memicu sengketa dalam arus sastra-politik di Indonesia. Pram turut menjadi penerjemah sastra dari Rusia. Para pembaca masa lalu menengarai sumber-sumber itu menentukan pertentangan ideologi melanda Indonesia.

Puisi lama mungkin sulit teringat bagi para pengamat sastra atau pembuat kliping. Puisi tak terlalu penting meski mencantumkan judul meminta perhatian: Untuk Pramoedya Ananta Toer. Slamet Wibisono mungkin terpengaruh dari gegeran sastra atau saling serang berkaitan krisis kesusastraan Indonesia. Rekaman dalam puisi memuat data-data gairah penerjemahan sastra (dunia) di Indonesia dengan pamrih-pamrih berbeda.

Pada abad berbeda, kita mudah menemukan Pram dalam puisi. Kita membaca Langkah-Langkah Menulis Puisi gubahan Joko Pinurbo (2017). Puisi agak lucu tapi serius. Joko Pinurbo memberi petunjuk: Langkah keenam:/ Duduklah dengan tenang di atas batu/ yang kelak akan jadi batu nisanmu/ sambil membaca Pramoedya:/ “Hidup sungguh sangat sederhana./ Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Kalimat mendapat tanda petik diambil dari roman Pramoedya Ananta Toer berjudul Rumah Kaca (1988).

Joko Pinurbo mengukuhkan sebagai pembaca novel-novel Pram. Ia memberanikan diri mengutip dan menaruh dalam puisi. Di bawah puisi, catatan kaki itu mengesahkan Joko Pinurbo mengajak orang-orang ikut membaca Rumah Kaca. Dua kalimat dari Pram dianggap dapat berfaedah bagi orang belajar menulis puisi. Joko Pinurbo membaca novel dan menulis puisi. Apa ia membaca puisi-puisi gubahan Pram?  

Kita membuka buku berjudul Menggelinding (2004), memuat beragam tulisan Pram. Di situ, terbaca tiga puisi gubahan Pram. Ia pernah memberi puisi dan terbaca orang-orang meski tak berlanjut dalam arus puisi. Ia makin besar dan tenar dengan cerita-cerita, bukan puisi.  

Di peringatan 100 tahun Pramoedya Anantar Toer (1925-2025) kita berjalan di puisi pernah tertulis dan terbit masa 1950-an. Di puisi berjudul Anak Tumpahdarah, kita membaca sejenis “deklarasi” penuh kehormatan. Pram (1951) menulis: Siulkan lagu sekuat paru/ Sampai ke tepi laut dan darat tumpahdarah/ Djeritan hasrat sampai puntjak tiap gunung/ Aku tetap djaga, aku tetap djaga/ Aku – anak tumpahdarah. Kita mengetahui gelagat mengagungkan revolusi. Pram itu rajin menulis dan mengedarkan revolusi dalam arus sastra. Ia mengajak keberanian demi (revolusi) Indonesia.

Pram tergoda mencipta propaganda. Puisi itu garang: Maut dan Hidup sahabat makhluk/ Tak ada kesan beri bentengan/ Buka djalan, buka rimba/ Anak tumpahdarah mau lalu/ Anak tumpahdarah – Aku. Kita belum perlu membandingkan “aku” dicantumkan dalam puisi Chairil Anwar atau puisi-puisi sebelum dan setelah Perang Dunia II. Pram menaruh “aku” itu revolusi tak pernah padam.  

Kita berlanjut membaca puisi berbobot filsafat diberi judul Kutukan Diri. Pram mungkin turut menanggapi debat-debat terjadi di Indonesia menggunakan istilah krisis, lesu, atau “ofensif”. Situasi hidup Pram tak keruan tapi bergairah dalam melek revolusi, melek sejarah, dan melek sastra. Pram mudah menentukan sikap dalam cerita dan esai. Penghadiran puisi mungkin tak terlalu mengena.

Puisi dengan renungan mendalam: Kemudian datang djua/ Ini diri hampir kaku dalam rangkulan/ Kemampusan djiwa/ Sedang deram genderang tinggal terdengar sajap/ Hampir lenjap ditelan peternakan tubuh/ Berderet-deret. Kita terbujuk mengenali (lagi) gejolak dan konflik dialami Pram dalam keluarga, politik, dan sastra. Ia dalam tilikan diri.

Pada bait terakhir penekanan rasa puisi disahkan tanda seru. Pram dalam taraf tegang: Pengetjut! Pengetjut! Ini diri belum berani/ Dibiarkan djuga genderang menjekarat/ Di lereng-lereng lembah belum diulah/ Dan matahari tambah condong/ Memburu tiap diri tjari selimut sembunjian. Para pembaca mungkin ingin menaruh puisi Pram itu bersama puisi-puisi gubahan Iwan Simatupang untuk menguak kondisi manusia. Pram tak mengumbar filsafat tapi puisi itu menggetarkan.

Dua puisi dari masa 1950-an mengesankan Pram ikut mengamati perkembangan puisi Indonesia tapi tak memberi janji ikut meramaikan puisi. Ia mirip penonton atau pengunjung, belum ada kemauan tekun menggubah puisi-puisi. Pada 1947, ia pernah menulis puisi mirip “penentuan sikap” dalam keberanian bersastra. Puisi itu berjudul “Huruf”. Pram dalam “keremajaan” untuk mampu menjadi penggerak bahasa menghasilkan teks-teks sastra bermutu.

Pram menulis: Wahai huruf,/ Bertahun kupeladjari kau/ Kutjari faedah dan artimu/ Kudekati kau saban hari/ Saban aku djaga/ Kuutatap dikau dengan pengharapan/ Pengharapan jang tidak djauh/ Dari hendak ingin dapat dan tahu. Ia hidup dengan bekerja dengan huruf-huruf. Ia mennginginkan huruf-huruf itu gairah, bukan lungkrah. Huruf menjadi pembuktian, bukan kejatuhan dan terpuruk.

Warisan masa silam itu mengabarkan Pram tak betah berpuisi. Ia pasti mengerti puisi dan revolusi di Indonesia atau dunia. Keinsafan diri dan seribu pertimbangan membuat Pram bukan pencipta puisi terpenting dan berpengaruh di Indonesia. Ia cuma memberi sedikit tapi tetap wajib dikenang untuk mengerti gairah bersastra sulit dipadamkan, sejak masa revolusi sampai pembuangan di Buru. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo