Jangan mengira bahwa radikalisme dan beragam gerakan ekstrem lainnya lahir hanya karena alasan ideologis atau munculnya agama garis keras yang wajahnya makin terlihat sejak era reformasi. Ada faktor lain yang ikut menyumbang; tiada lain dan bukan adalah perilaku pemerintah pada rakyatnya.
Simak saja liputan Tempo.co pada tanggal 3 Februari 2025 yang menceritakan betapa memilukannya hidup rakyat. Nenek Yonih (62) tutup usia akibat kelelahan mencari elpiji 3 kilogram. Konon, ia kelelahan karena berkeliling mencari gas selama kurang lebih dua jam. Selain itu, banyak masyarakat protes atas kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro pada rakyat kecil.
Saat cuaca begitu panas, di tengah kerumunan orang yang berharap mendapat gas melon, muncul suara dari seorang laki-laki paruh baya yang ditujukan pada Bahlil, Menteri ESDM Indonesia: “...Saya sekarang lagi masak, Pak. Saya tinggal demi gas. Bukan masalah antre gasnya, anak kami lapar, butuh makan untuk kehidupan, Pak. Logikanya berjalan dong, Pak! Akal sehatnya berjalan, Pak...Jangan ganggu kemiskinan kami!”
Kalimat itu mengandung makna ketidakpercayaan pada pemerintah. Rakyat bahkan hampir tidak menganggap negara sebagai tempat berpulang dari segala masalah. Tampaknya, yang dirasakan malah sebaliknya, negara menjadi sumber nestapa. Suara itu amat memilukan hati, menerbitkan air mata bagi siapa pun yang mendengar. Dalam suaranya tersimpan jeritan yang mewakili perasaan rakyat terhadap kebijakan pemerintah.
Itu baru satu hal. Di Papua, anak-anak berdemo membawa spanduk menolak makanan bergizi gratis. Mereka meminta haknya untuk mendapat beasiswa. Pendidikan yang gratis, ilmiah, dan demokratis bagi mereka lebih penting daripada perut yang kenyang. Hak pendidikan yang dijamin dalam konstitusi terasa sulit dicapai oleh masyarakat Indonesia Timur. Pemerintah kurang peka dalam melihat kebutuhan masyarakat.
Berita terbaru, rentetan korupsi terkuak. Korupsi ekspor minyak sawit, korupsi proyek BTS 4G, korupsi tata niaga komoditas timah, korupsi minyak mentah Pertamina, korupsi PT Antam (emas palsu), dan daftar kasus lainnya membuat kepercayaan masyarakat pada pemerintah makin menipis.
Faktor Munculnya Ekstremisme
Radikalisme dapat dimaknai sebagai gerakan-gerakan yang berusaha merombak secara total tatanan sosial dan politik yang ada dengan kekerasan yang didasarkan pada jargon-jargon keagamaan. Radikalisme biasanya berujung pada tindakan ekstrem yang perlu untuk diwaspadai karena bisa menggoyahkan prinsip-prinsip dan dasar negara. Sebut saja misalnya pengeboman, penyebaran narasi radikal, diskriminasi, hingga aksi kekerasan fisik.
Radikalisme yang berujung pada terorisme masih menjadi masalah amat penting, utamanya bagi umat Islam di Indonesia. Tingkah yang dilakukan oleh beberapa oknum kerap menyebabkan Islam dicap sebagai agama teror dan pendukung jalan kekerasan. Padahal, anggapan demikian keliru. Islam berwajah sebaliknya.
Namun, meski kesimpulan tersebut mudah dipatahkan, tidak bisa dipungkiri kenyataan ini sangat membebani psikologi umat Islam secara keseluruhan. Sebenarnya, apa yang menjadi faktor munculnya paham gerakan keagamaan yang keras tersebut? Mengapa hingga kini gerakan tersebut masih menjadi ancaman?
Finta Widiarni melalui penelitian bertajuk Ekstremisme dan Radikalisme: Penyebab, dan Solusi Berkelanjutan (2025) menukilkan faktor yang mendorong terjadinya penyebaran ekstremisme dan radikalisme, faktor ini mencakup sosial, ekonomi, dan politik.
Pada faktor ekonomi dan politik, Finta membabarkan bahwa William Nock pernah menegaskan terorisme yang belakangan marak muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia. Liberalisme ekonomi yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi yang kaya saja, mengakibatkan jurang yang sangat tajam kepada yang miskin. Kondisi ekonomi yang dibiarkan terus demikian menyumbang terjadinya terorisme internasional.
Stabilitas politik yang diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak baik, yaitu politik kotor, politik yang berpihak pada pemilik modal, kekuatan-kekuatan asing, bahkan politik pembodohan rakyat bisa melahirkan perasaan skeptis dari masyarakat. Perlahan namun pasti akan mudah muncul kelompok-kelompok atas nama agama yang berupaya menggugat sistem dan dasar negara.
Agus Surya Bakti melalui Deradikalisasi Nusantara, Perang Semesta Berbasis Kearifan Lokal Melawan Radikalisme dan Terorisme (2016) juga menuliskan bahwa faktor ideologi yang mendorong seseorang untuk bertindak ekstrim tidak berdiri sendiri. Ideologi selalu bersahutan dengan pemicu.
Ada sebuah rumusan yang menegaskan bahwa jika ideologi tidak bertemu dengan faktor pemicu (trigger) yang serba kompleks maka terorisme biasanya tidak akan muncul. Radikalisme muncul dengan berbagai penyebab: keterbelakangan pendidikan, perubahan politik, kemiskinan, atau rendahnya peradaban budaya dan sosial seseorang. Faktor tersebut yang memicu radikalisme berujung pada terorisme.
Kita kembali pada kondisi yang telah dipaparkan di awal tulisan. Hal-hal yang dialami rakyat saat ini sangat mungkin bisa menjadi pemicu terjadinya tindakan ekstrim yang bisa menggoyahkan stabilitas negara. Munculnya tindakan radikal dan teror bisa terjadi karena ketidakpercayaan pada pemerintah akibat korupsi dan pengabaian hak masyarakat. Jurang kemiskinan dan pendidikan rendah yang bertemu doktrin ekstrem seperti gayung bersambut penyebab munculnya tindakan kekerasan.
Kini, kita dihadapkan pada sikap pemerintah yang standar ganda. Di satu sisi mereka seolah berusaha memerangi gerakan-gerakan ekstrem dengan berbagai program tapi di sisi lain memberi ruang bagi gerakan itu untuk tumbuh subur, salah satunya dengan tindakan korupsi dan kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Dua hal tersebut menjadi kartu ‘As’ bargi para pedagang idiologi ekstrem untuk menarik masyarakat setuju pada konsep utopis yang mengatasnamakan kejayaan dan kebangkitan Islam.
Editor:


