Partai Demokrat secara resmi menetapkan Tim Walz sebagai pendamping Kamala Harris dalam bertarung pemilu Amerika 2024. Keduanya ditetapkan sebagai delegasi Demokrat untuk menghadapi kubu Partai Republik, Donald Trump dan JD Vance pada Pilpres yang berlangsung November mendatang.
Ditunjuknya Walz sebagai wakil Harris menyudahi spekulasi yang berkembang selama beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, mencuat sejumlah nama yang pantas mendampingi Harris sebagai calon wakil presiden Amerika. Tim Walz sendiri adalah kader militan Demokrat yang pernah menjabat Gubernur Minnesota.
Nama Walz bisa dikatakan tidak terlalu populer dalam peta politik Amerika. Sosoknya masih kalah masyhur dibanding dengan politisi Demokrat lain, seperti Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro dan Senator Arizona Mark Kelly, yang keduanya sama-sama sempat masuk nominasi cawapres Harris.
Meski demikian, Walz punya rekam jejak yang bisa dibilang cemerlang selama memimpin Minnesota. Kinerjanya banyak dipuji karena ia memberlakukan beberapa kebijakan progresif yang ambisius di Minnesota, seperti menggratiskan biaya kuliah bagi yang memenuhi syarat, menetapkan keringanan pajak, menciptakan program cuti keluarga, melindungi hak aborsi, dll. Berbagai program tersebut selama ini menjadi trade-mark Partai Demokrat.
Ketika Walz ditunjuk sebagai calon wakil presiden Kamala Harris, beberapa pengamat menganggap hal itu keputusan tepat karena rekam jejak Walz membuktikan bahwa ia benar-benar menjalankan agenda-agenda politik Demokrat selama ia terjun ke dunia politik.
Hal demikian sangat penting untuk memperkuat citra Demokrat di mata pemilih yang belakangan banyak yang mempertanyakan mengenai komitmen Demokrat terhadap agenda-agenda politik yang selama ini menjadi orientasi perjuangannya. Pasalnya, dalam rentang beberapa bulan terakhir, publik Amerika mengkritisi secara serius berbagai program dan kebijakan pemerintahan Joe Biden—presiden dari Demokrat—yang dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip politik Demokrat, seperti dukungan terhadap agresi militer Israel di Palestina dan bantuan dana untuk Ukraina dalam perang melawan Rusia. Dengan hadirnya Walz, hal itu dimaksudkan sebagai upaya untuk meyakinkan pemilih mengenai komitmen Demokrat terhadap program program politik progresif yang sudah menjadi image resmi dari partai. Tim Walz adalah sosok yang pas untuk itu karena rekam jejaknya selama ini memperlihatkan bagaimana kontribusinya terhadap isu-isu populis milik Demokrat.
Selain itu, Walz juga diharapkan dapat membantu melengkapi performa Harris di beberapa daerah yang selama ini menjadi red zone dalam pertarungan meraih suara di pemilu Amerika. Walz dianggap berpotensi mengatrol suara Demokrat yang selama beberapa bulan terakhir merosot secara perlahan. Kemampuan personal dan pengalaman politiknya selama bertahun-tahun memimpin Minnesota, yang notabenenya menjadi basis politik Partai Republik, menjadi senjata ampuh untuk membuat Demokrat lebih percaya diri menghadapi Donald Trump dan JD Vance dari kubu Partai Republik.
Peran Wakil Presiden
Selama getaran pemilu di negara dengan sistem pemerintahan presidensial, perhatian publik umumnya akan terfokus pada calon presiden. Calon wakil presiden cenderung tidak terlalu disorot dalam dinamika pemilu. Hal tersebut terjadi salah satu faktornya karena posisi wakil presiden pada kenyataannya memang tidak terlalu dominan dalam sistem presidensial.
Wakil presiden cenderung berperan minimalis dalam pemerintahan presidensial karena hanya diplot sebagai pendukung atau pelengkap kerja-kerja presiden. Jika presiden berhalangan dalam satu kegiatan atau tidak bisa menjalankan tugas-tugas pokok kenegaraan, maka wakil presiden yang akan mengambil alih tugas tersebut.
Ditinjau dari pola kerja, wewenang wakil presiden juga terbatas dalam mengatur negara. Para menteri di kabinet umumnya bertanggung jawab dan berkoordinasi langsung dengan presiden. Wakil presiden baru dilibatkan dalam pembahasan program kerja dengan para menteri biasanya atas petunjuk dan perintah dari presiden langsung.
Peran yang demikian membuat posisi wakil presiden diibaratkan seperti ‘ban serep’ dalam sebuah mobil. Ia hanya berfungsi apabila presiden sebagai ban utama pecah atau rusak. Jika tidak ada masalah dengan ban utama, maka ‘ban serep’ tidak akan dipakai. Berangkat dari hal itu, tidak heran kalau posisi wakil presiden acapkali dikritik publik karena perannya yang minor seperti antara ada dan tiada dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Meskipun minim peran, wakil presiden uniknya tetap menjadi kedudukan strategis dalam sistem presidensial. Banyak politisi yang menginginkan posisi wapres apabila gagal mengejar posisi presiden. Dalam setiap momen pemilu, posisi calon wakil presiden menjadi salah satu jabatan yang diperebutkan dan dianggap penting oleh para politisi, walaupun nantinya tidak punya banyak peran dalam pemerintahan.
Dalam konteks pemilu Amerika, posisi calon wakil presiden dinilai sebagai posisi terhormat dan vital dalam mewarnai dinamika pemilu. Letak pentingnya calon wakil presiden terletak pada perannya untuk melengkapi performa calon presiden yang bakal bertarung dan kemampuannya untuk menarik suara sebanyak mungkin dari daerah-daerah yang bukan basis pendukung dari si calon presiden.
Dalam tradisi politik Amerika, calon wakil presiden umumnya merupakan tokoh-tokoh yang dipilih karena dianggap mampu menutupi kelemahan dari pasangan calon presidennya. Dasar kemampuannya bisa karena gender, ras, agama, platform politik, usia, atau orientasi politik. Hal itu bisa dilihat dari pasangan Joe Biden dan Kamala Harris yang menjabat presiden-wakil presiden Amerika periode 2020-2024. Harris adalah perempuan kulit hitam pertama yang menjadi wakil presiden.
Ketika Harris dipilih sebagai wakil Biden, hal itu melengkapi identitas politik Biden yang belum tertutupi, yaitu pro terhadap minoritas. Dipilihnya Harris sebagai wakil Biden, menggenapkan identitas politik yang selama ini menjadi tradisi politik Demokrat yang pro kesetaraan gender, ras, imigran, dan berbagai kelompok minoritas lain.
Terpilihnya Tim Walz sebagai calon wakil presiden Harris juga berangkat dari asumsi yang sama. Ia dipilih dengan kalkulasi politik yang berdasar pada rekam jejak, orientasi politik, komitmen ideologis, dan kapabilitas dalam menjalankan pemerintahan.
Peluang Harris dan Walz
Pemilu Amerika akan dilaksanakan pada 5 November. Kandidat dari Partai Republik, Trump dan Vance, dianggap punya kans besar memenangkan pemilu. Selain faktor program yang ditawarkan serta kritik-kritik kepada pemerintah saat ini yang relatif tepat sasaran dan sesuai dengan emosi publik, faktor emosional para pemilih juga menguntungkan keduanya.
Pada 13 Juli lalu misalnya, Trump mengalami percobaan pembunuhan ketika ia sedang berkampanye di Butler, Pennsylvania. Insiden tersebut menaikkan popularitas sekaligus menaruh bahan empati terhadap Trump. Peristiwa itu sekaligus menurunkan approval rating terhadap Joe Biden yang saat itu belum mengundurkan diri dari capres Demokrat. Pasca tragedi Butler, banyak pengamat yang meyakini kalau Trump bakal menang mudah dalam pemilu nanti, mengingat tren simpati masyarakat yang malah semakin besar kepada Trump.
Namun, setelah Biden mengurungkan niatnya untuk maju kembali dalam pemilu 2024, peta politik Amerika kemudian berubah. Kamala Harris yang ditunjuk menggantikan Biden diprediksi punya kemampuan ekstra untuk merebut simpati publik yang mulai menguat ke kubu Trump. Harris punya rekam jejak mentereng sebagai politisi Demokrat sekaligus pengacara yang bergerak dalam isu-isu perempuan, diskriminasi, dan kekerasan.
Harris juga berasal dari kelompok minoritas di Amerika. Selain itu, performa personal Harris jauh lebih baik dari Biden yang semakin menurun termakan usia. Harris jelas lebih energik dan powerfull dibanding Biden. Hal tersebut penting untuk meyakinkan publik bahwa calon pemimpinnya memang punya kemampuan untuk mengemban tugas negara apabila terpilih.
Trump sendiri mengakui bahwa dipilihnya Harris sebagai pengganti Biden membuatnya harus menata ulang strategi memenangkan pemilu, meskipun Trump tetap sesumbar bahwa Harris jauh lebih mudah dikalahkan daripada Biden. Tapi Trump menyadari bahwa Harris jauh berbeda dari Biden yang memaksanya harus menyusun kembali langkahnya.
Saat ini, modal Harris untuk memenangkan pemilu telah lengkap. Ia disokong politisi berpengalaman Tim Walz. Kehadiran Walz dianggap mampu membantu Harris untuk mengembalikan suara Demokrat yang perlahan-lahan dicuri Trump. Walz juga dinilai bisa bersinergi dengan Harris untuk menangkal serangan kubu Republik terhadap Demokrat sekaligus melakukan serangan balik. Hal itu memang nyata adanya karena setelah terpilih sebagai calon wakil presiden Demokrat, Walz langsung menyerang Trump dan Vance yang ia sebut ‘weird’ atau aneh. Trump menjawab serangan ini dengan berkata:
“Kami tidak aneh. Kami adalah orang-orang yang sangat solid. Kami ingin memiliki perbatasan yang kuat. Kami ingin pemilu yang baik, Saya pikir kami kebalikan dari yang aneh. Merekalah yang aneh.”
Menurut laporan majalah Time berjudul, “How ‘Weird’ Became a Main Campaign Attack—for Democrats and Republicans”, kata weird kemudian menjadi istilah umum dalam serangan politik di antara Demokrat dan Republik. Kedua kubu saling menggunakan diksi tersebut untuk mendiskreditkan satu sama lain.
Merujuk pada publikasi survei nasional yang dipublikasi analis Nate Silver pada 30 Agustus, Kamala Harris mengungguli kandidat Republik Donald Trump dengan angka sekitar 48,8% melawan 45,0 %. Angka ini cukup mengejutkan karena pada survei Agustus lalu, posisi Trump jauh di atas Biden yang saat itu masih menjadi kandidat Demokrat, sebesar 45,2% dibandingkan 41,2%.
Namun kini, arah angin malah berbalik mendukung Harris. Hal itu membuat para pengamat meramalkan bahwa pemilu nanti akan berjalan sengit dan ketat. Trump dan Harris sama-sama punya peluang besar untuk menang. Khusus untuk Harris dan Walz, menurut analisis Adrian Beaumont dalam “Harris’ win probability falls slightly after Democratic convention and Kennedy withdrawal” (2024), keduanya punya pekerjaan rumah besar untuk menaklukan Pennsylvania karena daerah tersebut memiliki jumlah suara elektoral terbesar dibanding negara bagian lain. Siapa pun yang memenangkan Pennsylvania berpotensi besar memenangkan pemilu secara keseluruhan.
Permasalahannya adalah daerah ini merupakan basis kekuatan Republik dalam beberapa kali pemilu. Peluang Harris dan Walz untuk menaklukan wilayah ini cukup berat. Keduanya harus bekerja keras meraih suara di daerah tersebut. Karena itu, sebenarnya sejak lama muncul saran agar Harris mengambil Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro sebagai wakil, bukan Walz. Meski terkesan berat, Harris dan Walz masih punya cukup waktu untuk bergerilya mencari suara di Pennsylvania dan negara bagian lain. Jika keduanya konsisten turun ke daerah dan dapat menawarkan gagasan atau program yang masuk akal serta mengakomodasi kepentingan publik secara keseluruhan, bukan tidak mungkin Amerika akan memiliki presiden perempuan pertama untuk empat tahun mendatang.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor:


