Old Trafford pernah menjadi rumah angker, tempat lawan-lawan Manchester United kehilangan keberanian. Namun kini stadion itu seperti kehilangan ingatan tentang kejayaannya sendiri.
Minggu, 25 Oktober 2026, Bournemouth datang dan pulang membawa kemenangan 3-0. Rayan, Marcus Tavernier, dan Evanilson bergantian merobek gawang United, sementara Michael Carrick hanya bisa terpaku menyaksikan pasukannya kocar kacir.
Delapan pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi dengan tujuh poin dari delapan laga Premier League, membawa United duduk satu angka di atas zona degradasi.
Menurut Opta, ini awal musim terburuk United setelah delapan pertandingan liga sejak 1986/1987. Angka-angka itu membawa ingatan pada masa sebelum Alex Ferguson membangun imperium yang pernah membuat Old Trafford menjadi salah satu pusat kekuasaan sepak bola Eropa.
Yang paling menyedihkan bukan angka di papan skor. Carrick mencadangkan Bruno Fernandes setelah sang kapten mengkritik pendekatan taktiknya. Keputusan itu tidak menyelamatkan United. Usai pertandingan, sebagian pendukung justru menyanyikan nama Carrick sambil mencemooh pemain dan melampiaskan kemarahan kepada pengelola klub. Di tengah reruntuhan prestasi, orang-orang mulai berbeda pendapat tentang siapa sebenarnya yang bertanggung jawab.
Carrick tak lagi dapat memberikan kepastian mengenai masa depannya. Ia sering mengatakan hanya akan melakukan yang terbaik bagi klub. Soal nasibnya kemudian, ia belum tahu. Di United, di mana lebih dari seperempat abad menjadi milik Ferguson, jabatan manajer atau pelatih terasa seperti nyawa yang harus dipertahankan setiap akhir pekan. Dag-dig-dug.
Persoalannya, mengganti manajer belum tentu menyembuhkan penyakit yang sudah lama bersarang di tubuh. Sejak Ferguson pensiun, United telah berkali-kali mengganti manajer, membeli pemain mahal, mengubah manajemen, dan menjanjikan kebangkitan.
Namun, sejarah tidak dapat hanya dibeli dengan semua itu. Sebuah kesebelasan membutuhkan lebih daripada sebelas pemain piawai. Kesebelasan memerlukan gagasan yang dipercaya bersama, mulai dari ruang manajemen hingga ruang ganti.
Nasib manajer di Liga Inggris memang memperlihatkan betapa cepatnya sepak bola mengubah penilaian. Roberto De Zerbi, misalnya, yang sempat terbenam bersama Tottenham, kini mulai menemukan pijakan. Spurs mengalahkan Coventry 3-1, kemudian menang 2-0 di kandang Chelsea. Dua kemenangan itu tidak menghapus awal musim yang buruk, tapi cukup untuk mengubah nada pembicaraan tentang masa depannya.
Alvaro Arbeloa mengalami perubahan serupa. Fulham yang sebelumnya sulit menang kini mencatat dua kemenangan beruntun. Terakhir mengalahkan Coventry 1-0 melalui gol Oscar Bobb. Mereka keluar dari zona degradasi. Sementara Frank Lampard, yang sempat mendapatkan pujian setelah Coventry bangkit, kembali menghadapi tekanan setelah dua kekalahan beruntun. Di Liga Inggris, nasib manajer terkadang tak berbanding lurus dengan hasil pertandingan terakhir.
Inilah paradoks industri sepak bola modern. Klub semakin canggih membaca permainan melalui data, algoritma, dan analisis video, tapi kerap begitu sederhana saat mencari penyebab kegagalan. Manajer adalah bagian yang paling mudah diganti.
Manajer datang membawa harapan, pergi membawa kesalahan. Penggantinya diminta menyelesaikan persoalan yang diwariskan.
Musim lalu Liga Inggris mencatat sebelas pergantian manajer di tengah kompetisi. Angka itu memperlihatkan betapa pekerjaan membangun sebuah tim lekat dengan kebutuhan industri. Klub menuntut proyek jangka panjang, tetapi sering mengukurnya dengan kalender yang terlalu pendek.
Bagi Carrick, perjalanan berikutnya menuju Stamford Bridge untuk menghadapi Chelsea akan berlangsung di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Bisa jadi ia memang harus pergi jika United terus kehilangan arah. Namun kepergiannya tidak otomatis menjawab mengapa klub sebesar Manchester United terus mengulangi kegagalan dengan orang-orang berbeda.
Barangkali itulah tragedi Old Trafford yang sesungguhnya. Selama bertahun-tahun, mereka mencari seseorang yang mampu mengembalikan era keemasan Ferguson.
Padahal sebuah imperium tidak runtuh hanya karena seorang jenderal kehilangan pertempuran. Ia mulai rapuh ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi sepakat tentang apa yang sedang mereka pertahankan.
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah penikmat sepak bola, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan
Editor:


