Menyambut Pergantian Presiden dengan Kritik dan Introspeksi

Menyambut Pergantian Presiden dengan Kritik dan Introspeksi

Hanya dalam hitungan hari, wajah Indonesia akan mengalami perubahan. Alih bentuk itu hendak terjadi di ruang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup dan ruang-ruang lainnya. Bukan hanya tagline “ganti menteri ganti kurikulum” yang berlaku di negeri ini, tapi kalimat “ganti presiden ganti kebijakan” juga pasti terjadi.

Kita menunggu, apa yang kelak akan dilakukan presiden dan wakil terpilih untuk membawa perahu negeri ini. Apakah akan mampu menyusuri gelombang dengan gagah? Atau sebaliknya, retak dan tenggelam di dasar lautan.

Kita berharap, novel Animal Farm (1945) gubahan George Orwell, yang menceritakan alegori politik dengan kebobrokan para penguasa tidak lagi relevan untuk dikutip pada masa pemerintahan Prabowo-Gibran (2024-2029). Lalu, lirik lagu Franky Sahilatua berjudul Perahu Retak (1995) yang menceritakan ketamakan para petinggi, juga mudah-mudahan tidak terulang di masa kini. Karena jika iya, lagi-lagi yang akan menjadi korban adalah jutaaan rakyat Indonesia.

Memasang mata dan telinga untuk terus mengawal segala kebijakan yang dikeluarkan para petinggi sangat perlu. Gerakan “peringatan darurat” dengan simbol garuda berlatar biru terbukti mampu menjadi kekuatan kolektif rakyat untuk mengawasi kebijakan-kebijakan yang berpotensi merugikan. Namun, apakah cukup berhenti di situ? Tentu tidak.

Margaret Thatcher, perdana menteri perempuan pertama di Inggris, suatu kali pernah berujar: “There is no such thing as society. There are individual men and women and there are families.” Ia memberi gagasan dasar soal perubahan, bahwa yang paling terpenting adalah kesadaran dari setiap individu lalu keluarga untuk mewujudkan bagaimana masyarakat akan terbentuk. Semua hal tidak bisa dilemparkan pada pemerintah.

Kita boleh sepakat, dengan beberapa catatan. Sepakat bahwa setiap individu memang memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menentukan nasib yang akan dipilih melalui belajar dan kerja keras. Hal itu perlu dilakukan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Tapi, pemerintah juga wajib menjalankan amanat undang-undang untuk menyediakan beragam akses yang optimal bagi masyarakat. Seperti penyediaan sarana dan prasarana umum, penyelenggaraan pendidikan, penanggulangan masalah sosial, pengendalian lingkungan hidup dan sebagainya.

Kita tidak akan membahas lebih jauh seputar pejabat negara. Yang akan disoroti adalah tentang warga negara. Berdasarkan survei dari Drone Emprit, ditemukan data bahwa Indonesia menempati peringkat teratas dunia dalam jumlah pemain judi online. Lalu, dalam Kompas (19/9/2024) dipaparkan data bahwa berdasarkan riset International Institute for Management Development (IMD), Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 67 negara dalam hal daya saing SDM pada tahun 2024.

Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa secara individu, SDM Indonesia masih bermasalah. Pemerintah memang bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya, tapi seperti yang dikatakan Thatcher, setiap individu juga punya tanggung jawab atas dirinya sendiri. Jadi, selain menuntut pemerintah untuk memperbaiki internalnya, ada baiknya juga meninjau diri sendiri.

Ada sebuah ajaran dari filsafat China yang diperkirakan berlaku sejak abad ke-10. Ajaran itu ditemukan dalam buku Sacred Nature (2023) gubahan Karen Armstrong  yang menjelaskan hakikat perubahan, begini bunyinya:

“Orang-orang di zaman kuno yang hendak menebarkan kebajikan bercahaya ke seluruh dunia pertama-tama mesti mengatur negara bagian mereka; untuk mengatur negara bagian mereka, pertama-tama mereka mesti menertibkan keluarga mereka; untuk menertibkan keluarga mereka, pertama-tama mereka mesti mengelola diri mereka sendiri; untuk meluruskan pikiran mereka, pertama-tama mereka mesti membuat pikiran mereka tulus (cheng); untuk membuat pikiran mereka tulis, pertama-tama mereka mesti memperluas” pengetahuan mereka. Perluasan ilmu pengetahuan terletak pada penyelidikan hal-hal (gewu).

Ajaran itu mengandung maksud bahwa jika setiap orang mampu mengontrol dirinya sendiri, bertanggung jawab, dan memaksimalkan potensi yang dimiliki, perubahan akan terjadi dalam skala besar. Ini sejalan dengan prinsip filsafat stoikisme.

Filsafat Stoik mengajak kita untuk hidup realistis, membaca diri, mengevaluasi diri dan antisipasi diri. Dalam Filosofi Teras (2019) karya Henry Manampiring dituliskan bahwa Epictetus, salah satu tokoh stoik pernah mengatakan perihal dikotomi kendali: “Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada kita), ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada kita)”. Lalu ada juga yang diantara keduanya, konsep itu disebut trikotomi kendali.

Menerapkan trikotomi kendali dalam case permasalahan soal negara memungkinkan kita untuk merasa tidak lagi terbebani oleh ekspektasi. Kita bisa lebih tenang karena memahami apa yang berada dalam kemampuan kita dan sebaliknya. Mana yang menjadi tanggung jawab individu mana yang negara.

Misalnya, dalam pergantian presiden nanti, banyak orang mungkin akan menuntut soal kesejahteraan bagi masyarakat. Para mahasiswa biasanya ikut berdemo untuk mengungkapkan aspirasinya . Itu tindakan yang tepat. Tapi, apakah sebagai individu orang-orang yang berdemo sudah melaksanakan kewajibannya? Misalnya bagi mahasiswa, apakah juga berupaya berlaku jujur dengan tidak melakukan tindakan joki, rajin membaca buku, dan mengikuti perkuliahan dengan bertanggung jawab?

Itu baru satu case. Contoh yang lain, para aktivis yang mengkritik pemerintah, apakah ketika melakukan protes sungguh-sungguh bersuara atas nama kesejahteraan masyarakat, bukan sebagai jalan pintas untuk menemukan akses agar bisa duduk di kursi pemerintahan?

Menuntut pemerintah untuk menjalankan fungsinya dengan benar adalah tindakan yang tepat dan sudah selayaknya begitu, tetapi apakah perubahan dapat terjadi jika kita hanya berfokus pada hal-hal yang besar? Tentu tidak. Kita juga harus rajin menengok pada hal-hal yang paling kecil, yaitu peran dari masing-masing individu. Karena dari yang kecil itu, perubahan besar akan terjadi.

Masyarakat mengawal dan mengkritik pemerintah tapi juga tidak melupakan tanggung jawab atau peran yang dijalani, sekecil apapun itu. Jika budaya tersebut sudah terbentuk dari lingkup terkecil di individu, keluarga lalu masyarakat, tentu  para petinggi yang kelak akan memimpin negeri ini juga akan berubah.

Memang ini perjalanan yang panjang. Perubahan tidak akan semudah membalikan telapak tangan. Tapi percayalah, hal besar akan terjadi ketika kita setia untuk konsisten pada hal yang kecil.  
 


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo