Islam, Era Digital, dan Kecemasan Diri

Islam, Era Digital, dan Kecemasan Diri

Era digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kehadiran internet, media sosial, dan berbagai teknologi komunikasi yang canggih membuat manusia dapat memperoleh informasi, berkomunikasi, bekerja, belajar, dan membangun relasi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Di satu sisi, perkembangan tersebut memberikan banyak kemudahan, namun di sisi lain kehidupan digital juga melahirkan persoalan baru, salah satunya adalah kecemasan diri.

Kecemasan pada dasarnya merupakan bagian dari pengalaman manusia. Seseorang dapat merasa cemas karena memikirkan masa depan, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, hubungan sosial, maupun penilaian orang lain. Akan tetapi, di era digital, kecemasan dapat menjadi semakin kompleks. Media sosial membuat seseorang terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, lebih kaya, lebih gaya, atau lebih produktif.

Tanpa disadari, seseorang kemudian membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Berawal dari pandangan tersebut dapat menimbulkan kecemasan pada diri seseorang.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan kecemasan di era digital bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga berkaitan dengan persoalan spiritual. Islam memberikan perspektif yang mendalam tentang bagaimana manusia menghadapi kegelisahan, ketidakpastian, dan tekanan kehidupan.

Hakikat Manusia dalam Islam

Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya terdiri atas tubuh dan akal, tetapi juga memiliki dimensi ruhani. Karena itu, ketenangan hidup tidak cukup hanya dicapai melalui pemenuhan kebutuhan yang bersifat material. Kekayaan, popularitas, dan keberhasilan duniawi tidak selalu menjamin ketenteraman hati.

Dalam konteks ini, Al-Qur'an memberikan penjelasan: 

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin memiliki hubungan erat dengan kedekatan manusia kepada Allah. Zikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan kesadaran bahwa manusia memiliki tempat untuk bersandar ketika menghadapi berbagai problematika kehidupan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, manusia sering kali kehilangan ruang untuk melakukan refleksi. Ponsel selalu berada di tangan, notifikasi datang silih berganti, dan media sosial terus menawarkan berbagai informasi baru. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kelelahan mental karena pikirannya tidak pernah benar-benar beristirahat.

Islam mengajarkan pentingnya ketenangan, kesadaran, dan pengendalian diri, karena kehidupan tidak seharusnya dijalani dengan terus-menerus mengejar apa yang sedang ditampilkan oleh dunia digital.

Media Sosial dan Budaya Perbandingan

Salah satu sumber kecemasan terbesar di era digital adalah budaya membandingkan diri. Media sosial memungkinkan seseorang melihat pencapaian orang lain setiap saat. Foto perjalanan, rumah mewah, pekerjaan yang sukses, penghargaan, gaya hidup, hingga kebahagiaan keluarga dapat muncul di layar dalam hitungan detik.

Masalahnya, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Manusia cenderung menampilkan sisi terbaik dirinya dan menyembunyikan kesulitan yang sedang dihadapi. Jika seseorang membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan “versi terbaik” kehidupan orang lain di media sosial, maka rasa tidak cukup, iri, rendah diri, dan cemas sangat mungkin bisa muncul.

Islam mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam iri hati dan orientasi berlebihan terhadap kepemilikan orang lain.  Allah memberikan penjelasan agar manusia tidak berharap terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain sebagaimana terdapat pada surat An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ

Artinya: "Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain"

Pesan tersebut relevan dengan kehidupan digital. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus menjadi ukuran keberhasilan diri kita. Setiap manusia memiliki jalan, kemampuan, rezeki, ujian, dan waktunya masing-masing.

Kecemasan terhadap Penilaian Orang Lain

Media sosial juga menciptakan ruang baru bagi manusia untuk mencari pengakuan. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, dan jumlah tayangan terkadang dianggap sebagai ukuran harga diri. Seseorang dapat merasa bahagia ketika mendapat banyak apresiasi, tetapi merasa kecewa atau bahkan tidak berharga ketika unggahannya tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Islam memberikan penegasan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh popularitasnya di hadapan manusia. Kemuliaan seseorang di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaannya, hal tersebut terdapat dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ 

Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa."

Prinsip ini penting untuk membangun kesehatan mental di era digital. Manusia perlu membedakan antara “nilai diri” dan “penilaian publik”. Jumlah pengikut bukan ukuran ketakwaan. Banyaknya tanda suka bukan ukuran kemuliaan. Popularitas bukan jaminan bahwa seseorang memiliki kehidupan yang damai.

Islam Mengajarkan Tawakal, Bukan Pasrah

Menghadapi kecemasan bukan berarti manusia harus berhenti berusaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Manusia diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, tetapi menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah.

Dalam kehidupan digital, kecemasan sering muncul karena manusia ingin mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya: komentar orang lain, algoritma media sosial, pendapat publik, masa depan, dan keberhasilan orang lain.

Tawakal mengajarkan bahwa setelah melakukan usaha secara maksimal, manusia menyerahkan hasil kepada Allah. Sikap ini bukan berarti pasif, tetapi membebaskan hati dari keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu.

Tabayun di Tengah Banjir Informasi

Kecemasan di era digital juga dapat muncul karena banjir informasi. Berita buruk, konflik, bencana, isu politik, kriminalitas, dan berbagai informasi menakutkan dapat diterima seseorang setiap hari. Jika tidak disikapi secara bijak, informasi tersebut dapat menimbulkan ketakutan dan kegelisahan.

Islam memiliki konsep tabayun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 dijelaskan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu."

Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan digital. Tidak semua informasi yang viral adalah benar, begitu juga tidak semua judul berita mencerminkan isi berita, serta tidak semua unggahan di media sosial layak dipercaya.

Karena itu, literasi digital dalam perspektif Islam bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga akal, lisan, dan hati. Menyaring informasi berarti menjaga diri dari kecemasan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Islam juga mengajarkan manusia agar menghargai waktu. Dalam QS. Al-'Ashr, Allah bersumpah dengan waktu dan mengingatkan manusia tentang pentingnya menggunakan waktu secara benar.

Persoalan muncul ketika teknologi yang seharusnya menjadi alat justru mengendalikan manusia. Seseorang berniat membuka media sosial selama lima menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi produktivitas, mengganggu tidur, mengurangi interaksi sosial, dan meningkatkan kelelahan mental.

Karenanya, seorang Muslim perlu memiliki disiplin digital. Tidak semua notifikasi harus segera dibuka, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua informasi harus dikonsumsi, bahkan tidak semua komentar perlu direspons.

Pada akhirnya, Islam menawarkan jalan spiritual untuk menghadapi kecemasan yakni memperkuat hubungan dengan Allah. Sholat, doa, zikir, membaca Al-Qur'an, berbuat baik, bersedekah, dan membangun hubungan sosial yang sehat dapat menjadi bagian dari upaya menemukan kembali ketenangan batin.

Di tengah dunia digital yang bergerak semakin cepat, manusia membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak, menyadari dirinya, dan kembali kepada Allah. Sebab, teknologi dapat menghubungkan manusia dengan jutaan orang di seluruh dunia, tetapi hanya kedekatan kepada Allah yang dapat menghadirkan ketenteraman yang lebih mendalam dalam hati.

Dengan demikian, menghadapi kecemasan di era digital dalam perspektif Islam bukan sekadar mengurangi penggunaan gawai, tetapi juga membangun cara pandang hidup yang lebih sehat yaitu memperkuat iman, menjaga pikiran, menyaring informasi, menghindari perbandingan sosial, mengendalikan diri, berikhtiar, dan bertawakal. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Prof. Idrus Ruslan
Dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo