Penggerak Kata dan Omongan Orang Pintar

Penggerak Kata dan Omongan Orang Pintar

Dua tahun setelah kejatuhan rezim Orde Baru, terbit buku berjudul Aku Ingin Jadi Peluru. Kita mengerti judul itu “keras” dan “menantang”. Buku dokumentatif menempatkan Wiji Thukul sebagai penggubah puisi dan pengganggu kekuasaan. Kita makin mengerti dampak kata dalam judul: “peluru”. Ingatan bermunculan gara gara peluru: militerisme, represi, otoritarianisme, subversi, atau demokratisasi.

Buku terbitan Indonesiatera (2000) memberi kehormatan bagi Wiji Thukul dalam kancah kesusastraan di Indonesia. Nama makin besar dan berpengaruh. Ia melampaui babak-babak saat bersastra di Solo dan menunaikan kerja keras dalam penghidupan keseharian. Puisi-puisi diterbitkan menjadi buku mengeratkan sastra dan politik, berlatar Indonesia masa Orde Baru dan episode setelah 1998.

Pihak redaksi memberi penjelasan: “Wiji Thukul muncul dalam sebuah ruang yang khusus di tengah wacana kekerasan yang menekannya selama puluhan tahun. Ia adalah seorang penyair yang gigih dalam memperjuangkan gagasannya maupun dalam memperjuangkan hidup dan kebenaran-kebenaran yang diyakininya.” Kita sedikit mendapat keterangan sumber-sumber puisi diperoleh untuk dikumpulkan menjadi satu buku. Redaksi condong memasalahkan puisi-puisi dan kekuasaan, menepikan sumber dan babak Wiji Thukul berusaha menghadirkan puisi agar terbaca publik “nasional”.

Pada masa 1980-an, orang-orang ingin mendapat pengakuan dengan pertarungan mengirim puisi ke pelbagai koran dan majalah nasional. Horison dan Kompas menjadi alamat terimpikan. Sekian penggubah puisi kadang memilih alamat-alamat berbeda. Kita mengingat majalah Hai. Di situ, ada Arswendo Atmowiloto. Dulu, majalah Hai memiliki rubrik memuat puisi.

Di majalah Hai, 1-7 Desember 1987, Arswendo Atmowiloto berkomentar tentang puisi gubahan Wiji Thukul: “… Sketsa I, ada suasana tertentu yang muncul. Suasana dari suatu keinginan berdialog, berdekatan sekaligus juga keraguan bahwa akhirnya akan ‘hapus oleh waktu’. Tapi pada Sketsa II, pilihan kata menjadi tidak karuan, malah kata cermin pakai huruf C besar. Tujuh baris di atas membingungkan, padahal maunya cuma bilang ‘sajak musti dibaca dari dalam’.

Kita masih bisa menemukan deretan kalimat dan keputusan Arswendo Atmowiloto memuat puisi-puisi Wiji Thukul. Orang-orang mungkin lupa atau tak mengira biografi Wiji Thukul pernah berkaitan majalah digemari ribuan pembaca di Indonesia. Kini, kita mudah menuduh Wiji Thukul membuat puisi-puisi taraf “remaja” atau ingin berterima dalam siasat-baca kaum remaja.

Penulisan nama penggubah puisi: Wiji Thukul Wijaya. Nama belakang itu perlahan “menghilang” atau tak teringat. Dua puisi dibaca kaum remaja, belum condong menampilkan tanggapan politik atau protes sosial. Pemuatan dalam majalah Hai saat Wiji Thukul berusia 24 tahun. Ia dalam gejolak bersastra dan sadar pertarungan hidup. Puisi-puisi ditulis kadang untuk capaian estetika atau “limpahan” dari beragam perkara ditanggungkan.

Kita mengutip dari “Sketsa II” untuk mengetahui olah kata dan kemungkinan raihan makna saat dinikmati para pembaca: siapakah yang tersenyum di depan mataku/ semuanya musti dibalik/ agar tidak terbalik/ semua tulisan harus dibalik/ agar bisa terbaca/ sajak musti dibaca dari dalam. Ia bermasalah dengan “cermin”. Pembaca mengandaikan turut berada di depan cermin. Pengalaman bakal membenarkan: “terbalik”. Dua puisi dimuat di majalah Hai tak diikutkan dalam buku Aku Ingin Jadi Peluru. Puisi mungkin tak selaras atau berbeda alur dari pilihan redaksi.

Pada 1993, terbit buku berjudul Forum Penyair Jawa Tengah. Buku tipis dan jarang mendapat pembahasan. Di situ, hadir puisi gubahan Wiji Thukul (1991) berjudul “Kami Masih Dikepung”.  Puisi dalam kadar berbeda dari babak di majalah Hai. Gugatan tampak terbaca ketimbang memberatkan keluhan. Puisi dalam arahan protes.

Ia menulis: kami masih dikepung/ kuman penyakit tak bernama/ merekalah yang merenggut/ nyawa bayi tetangga kami/ yang tiba-tiba mati/ dengan tubuh hitam gosong// dokter tak pernah mengatakan apa penyebabnya/ sebab kami tak mampu membayarnya/ rumah sakit pun menolak kami// begitu mudah kematian datang dan pergi/ ke kampung kami. Pembaca ikut merasakan getir dan duka dialami keluarga dan warga miskin di kampung. Mereka sulit “melawan” akibat kemiskinan. Pengetahuan terbatas tanpa ada kemungkinan mendapat penjelasan-penjelasan terpenting. Kutukan bagi kaum miskin disajikan Wiji Thukul itu pembuktian kepekaan dan janji perlawanan dengan sastra. Pada masa 1990-an, perlawanan makin kuat dan besar.

Kita tak menemukan puisi itu saat membuka buku Aku Ingin Jadi Peluru. Kita menduga puisi gagal lolos seleksi redaksi atau puisi itu belum diketahui. Ingatan puisi-puisi lama gubahan Wiji Thukul berlanjut dengan membuka halaman-halaman buku berjudul Suara Sebrang Sini (1993). Redaksi buku menjelaskan: “… berisi sejumlah puisi ditulis oleh orang-orang dengan latar belakang sosial-ekonomi-geografi-politis berbeda satu sama lain. Tetapi, ada nada yang hampir sama, yang bisa kita jumpai dalam puisi-puisi mereka: keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi yang sedang berlangsung di kiri-kanan sekitar kita.”

Pembaca berjumpa puisi gubahan Wiji Thukul (1992) berjudul “Maklumat Penyair”. Puisi keras dan berani. Kita mengutip: pernah bibir pecah/ ditinju/ tulang rusuk/ jadi mainan tumit sepatu/ tapi tak bisa mereka/ meremuk kata-kataku// seperti rampok/ mereka rebut tasku/ mereka geledah aku/ darah tetes di baju/ tapi mereka tak bisa/ rebut senjataku: kata-kataku.

Kita kembali ke masa 1990-an. Wiji Thukul tak hendak menjadi pengarang mabuk ketenaran dan meraih estetika tertinggi dalam kancah kesusastraan. Ia hadir dalam misi sastra-terlibat dan sastra-perlawanan.

“Maklumat Penyair” pernah dimuat lagi dalam buku berjudul Para Jenderal Marah-Marah (2013) terbitan Tempo. Perbedaan terlihat dari tempat dan waktu penulisan. Di edisi buku lama, terbaca: Jakarta, 6-7 Oktober 1992. Di buku edisi Tempo terjadi perubahan: Jakarta, November 1993. Perbedaan itu mengharuskan pelacakan dan penjelasan “tepat” agar kehadiran puisi tak meragukan dalam kancah sastra-perlawanan di Indonesia. 

Ledekan diajukan Wiji Thukul (1993) dalam puisi berjudul “Mendongkel Orang-Orang Pintar”. Ia mengerti siasat dalam melawan dusta, ketidakadilan, represi, dan pembodohan di Indonesia. Siasat berbeda dari orang-orang pintar sebagai “kaum omong”. Wiji Thukul mengungkapkan: aku tak tergetar lagi/ oleh mulut orang-orang pintar/ yang bersemangat ketika berbicara/ dunia bergerak bukan karena omongan.

Wiji Thukul memang sosok tak memiliki jenjang pendidikan tinggi. Sekolah itu kesulitan terbesar di keluarga. Kita mengetahui dari penggalan-penggalan biografis ditaruh dalam puluhan puisi. Pada saat misi perubahan harus terwujud, Wiji Thukul meragu peran kaum pintar atau kaum omong. Kita beruntung masih menemukan puisi di buku lama, tak ditampilkan lagi dalam buku Aku Ingin Jadi Peluru. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo