Arina.id - Banyak imam di beberapa masjid, khususnya di perkotaan yang membaca lafadz ملك dengan memendekkan mim di rakaat kedua setelah membaca panjang di rakaat pertama. Tindakan ini seakan tidak sesuai dengan tuntunan madzhab Syafi’iyah yang sudah menjadi pedoman berfiqih masyarakat muslim Nusantara. Syafi’iyah membaca panjang mim lafadz ملك sebagaimana membaca basmalah dalam Fatihah.
Bacaan panjang atau pendek mim lafadz Maliki adalah terkait perbedaan riwayat bacaan yang sama-sama mu’tabarah (kredibel) dan termasuk bacaan qiraah sab’ah. Syekh Muhammad Amin al-Harari menjelaskan perbedaan bacaan ini dalam tafsirnya sebagai berikut:
قرأ مالِكِ على وزن فاعل بالخفض عاصم، والكسائي، وخلف في اختياره، ويعقوب، وهي قراءة العشرة المبشرة إلّا طلحة، والزبير، وقراءة كثير من الصحابة منهم: أبيّ، وابن مسعود، ومعاذ، وابن عباس، والتابعين منهم: قتادة، والأعمش. وقرأ ملك على وزن فعل بالخفض باقي السبعة، وزيد، وأبو الدرداء، وابن عمر، والمسور، وكثير من الصحابة والتابعين
Artinya: "Maliki dibaca panjang adalah qiraah Ashim, Kisa’i, Khalaf, Ya’qub, dan bacaan ini termasuk qiraah 10 kecuai Thalhah, dan Zubair, dan juga bacaan sebagian sahabat di antaranya Ubay, Ibnu Mas’ud, Mu’adz, Ibnu Abbas, dan juga bacaan Tabi’in seperti Qatadah, dan A’masy. Maliki dibaca pendek adalah bacaan qiraah sab’ah selain Ashim, dan Kisa’i, juga bacaan Zaid, Abu Darda’, Ibnu Umar, Musawar, dan banyak dari para sahabat dan tabi’in." (Hada’iqur Ruh war Raihan, [Beirut: Dar Thuqin Najat, 2001], juz 1, hal. 67.)0.
Sekilas memang menjadi masalah jika membaca pendek lafadz Maliki karena mengakibatkan berkurangnya jumlah huruf Fatihah. Hal ini tentu bisa memengaruhi keabsahan sholat karena Fatihahnya tidak sah. Sebagaimana catatan Syekh Nawawi Banten berikut:
والثالث مراعاة حروفها وهي مائة وثمانية وثلاثون بالإبتداء بألفات الوصل, واما اذا عد الشدات حروفا مع عد الفي صراط في الموضعين والفي الضالين وضم ذلك مع المئة والثمانية والثلاثين صارت الجملة مائة وستة وخمسين بإثبات الف مالك وخمسة وخمسين بحذفها ولو اسقط حرفا منها لم تصح صلاته
Artinya: "Syarat sah Fatihah ketiga adalah menjaga bacaan huruf-hurufnya yang berjumlah 138 dengan menghitung alif washal, jika dihitung dengan menyertakan tasydid dan alif seperti dalam kata صراط dan الضالين dan ditambah dengan jumlah awal menjadi 156 huruf dengan mengitung alif lafadz مالك, dan menjadi 155 jika tidak menghitungnya. Jika satu huruf saja tidak terbaca maka sholatnya tidak sah sebab fatihahnya tidak sah." (Kasyifatus Saja, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 2011], hal. 244.).
Namun, perlu diteliti kembali bahwa catatan dalam madzhab Syafi’i juga mempertimbangkan bacaan lafadz Maliki dengan memendekkan mim. Terdapat dua opsi hitungan huruf Fatihah antara 156 dengan 155 huruf seperti catatan al-Bantani.
Hal itu secara implisit menunjukkan bahwa membaca pendek mim lafadz Maliki tidak memengaruhi keabsahan Fatihah bagi penganut madzhab Syafi’i. Penulis belum menemukan pakar madzhab Syafi’i yang mempermasalahkan hal ini dan mayoritas ulama mengakui bahwa bacaan pendek mim lafadz Maliki termasuk bacaan yang kredibel dan otoritatif.
Literatur Syafi’iyah yang menyinggung problematika ini secara eksplisit bisa ditemukan dalam catatan Syekh Ibrahim al-Baijuri sebagai berikut:
وكان بعض العلماء يقرأ في الركعة الأولى (مَالِك) بإثبات الألف، وفي الثانية (مَلِك) بحذفها، لأنه يسنّ تطويل الأولى على الثانية ولو بحرف
Artinya: "Sebagian ulama ada yang membaca panjang mim lafadz Maliki di rakaat pertama dan membaca pendek di rakaat kedua dengan alasan sunnah memperpanjang bacaan di rakaat pertama meskipun hanya satu huruf." (Hasyiyah al-Baijuri ala Syarh Allamah Ibn Qasim al-Ghazi, [Beirut: Darul Minhaj, 2016], juz 1, hal. 595.).
Habib Zain bin Smith mencatat masalah ini dan tidak menjadikan hal ini sebagai polemik yang berimbas kepada sah dan tidaknya Fatihah, akan tetapi kepada mana yang lebih utama. Berikut catatan beliau:
قال بعضهم إنّ قراءة (مَالِك) في الفاتحة أفضل لزيادة الحرف، ولكل حرف عشر حسنات، وفضل بعضهم قراءة (ملك) لأنه أصح قراءة، وكان الحبيب علي الحبشي قرأ في الركعة الأولى ب (مَالِك) وفي الثانية ب (مَلِك)
Artinya: "Sebagian ulama mengatakan membaca panjang mim lafadz Maliki dalam fatihah lebih afdhal sebab menambah satu huruf sama dengan menambah sepuluh kebaikan, sedangkan ulama lain sebaliknya dengan alasan bacaan pendek lebih sahih riwayatnya. Habib Ali al-Habsi membaca panjang di rakaat pertama dan membaca pendek di rakaat kedua. (Al-Fawaid al-Mukhtarah li Saliki Thariqil Akhirah," [Pasuruan: Darul Lughah wad Da’wah, 2008], hal. 121.).
Walhasil, membaca panjang atau pendek mim lafadz Maliki ketika membaca surat al-Fatihah dalam sholat menurut madzhab Syafi’i adalah boleh dan tidak berpengaruh terhadap batal atau tidaknya sholat. Kedua bacaan tersebut adalah kredibel dan otoritatif sesuai dengan qiraah sab’ah.
Membaca panjang di rakaat pertama dan membaca pendek di rakaat kedua adalah sebuah bentuk praktik dua bacaan yang sah. Bahkan bisa dikategorikan praktik kesunnahan. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor:


