Jelang Ramadan, Yuk Pahami 3 Etika Sahur yang Baik menurut Islam

Jelang Ramadan, Yuk Pahami 3 Etika Sahur yang Baik menurut Islam

Arina.id - Menjelang Ramadan, kita kembali diingatkan pada momen sahur yang penuh berkah. Dalam keadaan masih mengantuk, kita berusaha menyantap makanan agar tubuh tetap prima sepanjang hari. Namun, sahur bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membangun kesadaran spiritual.

Melalui sahur, kita diajak untuk mengamalkan setiap sunnah Rasul yang memiliki nilai pahala begitu besar. Kita tahu pada bulan puasa, Allah memberikan pahala berkali lipat dari setiap ibadah yang kita kerjakan.

Sahur yang dilakukan dengan penuh kesadaran spiritual akan memberi dampak positif bagi ibadah puasa. Oleh karena itu, Islam mengajarkan etika sahur yang baik agar tidak hanya menjadi kebiasaan fisik, tetapi juga ibadah bernilai pahala.

Berikut adalah beberapa etika sahur yang bisa kita terapkan agar puasa kita lebih bernilai.

1. Mengakhirkan Waktu Sahur

Salah satu tujuan utama sahur adalah sebagai bekal fisik agar tubuh tetap prima saat berpuasa, sehingga ibadah dapat dijalani dengan lebih baik. Oleh karena itu, Islam menganjurkan untuk mengakhirkan waktu sahur agar energi yang diperoleh bisa bertahan lebih lama.

Anjuran ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW berikut:

بَكِّرُوْا بِالإفْطَارِ وَأَخِّرُوْا السَّحُوْرَ.

Artinya: “Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” (HR Ibnu ‘Addi)

Terkait berapa jarak waktu antara sahur dan Subuh yang dianjurkan, Nabi menyampaikan kurang lebih setara dengan waktu untuk membaca 50 ayat Al-Qur’an. Dalam satu hadits diriwayatkan,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُوْرِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Artinya: “Dari Zaid bin Tsabit RA, dia berkata, ‘Sekali waktu kami sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian beliau beranjak untuk melaksanakan sholat.’ Zaid bertanya, ‘Berapa jarak waktu antara adzan subuh dengan sahur?’ Nabi menjawab, ‘Kurang lebih setara lama waktu membaca 50 ayat Al-Qur’an.” (HR Bukhari)

2. Tetap Sahur Meski Sudah Kenyang

Meskipun tujuan utama sahur adalah menjaga stamina selama berpuasa, bukan berarti seseorang tidak dianjurkan lagi melakukannya jika sudah merasa kenyang. Sahur tetap disunnahkan karena mengandung keberkahan dan menjadi bentuk ittibā’ atau mengikuti sunnah Rasulullah.

Bahkan, jika perut sudah penuh hingga tidak mampu makan lagi, seseorang tetap dianjurkan untuk sahur meski hanya dengan seteguk air atau sesuap nasi, asalkan diniatkan untuk sahur.

Anjuran ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang mendatangkan keberkahan. Rasulullah SAW sendiri menekankan pentingnya sahur bagi umatnya sebagai salah satu keistimewaan puasa dalam Islam. Oleh karena itu, meskipun hanya dalam jumlah sedikit, tetaplah berusaha makan atau minum agar memperoleh keberkahan sahur yang akan menyempurnakan ibadah puasa di siang hari.

السَّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلا تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

Artinya: "Makan sahur adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walau hanya meminum seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang yang makan sahur." (HR Ahmad)

Dalam hadits lain, Rasulullah juga mendoakan umat Islam yang melaksanakan sahur. Beliau bersabda,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِيْ فِيْ سَحُوْرِهَا، تَسَحَّرُوْا وَلَوْ بِشَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ، وَلَوْ بِتَمْرَةٍ، وَلَوْ بِحَبَّاتٍ زَبِيْبٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ.

Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku dalam makan sahurnya. Makan sahurlah kalian meskipun hanya dengan seteguk air, meskipun dengan satu kurma, meskipun dengan beberapa biji anggur, karena sesungguhnya para malaikat mendoakan kalian.”

3. Jangan Sahur Terlalu Kenyang

Tujuan utama puasa adalah menahan hawa nafsu dengan mengosongkan perut. Oleh karena itu, jangan sampai tujuan ini tidak tercapai akibat sahur yang berlebihan hingga terlalu kenyang. Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin menjelaskan bahwa perut yang kenyang justru dapat meningkatkan syahwat, sementara syahwat merupakan pintu utama bagi setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan maksiat. (Al-Ghazali, 2016: Juz 1, h. 318-319).

Selain itu, perut yang terlalu penuh juga dapat membuat seseorang malas dalam beribadah. Jangan sampai bulan Ramadan yang penuh berkah menjadi sia-sia hanya karena kurangnya semangat dalam menjalankan amalan sunnah. Rasulullah SAW sendiri dalam banyak kesempatan memperingatkan umatnya tentang bahaya makan secara berlebihan.

Dalam salah satu hadits disebutkan:

عَنْ عَطِيَّةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ سَمِعْتُ سَلْمَانَ وَأُكْرِهَ عَلَى طَعَامٍ يَأْكُلُهُ فَقَالَ حَسْبِي أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Artinya: “Dari 'Athiyyah Ibnu 'Amir al-Juhani, dia berkata, "Aku mendengar Salman berkata (saat) ia dipaksa untuk memakan sebuah suguhan, 'Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya orang yang paling kenyang di dunia adalah orang yang paling lapar di hari kiamat kelak.’” (HR Ibnu Majah)

Mari kita manfaatkan momen sahur selama Ramadan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dengan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam setiap aktivitas sahur, insya Allah, puasa kita akan memiliki makna yang lebih dalam.

Sahur bukan sekadar rangkaian ibadah puasa, tetapi juga kesempatan untuk maraih lebih banyak lagi pahala di bulan mulia. Semoga Ramadan kali ini menjadi bulan yang penuh berkah dan meningkatkan ketakwaan kita. Marhaban ya Ramadan!


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo