Arina.id - Sudah menjadi tradisi di tengah keluarga Muslim merayakan kelahiran seorang bayi dengan melaksanakan aqiqah. Aqiqah sendiri merujuk pada hewan yang disembelih pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi tersebut.
Menyembelih hewan untuk aqiqah hukumnya adalah sunah yang sangat dianjurkan (muakkadah). Rasulullah SAW juga pernah bersabda mengenai hal ini sebagai bentuk penegasan dianjurkannya aqiqah:
الغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُسَمَّى، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ
Artinya: “Seorang bayi itu digadaikan dengan (jaminan) aqiqahnya, aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh (dari hari kelahiran), (pada hari itu pula) si bayi diberi nama dan dipotong rambutnya.” (H.R At-Tirmidzi)
Lazimnya, hewan yang digunakan untuk aqiqah sama dengan ketentuan dalam kurban. Baik dari segi jenis, usia, maupun kriterianya. Kesunahan aqiqah berlaku bagi orang yang bertanggung jawab menafkahi anak tersebut, biasanya ayah atau kakeknya jika sang ayah tidak mampu.
Seorang ayah dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah bagi anaknya selama ia mampu, waktu pelaksanaan aqiqah mulai dari hari ketujuh kelahiran hingga maksimal enam puluh hari hari setelahnya.
Namun, karena kondisi anak pada umumnya belum memiliki penghasilan sendiri walaupun sudah mencapai usia baligh terlebih jika anak itu masih sekolah, sehingga kebanyakan orang tua yang belum mengaqiqahi anaknya ketika masih kecil berinisiatif untuk mengaqiqahi anaknya kembali saat sudah baligh.
Lantas, bolehkah orang tua mengaqiqahi anaknya yang sudah baligh?
Sebelumnya, perlu dipahami bahwa terdapat beberapa tanda khusus yang menunjukkan bahwa seorang anak telah mencapai masa baligh. Menurut Syekh Salim bin Samir Al-Hadlrami (wafat 1271 H) dalam karyanya, terdapat tiga indikator utama yang menandai seorang anak telah menginjak usia baligh:
تَمَامُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً فِيْ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى، وَالْاِحْتِلَامُ فِيْ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ، وَالْحَيْضُ فِيْ الْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ
Artinya: “Ketiga tanda baligh itu adalah sempurnanya umur lima belas tahun bagi anak laki-laki dan perempuan, keluarnya sperma setelah berumur sembilan tahun bagi anak laki-laki dan perempuan, dan menstruasi atau haid setelah berumur sembilan tahun bagi anak perempuan.” (Safinah An-Naja Fima Yajibu Ala Al-Abdi Limaulahu (Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah), h. 34)
Merujuk literatur fiqih, pada dasarnya anjuran orang tua mengaqiqahi anaknya sudah tidak berlaku lagi setelah anak tersebut mencapai usia baligh atau dewasa. Sebaliknya, lebih dianjurkan bagi anak itu sendiri untuk melaksanakan aqiqah atas dirinya jika mampu.
Berkenaan dengan hal ini, Syekh Nawawi Al-Bantani (wafat 1315 H) dalam salah satu karyanya menyatakan:
فَإِنْ تَأَخَّرَتْ أَيْ الذَّبِيْحَةُ (لِلْبُلُوْغِ سَقَطَ حُكْمُهَا فِي حَقِّ الْعَاقِّ عَنِ الْمَوْلُوْدِ) أَيْ فَلَا يُخَاطَبُ بِهَا بَعْدَهُ لِانْقِطَاعِ تَعَلُّقِهِ بِالْمَوْلُوْدِ حِيْنَئِذٍ لِاسْتِقْلَالِهِ، (أَمَّا هُوَ) أَيِ الْمَوْلُوْدُ بَعْدَ بُلُوْغِهِ (فَمُخَيَّرٌ فِي الْعِقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَالتَّرْكِ) أَيْ فَإِمَّا أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفسِهِ أَوْ يَتْرُكَ الْعَقِيْقَةَ، لَكِنِ الْأَحْسَنُ أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفْسِهِ تَدَارُكًا لِمَا فَاتَ
Artinya: “Apabila aqiqah diakhirkan sampai anak dewasa, maka hukum anjuran aqiqah menjadi gugur. Bagi orang yang mengaqiqahi sang anak yang dilahirkan, maka tidak terbebani dengan aqiqah setelah anak baligh, karena terputusnya hubungan dengan sang anak, sebab anak sudah sendiri (dalam tanggungan). Adapun anak yang sudah baligh, maka boleh untuk memilih untuk mengaqiqahi diri sendiri atau tidak. Akan tetapi lebih baik untuk mengaqiqahi diri sendiri, sebagai pengganti hal yang belum dilaksanakan.” (Tausyikh Ala Fath Al-Qarib Al-Mujib [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 429)
Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi (wafat 1127 H) juga memberikan penjelasan yang serupa. Dalam catatannya, ia menyatakan bahwa orang tua diperbolehkan untuk melaksanakan aqiqah bagi anaknya yang telah mencapai usia baligh. Namun, beliau lebih menganjurkan bagi seseorang yang sudah baligh itu untuk melaksanakan aqiqahnya secara mandiri:
قَوْلُهُ: (إِلَى الْبُلُوْغِ) فَمَنْ أَيْسَرَ بِهَا فِيْ مُدَةِ النِّفَاسِ وَلَمْ يَخْرُجْهَا طَلَبَ مِنْهُ الْعِقُّ إِلَى بُلُوْغِ الصَّبِي فَإِذَا بَلَغَ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَهَا الْوَلِي سُنَّ لِلْصَبِي أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفْسِهِ وَيَسْقُطُ الطَّلّبُ حِيْنَئِذٍ عَنِ الْوَلِي قَالَ الشِّبْرَامُلِسِي وَمَعَ ذَلِكَ لَوْ فَعَلَهَا سَقَطَ الطَّلَبُ عَنِ الْوَلَدِ بَعْدَ ذَلِكَ
Artinya: “Barang siapa yang mampu mengaqiqahi anaknya di masa keluarnya darah nifas dan belum beraqiqah, maka ia masih sunah untuk beraqiqah hingga anak berusia baligh. Apabila sang anak baligh dan belum diaqiqahi, maka sunah bagi anak tersebut untuk mengaqiqahi sendiri. Adapun orang tua sudah tidak sunah lagi untuk mengaqiqahi. Syekh Ali Syibramulisi berkata: Meski demikian, apabila orang tua mengaqiqahi anaknya maka kesunahan aqiqah bagi anak itu sudah gugur.” (Al-Hawasyi Al-Madaniyah Ala Minhaj Al-Qawim [Surabaya: Maktabah Al-Haramain], vol. 2, h. 307)
Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwasanya kesunahan orang tua untuk mengaqiqahi anaknya yang sudah mencapai usia baligh pada dasarnya sudah tidak berlaku lagi. Kendati demikian, orang tua tetap diperbolehkan (disunahkan) untuk mengaqiqahi anaknya yang telah berusia baligh. Namun lebih dianjurkan bagi sang anak yang sudah dewasa tersebut untuk melangsungkan aqiqahnya secara mandiri tanpa bergantung dengan orang tua. Wallahu a’lam bish shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


