Arina.id - Tadarus Al-Qur’an selama bulan Ramadan seolah menjadi keharusan untuk menghidupkan malam-malamnya. Di setiap masjid dan mushala, banyak dilakukan kegiatan tadarus Al-Qur’an. Bahkan, belakangan ini, tadarus juga menjadi tren dilakukan di trotoar, alun-alun, pusat perbelanjaan, dan bahkan di lingkungan perkantoran. Salah satu ciri khas bulan Ramadan adalah semaraknya aktivitas membaca Al-Qur’an di kalangan masyarakat.
Hal ini merupakan ungkapan kegembiraan umat Islam dalam mengisi bulan Ramadan. Banyak masjid, mushala, dan langgar yang menyediakan waktu khusus untuk tadarus, melibatkan berbagai kalangan. Di beberapa daerah, kita sering melihat perempuan, termasuk ibu-ibu, remaja masjid, dan anak-anak perempuan, yang ikut tadarus menggunakan pengeras suara.
Kemudian, bagaimana hukum perempuan yang tadarusan dengan menggunakan pengeras suara di masjid pada momentum bulan Ramadan?
Dalam khazanah fiqih, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah suara perempuan termasuk aurat atau tidak. Mayoritas ulama berpendapat, dan ini merupakan pandangan yang sahih dan kuat, bahwa suara perempuan bukanlah aurat.
Terkait hal tersebut, Syekh Zainuddin Al-Malibari (wafat 987 H) menyatakan dalam kitabnya:
وَلَيْسَ مِنَ الْعَوْرَةِ الصَّوْتُ فَلَا يُحَرَّمُ سَمَاعُهُ إِلَّا إِنْ خَشِيَ مِنْهُ فِتْنَةً أَوْ التَذَّ بِهِ كَمَا بَحَثَهُ الزَّرْكِشِيُّ
Artinya: “Suara bukanlah termasuk aurat, sehingga tidak diharamkan untuk mendengarnya kecuali jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah atau menimbulkan ketertarikan, sebagaimana yang dibahas oleh Imam Az-Zarkasyi.” (Fath Al-Mu’in Bi Syarh Qurrah Al-Ain [Beirut: Dar Ibn Hazm], vol. 1, h. 446)
Salah satu argumentasi yang diajukan untuk mendukung pendapat itu adalah bahwa beberapa sahabat mendengarkan penjelasan dari istri-istri Rasulullah SAW untuk memahami berbagai hukum agama.
Syekh Ali Ash-Shabuni (wafat 1442 H) dalam tafsirnya mengemukakan:
وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَغَيْرُهُمْ إِلَى أَنَّ صَوْتَ الْمَرْأَةِ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ لِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَهَا أَنْ تَبِيْعَ وَتَشْتَرِيَ وَتُدْلِيَ بِشَهَادَتِهَا أَمَامَ الْحُكَّامِ وَلَابُدَّ فِى مِثْلِ هَذِهِ الْاُمُوْرِ مِنْ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالْكَلَامِ... وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ إِذَا أَمِنَتْ الْفِتْنَةُ لَمْ يَكُنْ صَوْتُهُنَّ عَوْرَةً فَاِنَّ نِسَاءَ النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنَّ يَرْوِيْنَ الْأَخْبَارَ وَيُحَدِّثْنَ الرِّجَالَ وَفِيْهِمْ الْأَجَانِبُ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ وَلَا تَأْثِيْمٍ
Artinya: “Para ulama mazhab Syafi’i dan selainnya berpendapat bahwa suara perempuan bukanlah termasuk aurat, sebab perempuan diperbolehkan untuk menjual, membeli, dan memberikan kesaksian di hadapan para hakim. Dalam hal-hal semacam itu, perlu untuk mengangkat suara saat berbicara. Dan yang jelas adalah bahwa jika tidak ada kekhawatiran timbul fitnah, maka suara mereka tidak dianggap aurat. Sebab, para istri Nabi Muhammad SAW biasa meriwayatkan berita dan berbicara dengan para sahabat laki-laki, termasuk di antara mereka yang bukan mahram, tanpa ada celaan atau dosa.” (Rawai Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam [Damaskus: Maktabah Al-Ghazali], vol. 2, h. 167)
Kendati demikian, menurut pandangan Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili (wafat 1436 H) dalam ensiklopedi fiqihnya, mendengarkan suara perempuan yang dinyanyikan atau dibuat merdu, bahkan meski itu adalah bacaan Al-Qur’an, hukumnya haram lantaran dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah:
لَكِنْ يَحْرُمُ سَمَاعُ صَوْتِهَا بِالتَّطْرِيبِ وَالتَّنْغِيمِ وَلَوْ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، بِسَبَبِ خَوْفِ الْفِتْنَةِ
Artinya: “Akan tetapi diharamkan mendengarkan suara perempuan yang dilagukan atau dinadakan walaupun bacaan Al-Qur’an karena khawatir bisa menimbulkan fitnah.” (Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 1, h. 665)
Berdasarkan beberapa referensi yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa hukum perempuan yang tadarusan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara hukumnya diperbolehkan selama tidak menimbulkan fitnah. Hal ini karena mayoritas ulama berpendapat bahwa suara perempuan bukanlah aurat.
Meski begitu, penting untuk memastikan bahwa bacaan Al-Qur’an tidak dinyanyikan atau dibuat merdu, yang dapat menyebabkan fitnah. Sebaiknya, membaca Al-Qur’an dilakukan dengan khusyuk, penuh rasa hormat, dan penghayatan terhadap firman Allah. Wallahu a’lam bish shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


