Hukum Mengucapkan Radhiyallahu anhu atau Rahimahullah

Hukum Mengucapkan Radhiyallahu anhu atau Rahimahullah

Arina.id - Umat Islam sering kali mengucapkan kalimat radhiyallahu anhu ketika nama sahabat Nabi Muhammad SAW disebut dalam suatu forum, majelis ilmu ataupun dalam rangkaian ibadah tertentu. Hal ini seperti saat sesi shalawat yang menjadi iringan sholat tarawih pada bulan suci Ramadhan.

Begitu juga ketika nama salah seorang tabi’in atau ulama disebutkan namanya, biasanya secara refleks umat Islam membaca kalimat rahimahullahu. Apalagi jika melihat atau membaca literatur keislaman, baik itu nama sahabat, tabi’iin dan tidak jarang ulama, namanya selalu beriringan dengan lafadz radhiyallahu anhu atau rahimahullahu.

Ditinjau dari segi makna, kalimat radhiyallahu anhu berarti semoga Allah meridhoinya. Sedangkan kalimat rahimahullah berarti semoga Allah menyayanginya. Kedua-duanya memiliki unsur doa.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana hukumnya seorang Muslim mengucapkan kalimat radhiyallahu anhu atau rahimahullahu yang ditujukan kepada para sahabat, tabi’in ataupun ulama?

Secara umum hukumnya adalah sunnah dan dianjurkan untuk mengucapkan radhiyallahu anhu atau rahimahullahu kepada kalangan sahabat Nabi SAW, tabi’in dan ulama. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat radhiyallahu anhu dipergunakan khusus untuk kalangan para sahabat. Sedangkan, rahimahullahu bisa untuk siapa saja selain mereka.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab. Berikut uraian lengkapnya:

يُسْتَحَبُّ ‌التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَالْعُبَّادِ وَسَائِرِ الْأَخْيَارِ فَيُقَالُ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَوْ رَحِمَهُ اللَّه وَنَحْوُ ذَلِكَ (وَأَمَّا) مَا قَالَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إنَّ قَوْلَ رضي الله عَنْهُ مَخْصُوصٌ بِالصَّحَابَةِ وَيُقَالُ فِي غَيْرِهِمْ رَحِمَهُ اللَّهُ فَقَطْ فَلَيْسَ كَمَا قَالَ وَلَا يُوَافَقُ عَلَيْهِ بَلْ الصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ اسْتِحْبَابُهُ وَدَلَائِلُهُ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ فَإِنْ كَانَ الْمَذْكُورُ صَحَابِيًّا ابْنَ صَحَابِيٍّ قَالَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَكَذَا ابْنُ عَبَّاسٍ وكذا ابن الزبير وابن جعفر واسامة ابن زيد ونحوهم ليشمله واباه جميعا 

Artinya: “Dianjurkan mengucapkan radhiyallahu anhu dan rahimahullahu untuk para sahabat, tabi’in. Begitu juga orang-orang setelahnya dari kalangan ulama, ahli ibadah dan segenap orang baik, maka diucapkan pula radhiyallahu anhu, rahimahullahu ataupun kalimat yang serupa dengan keduanya. Selanjutnya, sebagian ulama berpendapat, bahwa mengucapkan kalimat radhiyallahu anhu khusus ditujukan untuk kalangan sahabat saja. Sedangkan untuk orang-orang selain mereka cukup menggunakan kalimat rahimahullahu. Akan tetapi, yang benar menurut pendapat mayoritas ulama adalah dianjurkan mengucapkan radhiyalahu anhu atau rahimahullahu kepada siapa saja, dalilnya banyak, tanpa ada batasan dalam pengucapannya. Jika tokoh yang disebut namanya dari kalangan sahabat, anak dari sahabat yang lain, contoh, telah berkata Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Begitu juga, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ibnu Ja’far dan Usamah bin Zaid maka disempurnakan (diucapkan) pula kalimat tersebut untuk bapaknya." (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, [Jeddah: Maktabah al-Irsyad, t.t] juz 6, halaman 147)

Berkenaan dengan hal itu, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Husaini juga menyampaikan pendapat terkait kebolehan mengucapkan kalimat radhiyallahu anhu dan rahimahullahu dalam kitabnya yakni Bughyatul Mustarsyidin fii Talkhis Fatawa Ba’dh al-Aimmah min al-Ulama al-Muta’akhirin. Berikut uraian lengkapnya:

و اما الترضّي عن الصّحابة فلم يرد بخصوصه هنا كبين تسليمات التّراوح بل هو بدعة ان اتى به بقصد انّه سنّة فى هذا المحلّ بخصوصه لا ان اتى به بقصد كونه سنّة من حيث العموم لإجتماع المسلمين على سنّ الترضّي عنهم و لعلّ الحكمة فى ترضّي عنهم و عن العلماء و الصّلحاء التّنبيه بعلو شأنهم و التّنبيه بعظيم مقامهم

Artinya: “Adapun mengucapkan radhiyallahu anhu kepada sahabat tidak pernah dinyatakan kekhususannya, seperti pengucapannya di sela-sela salam sholat tarawih. Akan tetapi, hal tersebut merupakan bid’ah (hasanah) jika bertujuan menganggapnya sunnah dalam keadaan khusus ini. Namun, apabila bertujuan menghukuminya sebagai sunnah secara umum sebab kesepakatan kaum muslimin atas kesunnahan mengucapkan radhiyallahu anhu kepada para sahabat, barangkali memiliki nilai hikmah dalam pengucapannya kepada mereka, ulama ataupun orang-orang shaleh sebagai perhatian terhadap tingginya derajat mereka dan perhatian terhadap agungnya kedudukan mereka.” (Abdurrahman bin Muhammad al-Husaini, Bughyatul Mustarsyidin, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 2016] halaman 50)

Demikian penjelasan tentang hukum mengucapkan kalimat radhiyallahu anhu atau rahimahullahu untuk sahabat, tabi’in dan ulama. Wallahua’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhaimin Yasin
Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo