Arina.id - Di tengah tantangan rumah tangga masa kini yang semakin kompleks mulai dari KDRT, perceraian dan masih banyak lagi, sikap pengertian dan kepekaan menjadi kunci penting untuk menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Maraknya kasus perceraian dan ketidakharmonisan keluarga acap kali berawal dari kurangnya saling pengertian dan pemahaman antara pasangan.
Terkait menjadi pasangan yang pengertian dan peka, umat Islam memiliki sosok teladan mulia yang bisa dijadikan contoh. Ia adalah Rasulullah SAW. Segala lini kehidupan Rasulullah merupakan sesuatu yang penting dipelajari dan diteladani.
Banyak sekali sikap dan sifat Rasulullah yang bisa dijadikan uswah hasanah (keteladanan baik) untuk kita jadikan kompas guna menjalani kehidupan. Hal ini banyak disebutkan dalam teks AL-Qur'an dan hadits di antaranya dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah argumen untuk mengikuti Rasulullah SAW, baik dalam hal ucapan (aqwal), tindakan (af’al) ataupun persetujuan beliau (taqrir).Termasuk meneladani beliau dalam berumah tangga.
Dalam berumah tangga, Rasulullah SAW adalah potret suami yang peka terhadap istrinya. Peka di sini dalam artian beliau mudah merasa, mudah paham, dan mengerti apa yang sedang diinginkan pasangannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat mengerti kondisi Aisyah apakah ia sedang marah atau tidak.
Dalam sebuah hadits dijelaskan:
حَدَّثَنَا أَبُو أَسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى قَالَتْ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِينَ: لَا وَرَبِّ مُحَمَّدٍ ، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَي قُلْتِ: لا وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلَّا اسْمَكَ.
Artinya: "Abu Usamah bercerita pada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda padaku: “Sesungguhnya aku tahu ketika kamu marah padaku atau tidak. Aku bertanya, “Dari mana engkau tahu?'” Rasulullah SAW menjawab,: “Jika engkau tidak marah, engkau akan berkata, “Tidak, demi Tuhan Muhammad, dan jika engkau marah maka akan berkata, “Tidak! Demi Tuhan Ibrahim. Aku menjawab, “Betul, wahai Rasulullah. Aku tidak akan meninggalkan namamu.” (Kitab Sahih Bukhari halaman 787)
Itulah teladan Rasulullah SAW dalam berumah tangga menjadi suami yang peka terhadap pasangannya. Beliau bisa memahami kapan Aisyah sedang ridha atau marah kepadanya hanya dengan memperhatikan perubahan kecil dalam ucapannya.
Ketika Aisyah sedang tidak marah, ia bersumpah dengan menyebut nama Allah “Tuhan Muhammad.” Namun, saat marah, ia menggunakan “Tuhan Ibrahim” sebagai gantinya.
Rasulullah SAW menyadari perbedaan ini, dan Aisyah membenarkan pengamatan beliau dengan menegaskan bahwa meskipun ia marah, ia hanya menghindari menyebut nama beliau tanpa mengurangi rasa hormat dan kasih sayangnya.
Tentunya teladan Rasulullah SAW ini patut kita contoh dan praktikkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebab saling mengerti adalah prasyarat utama dalam sebuah ikatan pasangan. Bukankah seringkali dikatakan bahwa jodoh adalah tanasub al arwah (kesesuaian ruh antar kedua pasangan)? Atau dalam bahasa kekinian, jodoh adalah adanya chemistry dalam kehidupan.
Semakin banyak kesesuaian (tanasub) maka semakin baik pula dampaknya bagi bahtera rumah tangga. Memang benar sepasang suami istri adalah dua manusia dengan ide dan pengalaman hidup berbeda, tetapi dengan adanya kesesuaian ini bisa menjadi titik temu dalam perjalanan hidup keduanya. Dan semua itu bisa dicapai dengan modal utama berupa “peka”. Wallahu a’lam bissawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor:


