Memasuki bulan Syawal, umat Islam dianjurkan untuk melakukan puasa selama enam hari. Tepatnya pada tanggal dua Syawal atau pasca hari raya Idul Fitri. Puasa tersebut bernilai pahala setara dengan melakukan puasa selama setahun penuh. Anjuran ini disampaikan oleh Rasulullah saw. yang termaktub dalam salah satu redaksi hadits:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, lantas dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti halnya pahala berpuasa setahun.” (H.R. Muslim)
Di samping mendapatkan keutamaan berupa pahala puasa setahun sebagaimana disebutkan, melakukan puasa enam hari di bulan Syawal dalam tinjauan fiqih mazhab Syafi’i merupakan hal yang disunahkan. Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya menyatakan:
يُسَنُّ صَوْمُ الْاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ وَعَرَفَةِ وَعَاشُوْرَاءِ وَتَاسُوْعَاءِ وَأَيَّامِ الْبِيْضِ وَسِتَّةٌ مِنْ شَوَّالِ وَتَتَابُعُهَا أَفْضَلُ
Artinya: “Disunahkan untuk melaksanakan puasa Senin-Kamis, Arafah, Asyura, dan Ayyam Al-Bidh serta enam hari di bulan Syawal dan lebih utama dilakukan secara berurutan.” (Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin Wa Umdah Al-Muftiyin [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 1, h. 79)
Terdapat beberapa keutamaan yang bisa diraih ssat seseorang melakukan puasa sunah di bulan Syawal. Penulis rangkum setidaknya ada tiga poin keutamaan yang ditulis oleh Imam Ibn Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) dalam karyanya sebagai berikut:
Pertama, sebagai penyempurna puasa Ramadhan, sebagaimana pelaksanaan sholat fardhu bisa disempurnakan dengan mendirikan sholat rawatib atau sholat qabliyah dan ba’diyah. Begitupula, puasa sunah Syawal bisa menyempurnakan puasa Ramadhan. Sebab, kekurangan dalam fardhu bisa di gantikan atau disempurnakan dengan cara melakukan kesunahan.
Kedua, membiasakan diri untuk berpuasa usai berakhirnya puasa Ramadhan. Hal itu merupakan pertanda akan diterimanya puasa Ramadhan yang telah dilakukan. Karena Allah swt jika menerima amal baik hambanya, maka Allah swt akan menganugerahinya untuk senantiasa berbuat baik setelahnya.
Ketiga, sebagai rasa syukur kepada Allah swt yang telah memberikan anugerah dan karunianya yang begitu melimpah di bulan Ramadhan. Hal ini meniscayakan ampunan bagi orang yang melakukannya dan tidak ada nikmat paling agung dibanding diampuninya dosa-dosa:
وَفِيْ مُعَاوَدَةِ الْصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ فَوَائِدٌ عَدِيْدَةٌ: مِنْهَا: أَنَّ صِيَامَ شَوَّالَ وَشَعْبَانَ كَصَلاَةِ الْسُّنَنِ الْرَّوَاتِبِ قَبْلَ الْصَّلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ وَبَعْدَهَا فَيَكْمُلُ بِذَلِكَ مَا حَصَلَ فِيْ الْفَرْضِ مِنْ خَلَلٍ وَنَقْصٍ فَإِنَّ الْفَرَائِضَ تُجْبَرُ أَوْ تُكْمِلُ بِالْنَّوَافِلِ... وَمِنْهَا: أَنَّ مُعَاوَدَةَ الْصِّيَامِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ عَلاَمَةٌ عَلَى قَبُوْلِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَإِنَّ اللهَ إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ... وَمِنْهَا: أَنَّ صِيَامَ رَمَضَانَ يُوْجِبُ مَغْفِرَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْذُّنُوْبِ كَمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ وَأَنَّ الْصَّائِمِيْنَ لِرَمَضَانَ يُوْفُوْنَ أُجُوْرَهُمْ فِيْ يَوْمِ الْفِطْرِ وَهُوَ يَوْمِ الْجَوَائِزِ فَيَكُوْنُ مُعَاوَدَةَ الْصِّيَامِ بَعْدَ الْفِطْرِ شُكْرًا لِهَذِهِ الْنِّعْمَةِ فَلاَ نِعْمَةَ أَعْظَمُ مِنْ مَغْفِرَةِ الْذُّنُوْبِ
Artinya: “Membiasakan berpuasa setelah Ramadhan mengandung pelbagai keutamaan, diantaranya: Puasa Syawal sebagaimana pelaksanaan sholat fardhu bisa disempurnakan dengan mendirikan sholat rawatib atau sholat qabliyah dan ba’diyah. membiasakan diri untuk berpuasa usai berakhirnya puasa Ramadhan merupakan pertanda akan diterimanya puasa Ramadhan yang telah dilakukan. Karena Allah swt. jika menerima amal baik hambanya maka Allah swt. akan menganugerahinya untuk senantiasa berbuat baik setelahnya. Ketiga, selaku rasa syukur kepada Allah swt. yang telah memberikan anugerah dan karunianya yang begitu melimpah di bulan Ramadhan berupa puasa, sebab hal itu meniscayakan ampunan bagi orang yang melakukannya dan tidak ada nikmat paling agung ketimbang diampuninya dosa-dosa.” (Zainuddin Abdurrahman ibn Rajab Al-Hanbali, Lathaif Al-Ma’arif fima li Mawasim Al-‘Am min Al-Wadhaif [Beirut: Dar Ibn Hazm], vol. 1, h. 220).
Beda halnya dengan puasa Ramadhan, teknis pelaksanaan niat puasa Syawal sama seperti puasa sunah lainnya yakni tidak harus di lakukan pada malam hari ataupun sebelum terbitnya fajar. Sehingga, jika niat tersebut dilakukan secara mendadak di waktu pagi maupun siang harinya (sebelum waktu tergelincirnya matahari atau zawal) bagi orang yang hendak berpuasa hukumnya diperbolehkan untuk berniat seketika itu juga.
Ketentuan ini berlaku selama yang bersangkutan belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan lain sebagainya semenjak waktu subuh. Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili (wafat 1436 H) dalam ensiklopedi fiqihnya menegaskan:
وَيَصِحُ صَوْمُ الْنَّفْلِ بِنِيَّةٍ قَبْلَ الْزَّوَالِ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَائِشَةَ يَوْمًا: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ؟ قَالَتْ: لاَ، قَالَ: فَإِنِّي إِذَنْ أَصُوْمُ... وَيُشْتَرَطُ لِصِحَةِ الْصَّوْمِ الْإِمْتِنَاعُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ أَوَّلِ الْنَّهَارِ
Artinya: “Sah melaksanakan puasa sunah dengan melakukan niat sebelum waktu tergelincirnya matahari karena Rasulullah saw. pernah mendatangi Aisyah pada suatu hari di luar Ramadhan lantas berkata kepadanya: Apakah kalian memiliki makan siang? Aisyah lalu menjawab: Tidak. Rasul kemudian menimpali: Maka saya akan berpuasa… Dan disyaratkan akan keabsahan puasa tersebut tercegah dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa semenjak permulaan siang hari.” (Wahbah bin Musthafa Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 3, h. 1673).
Adapun lafal niat puasa Syawal (untuk yang hendak berniat di malam hari) sebagaimana berikut ini:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala.”
Sedangkan, lafal niat puasa Syawal (untuk yang hendak berniat di siang hari) sebagaimana berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah Ta’ala.”
Demikian kejelasan perihal anjuran, keutamaan, dan ketentuan melakukan puasa sunah di bulan Syawal. Semoga kita semua termasuk orang yang dapat senantiasa melakukan amalan ibadah sunah, terlebih yang sudah kita lakukan pada saat bulan suci Ramadhan dan setelahnya. Wallahu a'lam bisshawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


