Nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani saat Memandang Orang Lain

Nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani saat Memandang Orang Lain

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah satu ulama sufi terkemuka yang ajarannya banyak dianut oleh masyarakat Muslim dunia hingga saat ini. Pendiri Tarekat Qadiriyah ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga hati, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di antara ajarannya tersebut adalah selalu tawadhu dan memandang mulia pada orang lain.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha‘ihul Ibad (Semarang, Karya Thoha Putra: t.t) halaman 12, mengutip nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani agar umat Islam tidak memandang rendah pada orang lain, ia mengungkapkan:

إِذَا لَقِيْتَ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ رَأَيْتَ الْفَضْلَ لَهُ عَلَيْكَ وَتَقُوْلُ عَسَى أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ اللهِ خَيْرًا مِنِّي وَأَرْفَعَ دَرَجَةً

Artinya: “Jika kamu bertemu dengan seseorang, lihatlah kelebihannya darimu. Ucapkanlah dalam hatimu; mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”

Secara spesifik, Syekh Abdul Qadir kemudian merinci beberapa orang yang memungkinkan untuk berinteraksi dalam kehidupan , yaitu sebagaimana berikut: 

1. Memandang Anak Kecil

Ketika bertemu dengan anak kecil, hati senantiasa menilai bahwa anak tersebut belum pernah melakukan maksiat kepada Allah, karena belum terkena hukum syara. Kemudian bermuhasabah: "Sementara aku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak itu jauh lebih baik dariku."

2. Memandang Orang Tua

Ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, hendaknya hati menilai bahwa orang tua tersebut lebih baik. Kemudian hati berbisik: "Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku."

3. Memandang Orang Alim

Jika bertemu dengan seorang yang alim atau berilmu, hendaklah menganggap bahwa dia lebih baik karena memiliki keistimewaan berupa ilmu. Hati kemudian mengucapkan: "Orang ini memperoleh karunia yang tidak kudapat, mencapai kedudukan yang tidak kuraih, mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku."

4. Memandang Orang Jahil

Ketika menyaksikan atau bertemu dengan orang jahil hendaknya tidak merasa diri lebih baik darinya. Pasalnya, bisa jadi orang jahil tersebut melakukan perbuatan maksiat karena memang dia tidak mengetahui hukumnya. Syekh Abdul Qadir Jalaini menyarankan saat bertemu dengan orang jahil, hati mengucapkan: "Orang ini bermaksiat kepada Allah karena dia tidak tahu, sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Aku juga tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak".

5. Memandang Non-Muslim

Terakhir, Syekh Abdul Qadir menasihati agar ketika bertemu dengan non-Muslim hendaknya memandang dan berprasangka baik seraya hati berbisik: "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa jadi kelak dia memeluk Islam dan hidupnya berakhir dengan husnul khatimah. Sebaliknya, bisa saja aku kelak terjerumus dalam dosa hingga membuatku suul khatimah".

Demikian nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani saat memandang orang lain. Umat Islam mestinya tidak merasa diri lebih baik dari orang lain karena hal itu akan menjerumuskan pada kesombongan. Wallahu a‘lam.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo