Sajadah untuk Tiduran Kucing, Najiskah?

Sajadah untuk Tiduran Kucing, Najiskah?

Kucing adalah binatang rumahan yang sering kita jumpai dan menjadi salah satu hewan peliharaan yang tidak membahayakan nyawa manusia. Terlebih bagi anak-anak, orang dewasa, dan manula, kucing termasuk binatang kesayangan mereka.

Jenis kucing beragam, ada yang berjenis Anggora, Jawa, Persia, Mesir, dan kucing hasil kawin silang. Sehingga tabiat kucing pun berbeda-beda, sesuai genetika masing-masing. Namun terdapat permasalahan yang sama, yaitu saat kucing seringkali kencing dan buang kotoran sembarangan, lalu tiba-tiba mendatangi sajadah shalat untuk tiduran.

Pertanyaannya, bagaimana status sajadah tersebut? Apakah sajadahnya najis?

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin secara tegas menyatakan:

كل عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة في جنسها كثياب الصبيان و جهلة  الجزارين و المتداينين من الكفار بالنجاسة كأكلة الخنازير ارجح القولين  فيها العمل باﻷصل وهو الطاهرة

Artinya: "Setiap sesuatu yang belum pasti status kenajisannya, akan tetapi najis dan sejenisnya biasa mengenainya, seperti baju anak kecil dan tukang jagal yang bodoh, maka yang paling unggul dari dua pendapat ialah mengamalkan pendapat yang asal, yaitu suci."

Redaksi Bughyatul Mustaryidin di atas semakin diperkuat dalam kitab Majmu’ Muhadzab berkenaan dengan seseorang yang membawa binatang ketika sholat:

( أما حكم المسألة ) فإذا حمل حيوانا طاهرا لا نجاسة على ظاهره في صلاته صحت صلاته ، بلا خلاف

Artinya: "Apabila seseorang dalam sholatnya membawa binatang yang suci tanpa terlihat adanya najis (pada tubuhnya), maka sholatnya sah."

ولو  تنجس منفذ الحيوان الحي كطائر ونحوه فحمله ففي صحة صلاته وجهان ( أصحهما )  عند الغزالي الصحة ، ويعفى عنه كالباقي على محل نجو المصلي ( وأصحهما )  عند إمام الحرمين لا يصح ، وبه قطع المتولي وهو الأصح لعدم الحاجة إلى  احتمالها ، ولو وقع هذا الحيوان في ماء قليل أو مائع لم ينجسه في أصح  الوجهين وقد سبقت هذه المسألة في باب المياه

Artinya: "Apabila (salah satu) jalan keluar binatang yang hidup itu terkena najis seperti burung dan sejenisnya lalu oleh mushalli dibawa sholat, maka terdapat dua pendapat: (1). Bagi Al-Ghazali, pendapat paling sahih adalah sah dan najis itu dimaafkan, (2). Sedangkan bagi Imam Haramain adalah tidak sah, sebab tidak ada kepentingan membawa binatang tersebut. Dan apabila binatang ini jatuh ke dalam air sedikit atau dalam cairan, maka binatang itu tidak memberikan dampak najis pada air tersebut. Ini pendapat paling sahih di antara dua pendapat sebelumnya."

Dari pemaparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kucing yang kencing lalu tiba-tiba tiduran di sajadah dan nampak bekas kencingnya di tubuhnya (biasanya di kaki dan ekor) maka sajadah itu najis. Berbeda jika kucing tersebut tiduran di sajadah tanpa terlihat bekas kencing di tubuhnya, maka sajadah tetap suci.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo