Tobat Kok Diulang-ulang, Apakah Allah masih Menerimanya?

Tobat Kok Diulang-ulang, Apakah Allah masih Menerimanya?

“Jika setan bisa membawa kita dalam dosa berulang kali, maka kita juga bisa membalas dengan tobat berkali kali”. (Buku: Banyak Dosa Tapi Kok Hidup Tenang Tenang Saja)

Arina.id - "Tuhan… akankah Engkau masih menerima tobat hamba-Mu ini?  Berkali-kali hamba mengemis ampunan, namun tetap terjatuh dalam pelukan setan. Lidah ini tak henti berjanji, tapi diri terus mengkhianati. Hamba ingin berubah, ingin lepas dari lingkaran dosa, tapi langkahku selalu goyah. Apakah hamba munafik karena berulang kali bersumpah setia kepada-Mu, namun tetap tergoda oleh dunia? Apakah tobatku masih Kau terima, meski aku terus terjatuh?"

Mungkin itulah pertanyaan dan kegelisahan yang bersemayam di hati kita. Hamba-hamba yang rapuh, yang ingin kembali kepada-Nya, tetapi berulang kali terjatuh dalam kesalahan yang sama.

Ibarat seseorang yang berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mengulangi kesalahan, tetapi tetap melakukannya. Bedanya, Allah selalu melihat kita, menyaksikan setiap pengkhianatan itu secara langsung. Bukankah itu lebih menyakitkan? Lantas, masihkah Allah sudi kembali menerima tobat kita?

Allah, Tuhan Maha Penerima Tobat

Dalam Al Qur’an Surat As Syura ayat 25 Allah telah menegaskan kepada para hambanya bahwa Ia adalah dzat penerima tobat, pun juga mengampuni kesalahan yang telah hambanya lakukan:

وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَۙ 

Artinya: ”Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ulama menafsirkan ayat ini bahwa Allah akan menerima tobat hamba-Nya bahkan ketika ia berdosa di masa mendatang. Dalam artian, Allah telah lebih dahulu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya, meskipun ia belum terjerumus dalam maksiat. Betapa Maha Pemurahnya Allah, yang kasih sayang-Nya melampaui segala dosa, selalu memberi kesempatan bagi hamba-Nya untuk kembali ke jalan-Nya. (Tafsir Al Munir, juz 25 hal. 60)

Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Allah akan selalu menerima tobat hamba-Nya selama ia belum berada di ambang kematian, yaitu saat ruh telah mencapai tenggorokan (sakaratul maut). Ini menjadi motivasi bagi setiap Muslim agar tidak menunda tobat dan selalu berusaha memperbaiki diri sebelum ajal menjemput. 

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ

Artinya: ”Dari Nabi SAW, beliau bersabda:"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke tenggorokan (sakaratul maut).” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan Putus Asa Bertobat, Meskipun Ratusaan Kali Bermaksiat

Dari sini kita bisa memahami bahwa ketika berulang kali bertobat namun tetap juga bermaksiat, Allah akan tetap menerima tobat kita. Meski seseorang jatuh dalam dosa yang sama berkali-kali. Selama tobatnya tulus dan memenuhi syarat, Allah akan selalu memberi kesempatan untuk kembali.

فَإِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ثُمَّ تَابَ وَاجْتَمَعَتْ فِي التَّوْبَةِ شُرُوطُهَا مِنَ النَّدَمِ عَلَى فِعْلِ هَذِهِ الْمَعْصِيَةِ، وَعَزْمِهِ عَلَى عَدَمِ الرُّجُوعِ إِلَيْهَا، وَإِقْلَاعِهِ عَنْهَا فَوْرًا، صَحَّتْ تَوْبَتُهُ، وَإِنْ تَخَلَّفَ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ لَمْ تَصِحَّ تَوْبَتُهُ، فَإِنْ عَادَ إِلَى الذَّنْبِ مَرَّةً أُخْرَى ثُمَّ تَابَ تَوْبَةً صَحِيحَةً بِشُرُوطِهَا صَحَّتْ تَوْبَتُهُ وَهَكَذَا

Artinya: ”Jika seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bertobat dengan memenuhi syarat-syarat tobat, yaitu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta segera meninggalkan maksiat tersebut, maka tobatnya sah. Namun, jika ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi, maka tobatnya tidak sah. Jika ia kembali melakukan dosa yang sama, lalu bertobat lagi dengan tobat yang memenuhi syarat, maka tobatnya tetap sah, dan begitu seterusnya”. (Fatawa As Syabakah Al Islamiyyah, juz 9 halaman 327)

Oleh karena itu janganlah pernah menyerah untuk bertobat, meski sekalipun misalnya setan berhasil menjatuhkan kita ratusan kali ke kubangan maksiat. Bila kita menyerah, tujuan setan akan tercapai yakni memutus hubungan hamba dengan Tuhannya. Setan ingin membuat kita berhenti bertobat, entah karena maerasa putus asa karena mengulang kesalahan yang sama, merasa malu ataupun bisikan yang seolah-olah baik namun sebenarnya menjerumuskan ke lembah kesesatan. Wallahu a'lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo