16 atau 17 Tahun Lalu
Saya lupa tepatnya, yang jelas antara kelas 1 atau 2 STM, di dalam satu rumah yang banyak jendelanya—satu kawan pernah bilang rumah itu jendela semua—berjejer kursi-kursi berpasangan dengan dua meja panjang, di atas ubin. Di dinding putih, terpajang figura rajutan potret Bung Karno, juga almanak.
Dan di pojok ruangan di atas meja kecil di dekat gitar akustik, di situlah ada satu radio tape yang ketika saya dan beberapa kawan berkunjung main, diputarlah lagu-lagu dari kaset Dream Theater, Santana, Mr Big, Red Hot, Metallica, Scorpion, dan beberapa band lainnya.
Rumah itu tempat Setyo Dwi Djonarko alias Kampleng. Ia sangat mengidolakan John Myung bassist dari Dream Theater. Rumahnya berada di desa Jurangbahas, Kecamatan Wangon, Banyumas.
Tahun 2012
Ya, kalau tidak salah ingat, tahun 2012, Dream Theater sempat manggung di Jakarta. Kami sudah lulus dari SMKN 2 Purwokerto. Waktu itu Kampleng sepertinya sudah kerja di Jawa Timur, dan Reza 'Portnoy' Fahlavi tampaknya sedang sibuk lanjut sekolah pelayaran. Lalu ada Ragil Beno Hartadi alias Ramlas kependekan dari Rai Melas—yang pernah menyebut rumah Kampleng itu jendela semua—dan saya menyibukkan masa muda setelah STM dan tidak diterima di Pama, dengan lanjut ke sekolah tinggi; yang satu di teknik dan satunya di jalur agama, di Purwokerto.
Saya dan Ramlas sangat menikmati euforia kedatangan dan konser DT di Jakarta waktu itu. Malam hari sebelum konser DT, kami pantengin beritanya dan nonton TV di rumah kawan. Di TVOne ada acara Radio Show yang menampilkan The Miracle, band asal Jakarta yang membawakan lagu-lagu DT sebagai tribute. Seingat saya, disorot juga situasi-kondisi Mata Elang International Stadium (MEIS) Ancol yang waktu itu sebagai tempat konser DT.
Andaikan... Ah, waktu itu berandai-andai pun tidak. Kami cukup menikmatinya lewat televisi.
Yang Tidak Terbayangkan
Dream Theater menggelar konser 40 tahun (1985-2025), dan ternyata salah satu tujuan turnya adalah Jakarta, Indonesia. Dilangsungkan Sabtu malam, 7 Februari 2026 yang semula di GBK Senayan kemudian dipindah ke Beach City International Stadium (BCIS) Ancol.
Pagi hari di awal bulan September 2025, Reza 'Portnoy' Fahlavi memberi kabar itu via pesan WA. Sore harinya, Reza sudah memesankan 3 tiket. Saya hampir tidak percaya. "Serius, temenan kiye?". "Mangkat kiye nongton DT.." Kira-kira begitu respons saat itu.
Kampleng langsung menelepon saya dan memberi kabar soal 3 tiket itu; Reza dan Kampleng dari Purwokerto akan menginap di tempat saya di Jakarta untuk kemudian kami bertiga nongton konser DT. Ah, betapa anugrah...
Konser 40 Tahun DT di Jakarta
Menonton pertunjukan tiga jam An Evening with Dream Theater: 40th Anniversary Tour 2026, secara umum selain saya bilang di atas itu bahwa sebelumnya sama sekali tidak terbayangkan, juga semua itu sesuai ekspektasi. Bahkan di atas atau beyond ekspetasi. Karena sejujurnya memang saya tidak berekspektasi apa-apa. Lha wong bisa nongton saja senangnya bukan alang kepalang.
Ekspektasi itu muncul dari orang-orang yang pernah nongton langsung konser sebelumnya, atau dari anak-anak Gen-Z yang sok-sokan komen suara vocal-nya Eric Martin, pas kemarin lalu Mr Big manggung di Indonesia.
Konser 40 Tahun DT ini menurut saya memang beyond expectation; selain tirai yang jatuh, panggung, sound, dan lampu-sinar laser, juga kami takjub dengan stamina-energi Petrucci, Myung, Rudess, kembalinya Portnoy, serta tentu teriakan-lengkingan LaBrie itu masih sama seperti pertama kali saya dengar di rumah Kampleng di Banyumas via radio tape sekitar tahun 2009-2010.
Benar, sebelumnya saya pernah bahkan sering dengar kabar ketika orang-orang menonton konser band rock/metal, khususnya band luar seperti Guns N' Roses, Mr Big, dan DT itu katanya tidak perlu lah menaruh ekspektasi berlebih, terutama soal suara vokalis; apakah suara vokalisnya akan sama seperti saat pertama kali kita dengar di kaset, atau akan jauh berbeda dan mengalami penurunan?
Satu contoh dan ini kejadiannya belum lama, yaitu ketika Mr Big main di Indo—yang kemungkinan terakhir kalinya. Saat itu cukup riuh di media sosial dan berisik lah Gen-Z yang barangkali belum lama atau cuma sekali-dua dengar lagu-lagunya Mr Big. Lalu beranilah dia melontarkan komentar atas suaranya Eric Martin yang tidak sesuai ekspektasinya; berbeda dengan apa yang dia dengarkan di Spotify atau YouTube Music.
Dia si Gen-Z tidak salah-salah amat, suara Eric Martin berubah karena memang faktor usia. Dia barangkali tidak mengikuti perjalanan Mr Big sejak awal atau masa-masa prime time Eric Martin dan menonton secara live konsernya. Hal itu juga sering saya dengar ketika orang-orang nongton konsernya Guns N' Roses dan dengar suara terkininya Axl Rose.
Akan tetapi, hal itu tampaknya tidak berlaku bagi Dream Theater dan suara vokalnya James LaBrie yang kini usianya sudah menginjak 62 tahun. Saya lihat dan dengar sendiri secara langsung. Dia masih energik, lari sana-sini—memang sangat sering, karena lagu-lagu DT banyak part instrumennya—juga kerap memutar-mutar kepala seperti duo-serigala (yang mumkin mereka para serigala itu terinspirasi dari LaBrie), dan ya teriakan-teriakan LaBrie seperti masih sama.
Ke-tidakatur-an yang Teratur
Seperti kita tahu, DT sebagai salah satu pionir band progresive rock/metal selalu menghadirkan musik yang eksperimental, struktur lagu yang kompleks, tekniknal, dan ritme/tempo yang bikin kita pun susah untuk mengikutinya dengan menganggukan kepala. Kita akan selalu terkejut akan dibawa ke mana pada part selanjutnya. Saya menyebutnya ke-tidakatur-an yang teratur. Dan semua itu berjalan intens.
Namanya juga Dream Theater, jadi sudah barangtentu pertunjukannya pun sangat teatrikal. Saya menyaksikan ini khususnya ketika DT hendak membuka Act I; laser dan lampu-lampu dari belakang berkelap-kelip menyorot tirai mengikuti intro lagu pembuka. Sekitar 40 detik, snare drum lalu menghentak dan jatuhlah tirai itu: mempersembahkan pertunjukkan dan tampaklah para personel DT memainkan Metropolis - Part I: The Miracle and the Sleeper.
Aaaah.. saya hakulyakin semua penonton di situ sudah pasti merinding dibuatnya. Beberapa orang termasuk saya dibikin sedikit basah di ujung mata. Sialan betul.
Set list konser 40th DT yang dikirimkan Kampleng di grup WA tidak meleset jauh. Ya, kecuali Kampleng, saya dan juga mungkin Reza sudah cukup lama tidak mengikuti lagu-lagu DT. Yang saya tahu malam itu ada beberapa lagu yang dimainkan seperti Overture 1928, The Mirror, dan As I Am di Act I. Kemudian jeda 20 menit. Istirahat untuk lanjut ke Act II, yang salah satunya dimainkanlah Octavarium.
Menurut Kampleng, Octavarium adalah masterpiece dari DT, dengan durasi lagunya yang mencapai 24 menit. Saya tidak bercanda, durasinya memang bisa setara dengan persiapan saya berangkat kerja: mandi 5 menit, berpakaian-ngunyah sesuatu-bersepatu 10 menit, dan nyalain Vespa 9 menit. Saya belum menemukan lagu lain dari band lain dengan durasi sepanjang itu, penuh teknik dan presisi. Secara awam saya dan Reza, “24 menit Octavarium kok bisa ora kelalen, gak lupa.” Bahkan di banyak part instrumental atau yang tidak ada lirik lagunya.
Semua personil DT tentu wajib dan teruji presisi—entah kalau Polri, eh. Contoh lain, saat Petrucci, Myung, Rudess, dan Portnoy bermain tanpa lirik, LaBrie sang vokalis keluar-masuk tengah panggung ya pas waktunya, di part yang tepat. Dan masih bisa ngorong-ngorong, teriak-teriak. Tidak asal teriak.
Semuanya masih tampak enerjik; Mike Portnoy tampak masih sangat bertenaga menggebuk-gebuk drum-set yang besar itu, juga pergerakan jari, kepala, dan tubuh dari John Myung, Jordan Rudess, serta John Petrucci bikin saya geleng-geleng. Kampleng pun bilang DT ini band yang sangat serius-teratur, termasuk dalam menjaga stamina.
Sebelum selesai, ‘gimmick’ lampu meredup dan semua personel pamitan ditampilkan DT. Mengundang jama’ah Dream Theater-iyah serempak meneriakan “We want more… we want more… we want more…”
Sebagai penutup dan akur dengan set list yang dibagikan Kampleng, hits The Spirit Caries On dan Pull Me Under jadi 2 lagu terakhir yang dibawakan. Di bagian setelah melodi-panjang dari Petrucci, entah apa yang menggerakkan saya menarik Kampleng dan Reza untuk sing-along bertiga depan kamera. Dan entah, tidak dapat dijelaskan ekspresi kami bertiga saat itu seperti apa. Yang jelas, usai keluar dari gedung pertunjukkan di BCIS Ancol, Kampleng berseloroh bahwa puncaknya (kenikmatan) konser adalah nonton DT ini. Pas pulang, saya juga menangkap quotes di kaos 'jamaah; Dream Theater-iyah yang bertuliskan: urip mung mampir nonton konser Dream Theater.
Jakarta, 9 Februari 2026
Editor:


