Dark
Light
Dark
Light

Mengarsipkan Cinta lewat Puisi dan Lagu

Mengarsipkan Cinta lewat Puisi dan Lagu

Pagi ini rasa puisi. Saya mendapat sebuah buku susunan Egha Latoya. Iya, dia penyanyi dengan karakter suara lembut dan dalam. Pasti pernah mendengar suaranya, kan? Jika belum, cobalah iseng singgah ke YouTube lalu ketik di pencarian: Egha De Latoya cover Sumpah & Cinta Matiku-Nidji. Sudah? Iya, begitulah dahsyatnya suara Egha. Pendengar yang waras bisa langsung mengidap sindrom galau.

Selain di dunia tarik suara, gadis cantik itu punya kumpulan puisi berjudul Aku yang Tak Bernama di Hatimu (Gramedia, 2004). Kini, bukunya ada di hadapan saya. Dari sekian judul yang tampil, saya pilih yang bertajuk Tak Lagi Sama. 

Pada suatu hari nanti, kita akan sama-sama menjadi asing.
Kita akan sama-sama menimang kerinduan dalam ruang dan
waktu yang tak lagi sama. 
Kita akan sama-sama menerka rasa yang sebenarnya masih
sama-sama tersimpan erat dan tak bisa kemana-mana.
Pada suatu malam, kita akan sama-sama menangis
Dalam satu doa penuh harap.

Puisi ini bagi saya punya cerita menarik. Cinta yang kandas karena tak saling suka lagi, itu biasa. Tapi cinta yang kandas dengan masih membawa rasa sepanjang hidup, itu tragedi yang perlu dirayakan. Puisi Egha meski tak berupaya untuk merayakan, setidaknya menyingkap dilema sosok-sosok yang dapat jatah percintaan semacam itu. 

Kita akan sama-sama menimang kerinduan dalam ruang dan
waktu yang tak lagi sama. 

Bayangkan situasi emosi orang-orang yang mesti menjalani hidup seperti ini. Mengharapkan hal yang mustahil layaknya meminta bintang jatuh ke pangkuannya dengan indah. Ia tahu tak akan terjadi. Kalaupun benar-benar terwujud pasti tubuh hancur karena bintang punya bentuk yang besar, tajam, dan panas. Di hadapan fakta-fakta itu, ia tetap berharap sampai mampus! Ah, tragis.

Membaca puisi Egha bisa ditemani lagu Semua Tak Sama (2001) milik Padi. Namun hati-hati, dendang ini punya pesan yang mirip. Mengkonsumsi puisi ditambah lagu tidak disarankan dalam situasi sendiri, apalagi sedang mengalami percintaan serupa. Pembaca dan pendengar bisa lekas hancur lebur.

Coba tuk melawan
Getir yang terus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan
Aroma napas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku

Penggalan lirik di atas mengerikan. Padi bisa menemukan pilihan kata itu entah memungut dari mana. Kisah cinta yang lebih dahsyat dari tatapan adalah penciuman. Jika mencintai sudah mencapai titik mengenali aroma, itu masalah. Ia harus siap menanggung derita. 

Avery Gilbert, pakar aroma dan pembuat parfum terlaris di dunia pernah menulis di buku Ilmu Penciuman (2017); aroma lebih diingat daripada penglihatan dan suara. Aroma bisa membuat seseorang lebih jelas dan detail dalam memanggil ingatan. Menyimpan aroma lain dalam tubuh itu berarti membekukan ingatan yang sewaktu-waktu bisa mencair. Padi dengan begitu berani sesumbar lewat lagunya: Coba tuk singkirkan/ Aroma napas tubuhmu/ Mengalir mengisi laju darahku. Sebuah keberanian dalam mencintai.

Bahasa dalam Puisi dan Lagu
Dua karya di atas berlatar tema yang sama meski ditampilkan dengan suara yang berbeda. Di puisi, saya lebih menangkap suara perempuan. Suara itu saya temukan lewat pilihan kata yang digunakan: menimang, menerka, menangis, dan penuh harap. Kata itu terasa bermuatan feminim. Ada kesan kelembutan, keanggunan, kesabaran, kepatuhan, dan kepekaan. Semua itu identik dengan perempuan.

Saya meyakini, persoalan feminin dan maskulin tak bisa dikotakkan pada laki-laki atau perempuan. Perdebatan ini pernah dibahas oleh Julia I Suryakusuma dalam tulisan bertajuk Konstruksi Sosial Seksualitas, diterbitkan majalah Prisma (Juli 1991).

 

Asosiasi pengkotan itu sangat tidak tepat karena semua sifat bisa terdapat pada setiap manusia. Seorang laki-laki bisa sangat maskulin sekaligus feminin, pun sebaliknya. Membatasi perilaku dan perkembangan individu justru hanya akan memenjarakan dalam suatu peran sosial yang ditentukan dari luar.

Namun, secara umum, nilai yang diyakini masyarakat masih demikian. Asosiasi soal feminin merujuk pada perempuan, begitu pun sebaliknya. Keyakinan ini yang berupaya digunakan untuk membaca puisi Egha dan lagu Padi. 

Dalam lagu padi, pilihan kata yang ditulis terasa maskulin. Situasi emosi yang dirasakan mungkin tak jauh berbeda dengan puisi Egha, tapi Padi mengungkapkannya dengan penuh keberanian, kekuatan, ketegasan, dan kemandirian. Beberapa kata yang menguatkan keyakinan saya pada suara laki-laki: melawan, singkirkan, kusentuh, kukecup, relakan semua. 

Semua tak sama tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Penggambaran sosok dalam bait lagu di atas terasa punya superioritas dalam hubungan. Sosok pada lagu itu dideskripsikan punya kebebasan untuk mengeksplorasi seksualitas dan relasi dengan banyak orang. Ini sejalan dengan nilai masyarakat yang meletakkan kebebasan untuk memiliki banyak pasangan lebih longgar pada laki-laki ketimbang perempuan. 

Kata ‘hangat’ dan ‘lembut’ juga bisa merujuk pada sosok perempuan yang dikenang oleh sang penyanyi. Dua kata itu punya bobot feminim yang langsung merujuk pada perempuan. Asosiasi hangat dan lembut mungkin tidak lepas dari peran perempuan sebagai pemilik rahim dan predikat sebagai ibu. 

Karya dalam puisi dan lagu di atas pada akhirnya menjadi arsip bagaimana perempuan dan laki-laki menghayati peristiwa mencintai. Keduanya mengekspresikan situasi rasa tersebut lewat bahasa. Bahasa yang digunakan ternyata bersinggungan dengan keyakinan masyarakat dalam pembagian peran gender yang diberlakukan pada laki-laki dan perempuan. 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo