Arina.id - Di dalam tenda pengungsian Gaza, Ahmed memetik senar gitar, mencipta sebuah harmoni nada dan syair penguat batin. Sebagai guru musik, ia tidak bisa mengangkat senjata seperti pria-pria lain di negaranya. Tapi sebagai manusia Gaza, Ahmed merasa memiliki tanggung jawab pada sesama. Terutama saat melihat anak-anak trauma.
Lalu, bersama kawan-kawan di pengungsian, pria bernama lengkap Ahmed Muin Abu Amsha itu mengumpulkan sejumlah orang, lantas memainkan alat-alat musik sambil bernyanyi. Dan benar, perubahan pun terjadi. Anak-anak yang semula murung kembali ceria. Pada titik itulah pernyataan Jhon Lenon terbukti, bahwa "musik benar-benar mampu mengubah dunia."
Sebagai seniman, Ahmed meramu musik dan syair dari apa saja di sekitar mereka, tidak terkecuali suara drone Israel. Bersama anak-anak, suara drone diubah menjadi syair dan lagu dengan makna kuat untuk menghormati mereka yang tewas dalam genosida.
"Salah satu hal terburuk dalam perang ini, suara drone (pesawat tanpa awak). Drone bersamamu siang dan malam, berdengung seperti otakmu akan meledak. Hari ini banyak sekali pesawat tanpa awak." kata Ahmed dalam sebuah wawancara video dengan media Al-Jazeera. Ahmed kemudian menyanyikan lagu yang diharmonisasi dengan suara drone tersebut.
Penggalan lagu dalam bahasa Palestina yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris itu kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini:
Humzzz....,teruskan, teruskan, oh unta, teruskan...
Tuhanku melindungimu, darah martir beraroma kapulaga...
Oh malam, oh malamku...,siapakah penindas itu? Celakalah dia..
Dari Tuhan aku akan tetap terjaga di bawah bintang-bintang malam, memanggilnya...
Ahmed mengatakan tidak ingin suara-suara drone menghancurkan dirinya atau murid-muridnya. "Anak-anak itu mengatakan. 'pak, kami sakit kepala karena suara ini. Bisakah kami menghentikan musik?' Saya bilang kepada mereka, 'Tidak, kita akan bernyanyi. Dan kita akan bernyanyi mengikuti alunan musik itu.'"
"Lalu mereka bertanya, 'apa yang akan kami nyanyikan?' Saya bilang ke mereka, 'berkonsentrasilah untuk nada drone, nadanya akan menjadi A atau E.' Jadi kami membuat A seperti ini. Dan anak-anak melakukannya seperti saya, dan berkata 'Shayl, shayl, ya jameli shayl. Ya hawatik B Allah.' Jadi inilah ide lagu yang akan kami buat. Dari suara terburuk dalam perang ini menjadi sesuatu yang indah."
Sebelum perang Ahmed mengajar di Konservatorium Edward Sa'id. Kemudian perang merenggut pekerjaan, rumah, dan orang-orang terkasihnya. Ia menemukan kembali musik sebagai penghibur lara hati dan fisiknya akibat perang. "Saya mengungsi hampir 30 kali. Saya tinggal di tempat penampungan," ujarnya.
Temannya kemudian membawakan gitar, lalu menyuruh Ahmed memainkannya. Padahal sejak awal perang ia tidak memikirkan musik. "Ini pertama kalinya saya memegang gitar, dan saya memegangnya di tengah perkemahan, saya bermain gitar lalu semua anak berkumpul di sekitar saya. Dan kami bernyanyi, kami memiliki momen yang sangat indah."
"Di saat-saat seperti ini, saya melupakan perang. Mereka membawa saya kembali ke kehidupan normal. Dulu ada seorang anak kecil bermain di lingkungan sekitar dan sedang mencari benang untuk menerbangkan layang-layang. Lalu ikut bermain musik."
Ahmed percaya musik juga dapat membantu orang lain. Kemudian ia mendirikan kelompok pendukung musik di kamp pengungsian. Ia memberi tahu manajer kamp bahwa akan membuat aktivitas musik untuk mereka. Awalnya si manajer menertawakan ide tersebut dan mengatakan, "Hei Ahmed, kami butuh makanan, kami butuh air. Musik tidak berpengaruh apa-apa," katanya.
Ahmed lalu bilang kepadanya, "tidak, kami akan membuat perubahan."
Setelah beberapa saat, komunitas bermusik tersebut lalu berdiri. Pada akhirnya apa yang dilakukannya membuahkan hasil. Manajer dan masyarakat di pengungsian pada akhirnya menghargai upayanya itu. "Mereka terkejut bahwa di tengah kegilaan perang ini ada sekuntum bunga di dalam api. Tidak mudah untuk berkonsentrasi pada musik."
"Tapi Anda tahu, saya menemukan musik membawa perubahan bagi anak-anak yang mengalami trauma. Mereka memiliki banyak masalah, masalah psikologis akibat perang ini."
Setelah satu bulan beraktivitas musik bersama anak-anak, Ahmed menggunakan musik sebagai terapis psikologis. "Saya menggunakan terapis musik untuk mereka. Saya terkejut karena keluarga mereka datang ke tenda dan berterima kasih kepada saya lalu mengatakan, 'Anda telah mengubah hidup anak-anak kami'. Mereka sekarang sudah lebih baik, mereka bernyanyi, mereka punya kegiatan."
Sebelumnya, Gaza Palestina mengalami krisis kelaparan akut akibat perang dan blokade Israel. Puluhan ribu nyawa melayang dalam perang yang berlangsung sejak 2023 lalu itu. Kemiskinan juga merenggut nyawa anak-anak dari ibunya, merenggut nyawa adik dari kakaknya, orang tua dari anak-anaknya.
Seruan damai datang dari negara-negara di segala arah mata penjuru angin. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga mendesak agar Israel membuka blokade agar bantuan kemanusiaan bisa masuk, namun Zionis bergeming. Sampai sekarang, bantuan Internasional terbatas sementara kematian manusia sulit dihindarkan akibat kelaparan ini.
Editor: Muhammad Taufiq


