Dua atlet ini dituding mencemari Olimpiade.
TANGIS itu akhirnya pecah. Setelah mengalahkan petinju asal Hungaria, Luca Anna Hamori, di babak perempat final, Sabtu lalu, Imane Khelif, 25 tahun, tidak kuat lagi menahan emosinya. Di atas ring, dia berujar bahwa dirinya adalah wanita tulen. “Sampai kapan pun, saya adalah wanita,” katanya sambil kemudian meninggalkan ring bersama pelatihnya.
Sepanjang pergelaran Olimpiade kali ini, petinju perempuan asal Aljazair ini terus menjadi perhatian. Dia dituding bukanlah wanita tulen. Semua bermula dari laga pertamanya melawan Carini, yang hanya berlangsung dalam waktu 46 detik.
Petinju Italia itu langsung menyerah setelah merasakan kerasnya pukulan Khelif – yang disebutnya berbeda dengan kebanyakan pukulan dari lawan-lawan sebelumnya. Dengan kata lain tidak seperti pukulan seorang perempuan. Carini tak mau melanjutkan pertandingan karena takut bila tulang hidungnya retak.
Dari situlah barulah terungkap jati diri Khelif. Bukan saja secara fisik, dia terlihat seperti laki-laki tapi petinju yang pernah tampil di Olimpiade Tokyo, tiga tahun lalu itu, diketahui pernah dilarang Asosiasi Tinju Internasional (IBA) untuk beraksi di ring.
Dia didiskualifikasi saat mengikuti Kejuaraan Dunia tahun lalu. Bersama petinju asal Taiwan, Lin Yu-Ting, dia tidak lolos dalam tes gender. Dalam tubuhnya ditemukan 'kromosom XY' – yang berarti secara biologis keduanya adalah pria.
Umar Kremlev, Presiden Asosiasi Tinju Internasional (IBA), mengklaim pihaknya menemukan atlet yang mencoba menipu rekan-rekan mereka dan berpura-pura menjadi wanita. Namun pihak IOC atau Komite Olimpiade Internasional membantah pendapat Kremlev.
IOC berpendapat kedua petinju itu tetap mendapatkan kesempatan untuk bertanding. Alasannya, mereka lahir dan memiliki paspor sebagai wanita. Dalam pernyataan resminya, lembaga ini menyebutkan semua atlet yang berpartisipasi dalam turnamen tinju Olimpiade Paris 2024 telah mematuhi peraturan yang ada.
Aturan itu sendiri, menurut IOC, telah ditetapkan oleh Unit Tinju Paris 2024 dengan kompetisi tinju Olimpiade sebelumnya. Termasuk soal jenis kelamin dan usia atlet didasarkan pada paspor atlet. Mereka pun menuding langkah IBA dalam mendiskualifikasi ini dilakukan tanpa proses hukum apa pun.
Dunia pun gempar. Banyak tokoh dunia ikut bersuara. Salah satunya penulis novel Harry Potter, J.K. Rowling yang menyebut peristiwa ini sebagai kehancuran ambisi hidup seorang perempuan oleh pria.
Salah satu legenda renang Inggris, Sharron Davies mengaku terkejut dengan pertarungan ini. Dia menyebut IOC telah melakukan kesalahan yang sangat memalukan. “Semua ini harus dihentikan,” katanya.
Suara berbeda datang dari juara dunia kelas bulu wanita Skye Nicolson. Petinju asal Australia itu membela Khelif dan Lin. Menurut dia, mereka yang berbicara itu tidak benar-benar mengerti persoalan.
Menurut dia, kedua atlet itu terlahir sebagai wanita. “Saya pernah bertarung dan beradu argumen dengan keduanya. Mereka terlahir sebagai perempuan, yang kemudian tumbuh sebagai gadis, sebagai perempuan, sebagai wanita,” katanya.
Beragam argumen tersebut tentu tak mengubah suasana di ring tinju. Khelif atau pun Lin telah menjadi momok tersendiri bagi lawan-lawannya. Bahkan jelang laga di perempat final, Luca Anna Hamori dari Hungaria, sempat mengunggah gambar di akun Instagramnya, dengan menyebut laganya melawan Khelif sebagai pertarungan melawan raksasa yang menakutkan.
Hasilnya, meski tak sampai ketakutan seperti Carini – Khelif unggul mutlak. Kemenangan itu membuat Khelif melaju ke babak semifinal bertemu Janjaem Suwannapheng dari Thailand.
Kisah berlanjut. Di laga semifinal berbarengan stigma atas dirinya, Khelif kembali menang secara perkasa. Ia merobohkan Janjaem Suwannapheng di ronde ketiga. Juri pun memberikan nilai mutlak; 5 vs 0. Kemenangan ini menempatkan Khelif hanya satu langkah lagi dari medali emas, yang akan menjadi medali emas kedua dalam sejarah tinju Aljazair dan yang pertama di kategori tinju putri.
Di laga final kelas 66kg nanti, menang atau kalah, yang jelas dia telah menyegel satu medali untuk negerinya. “Ini menjadi medali pertama dari tinju wanita buat negeriku,” katanya.
Pun dengan Yu-Ting. Ia melaju ke final di kategori 57kg usai mengalahkan Esra Yildiz Kahraman, petinju asal Turki. Menariknya, seusai berjabat tangan, Esra menuju ke sisi ringnya dan menyatukan kedua jari telunjuknya membentuk huruf "X". Tanda X merujuk kepada kromosom XX, yakni manusia yang memiliki kromosom XX berjenis kelamin perempuan. Melalui simbol itu, Esra Yildiz bak ingin menyampaikan kepada khalayak bahwa Yu-Ting adalah wanita tulen.
Kini, kedua petinju itu akan memainkan laga final di kelas berbeda. Tentunya medali yang mereka raih teramat kontroversial.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


