Demi mengongkosi biaya kampanye, seorang caleg di Jawa Timur menyatakan siap menjual salah satu ginjalnya. Hidup dengan satu ginjal bukan tanpa risiko.
***
Demi mengatasi kekurangan dana untuk kampanyenya sebagai calon anggota legislatif, Erfin Dewi Sudanto, 46 tahun, menyatakan rela untuk menjual salah satu ginjalnya. Erfin yang merupakan caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) di Bondowoso, Jawa Timur itu mengklaim keputusannya telah disetujui oleh istri dan anaknya.
Ginjal boleh dibilang merupakan hot item dalam transaksi perdagangan organ tubuh. Buah pinggang, sering juga disebut begitu, merupakan organ yang paling banyak dibutuhkan. Sebabnya, sekitar 10 persen populasi dunia mengidap penyakit ginjal kronis.
Tingginya pengidap penyakit ginjal kronis yang tinggi ini berbanding terbalik dengan keterbatasan pasien untuk memperoleh transplantasi organ yang mereka butuhkan. Akibatnya, banyak orang berduit yang rela mendapatkan ginjal. Keinginan ini terjawab dengan faktor ekonomi yang membuat meningkatnya jual beli organ tubuh manusia.
Kenaikan nilai organ dan ketersediaannya yang rendah, membuat praktik ini menjadi lebih menguntungkan secara finansial. Selain itu, seseorang pun masih bisa hidup dengan satu ginjal saja. Itulah yang mendorong bagi orang-orang , seperti halnya Erfin, untuk terlibat dalam perdagangan organ, baik sebagai penyedia atau pun penerima.
Bagi Erfin sendiri, rencananya, uang hasil jual ginjal itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan tim suksesnya, seperti membuat banner dan memasang baliho. Soal keseriusan atau jangan-jangan hanya gimick semata, tentu hanya dia yang tahu. Namun, selain tidak mudah untuk mencari pembeli, transaksi semacam ini pun tidak diperkenankan secara hukum.
Donor Yes, Jual Beli Organ No
Mendonorkan organ tubuh kepada orang lain tentu saja boleh. Siapa pun tentu setuju dengan alasan kemanusiaan. Namun melakukan jual beli organ haram hukumnya.
Larangan itu tertuang dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 pasal 64 tentang Kesehatan. Di sana disebutkan organ dan atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun.
Larangan itu juga diperkuat dalam Peraturan Pemerintah No. 53 tahun 2021 pasal 3 ayat 1 yang berbunyi "Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan."
Pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan tegas menyatakan jual beli organ tubuh manusia, termasuk ginjal merupakan transaksi ilegal. "Kalau ada pasien mau donor ginjal di Indonesia, donor bukan anggota keluarga pasien, dan penerima tidak kenal. Tapi bila donor minta imbalan, hal seperti itu tidak boleh, pasti kita tolak," ucap Maruhum Bonar Hasiholan Marbun, dokter spesialis konsultan ginjal dan hipertensi dari IDI.
Tidak hanya di Indonesia, larangan perdagangan organ tubuh manusia pun berlaku di sejumlah negara yang berada di bawah perlindungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
WHO sudah berupaya mengatasi masalah ini dengan mengeluarkan pedoman dan larangan perdagangan organ tubuh manusia pada 1987. Sejak itu, banyak negara yang mengambil langkah untuk melarang tindakan jual beli organ tubuh dan mengatur praktik transplantasi organ
Toh begitu, meski sejumlah negara memiliki undang-undang yang melarang perdagangan organ tubuh, penegakan hukum seringkali sulit dilaksanakan karena praktik ini tidak jarang terjadi di pasar gelap atau ilegal.
Dilansir The Conversation, perdagangan organ tubuh merupakan masalah serius yang melibatkan eksploitasi manusia dan seringkali juga melibatkan pelanggaran hak asasi manusia. Praktik ini mencakup penjualan dan pembelian organ tubuh untuk keuntungan finansial atau materi.
WHO memperkirakan bahwa pada 2008 silam, sekitar 5 persen dari semua transplantasi yang dilakukan di seluruh dunia adalah ilegal. Jual beli ginjal menjadi sasaran utama perdagangan organ.
Upaya di tingkat internasional terus dilakukan untuk mengatasi jual beli organ tubuh. Termasuk kerja sama antarnegara dalam pencegahan, penegakan hukum, dan pendidikan masyarakat. Peningkatan kesadaran tentang dampak negatif perdagangan organ terhadap hak asasi manusia dan kesehatan masyarakat menjadi kunci dalam memerangi praktik ini.
Hidup dengan Satu Ginjal Bukan Tanpa Masalah
Normalnya, manusia hidup dengan dua ginjal. Namun mengutip Halodoc, seseorang yang memiliki satu ginjal umumnya tetap bisa hidup dengan sehat seperti mereka yang memiliki dua ginjal. Hal ini dikarenakan satu ginjal memiliki kapasitas yang cukup untuk menyaring darah dan menjaga agar tubuh tetap berfungsi normal.
Kondisi itu juga berlaku bagi mereka yang terlahir dengan kelainan bawaan yang menyebabkan absennya ginjal sejak lahir atau agenesis. Pun demikian dengan keadaan displasia atau kondisi seseorang lahir dengan jumlah ginjal yang normal, tetapi hanya satu yang berfungsi. Dalam kondisi ini, sebenarnya seseorang hanya memiliki satu ginjal.
Ginjal juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Ketika seseorang hidup hanya dengan satu ginjal, organ tubuhnya itu memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih besar dan berfungsi dengan lebih efisien. Kemampuan menyesuaikan diri ini memungkinkan seseorang menjalani kesehariannya tanpa hambatan signifikan.
Mereka yang mengalami operasi pengangkatan ginjal akibat mengalami cedera serius pada ginjalnya atau sebagai bagian dari pengobatan penyakit seperti kanker. Pun begitu dengan mereka yang mendonorkan organ tubuhnya itu kepada orang lain yang membutuhkan transplantasi ginjal.
Kendati begitu, bagi pemilik ginjal tunggal tetap saja ada kemungkinan munculnya masalah kesehatan dalam jangka panjang. Sehingga memerlukan pemantauan dan penanganan khusus. Beberapa contoh masalah kesehatan yang mungkin timbul di antaranya tekanan darah tinggi, proteinuria (keberadaan protein dalam urine), dan retensi cairan.
Walaupun memiliki satu ginjal bisa dianggap sebagai kondisi yang umum dan bisa diatasi dengan baik oleh tubuh, tetap saja penting bagi pemilik ginjal tunggal untuk menjaga kesehatan ginjal dan gaya hidup secara keseluruhan. Ini mencakup konsumsi air yang cukup, pola makan sehat, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol berlebihan.
Pemilik ginjal tunggal perlu mengetahui informasi medis tentang tubuhnya dan mendapatkan perawatan yang tepat, terutama bagi mereka yang lahir dengan kondisi tersebut atau menjalani operasi pengangkatan ginjal. Pemantauan kesehatan dan perawatan yang sesuai adalah kunci untuk memastikan fungsi ginjal tetap optimal dalam situasi seperti ini.
Editor:


