Arina.id-- Permasalahan anak-anak terkait persaingan antarsaudara alias sibling rivalry bisa dibilang umum terjadi di setiap keluarga. Konflik tersebut dapat berupa pertengkaran kecil adik-kakak yang kerap diawali hal sepele.
Namun jangan salah, jika orang tua gagal mengatasi persoalan ini dengan bijak. Bukan tidak mungkin pertengkaran antara si bungsu dengan sang kakak bisa menyulut konflik yang lebih besar.
Layaknya manusia dewasa, anak-anak sejatinya juga memiliki ego. Mereka memang punya ikatan batin yang kuat antarsaudara (sibling). Namun kadang kala jika ego mereka muncul, maka pertengkaran bisa terjadi.
Sibling rivalry pada anak-anak dapat mempengaruhi hubungan mereka dalam jangka panjang. Terutama jika konflik menjadi kian runcing, bahkan menyisakan dendam. Tentu saja suasana dalam rumah juga bakal terasa tidak nyaman jika anak-anak tidak rukun.
Namun demikian orang tua juga mesti memahami bahwa konflik sibling rivalry adalah hal yang wajar terjadi. Terkadang anak-anak akan bersaing untuk memuaskan ego mereka, atau sekedar mendapat perhatian orang tua.
Pertengkaran anak-anak secara tidak langsung juga dapat membentuk identitas dan peran si anak dalam keluarga. Ini adalah proses pembelajaran yang bakal mengantar mereka tumbuh menjadi lebih matang di masa depan.
Guna meminimalisir efek negatif dari sibling rivalry, berikut sejumlah solusi dan cara bijak yang bisa diterapkan para orang tua:
Biasakan Berbagi
Biasakan anak-anak untuk berbagi dan saling bergantian dalam berbagai aktivitas mereka. Berbagi bisa dilakukan ketika mereka mendapat hadiah dan semacamnya. Berbagi hal sederhana, seperti makanan, cokelat, atau permen, dapat mempertebal ikatan.
Di samping itu biasakan juga anak-anak untuk saling bergantian dalam melakoni aktivitas. Bergantian bisa dilakukan dalam permainan atau melakukan pekerjaan keseharian. Ini dapat melatih anak untuk menghormati hak orang lain. Serta melatih kesabarannya untuk menunggu giliran.
Sebagai orang tua, tak lupa berikan pujian pada anak-anak jika mereka dapat melakukan semua itu dengan baik. Tanggapan positif dari orang lain bakal memicu motivasi mereka untuk menerapkan ativitas berbagi dengan lebih baik lagi.
Tidak Selalu Jadi Penengah
Tindakan orang tua yang terlalu sering campur tangan dalam pertengkaran anak-anak, ternyata tidak selamanya berujung positif. Pasalnya hal ini justru bakal meningkatkan ketergantungan anak-anak saat mereka menemui masalah.
Tindakan orang tua sebaiknya tetap mengawasi, serta membiarkan anak-anak untuk mencari solusi mereka sendiri. Pancing anak-anak untuk menemukan ide yang berujung win-win solution terhadap masalah mereka.
Tapi tentu saja orang tua dapat melakukan intervensi, jika ternyata pertengkaran anak-anak justru berlangsung kian memburuk.
Konsistensi dan Konsekuensi
Mengatasi konflik pada anak-anak juga diperlukan konsistensi serta pemahaman soal konsekuensi. Tanamkan pemahaman terhadap mereka bahwa pertengkaran yang tidak ditemukan solusinya dengan baik, bakal memberikan konsekuensi merugikan kedua pihak.
Ketika anak-anak bertengkar memperebutkan suatu hal seperti misalnya mainan. Dan mereka tetap berpegang pada ego masing-masing, maka tindakan orang tua dapat melarang keduanya untuk menggunakan mainan tersebut.
Hal ini bisa diterapkan secara konsisten, hingga anak-anak dapat memahami bahwa perilaku negatif mereka tidak akan membawa keuntungan bagi keduanya.
Mengelola Emosi
Tak jarang konflik pada anak-anak terjadi lantaran pengelolaan emosi mereka yang kurang baik. Ajari mereka dengan keterampilan menenangkan diri, seperti menarik napas panjang dan semacamnya.
Biasakan anak-anak untuk menyampaikan rasa ketidaksukaan mereka terhadap suatu hal, dengan mengatakannya kepada anak lain. Dan hindari mengekspresikan perasaan dengan cara memukul, berteriak, dan tindakan fisik.
Memberi Pujian
Berikan pujian saat anak-anak bisa melakukan aktivitas bermain dengan baik. Acap kali orang tua lupa melempar pujian ketika anak-anak bisa bermain dengan baik. Karena orang dewasa justru baru memberi perhatian ketika muncul pertengkaran dalam proses bermain tersebut.
Dengan memberi pujian ketika anak-anak beraktivitas dengan baik, maka hal ini dapat memotivasi mereka untuk konsisten melakukan hal positif. Pujian dari orang dewasa juga bakal meningkatkan pemahaman anak-anak bahwa tindakan positif mereka mendapat penghargaan.
Editor:


