Film Avatar: Fire and Ash sudah ditunggu kehadirannya sejak tahun 2022 lalu. Para penggemar percaya, James Cameron, sang sutradara, pasti akan menyajikan Avatar 3 tak kalah ciamik dengan Avatar (2009) dan Avatar: The Way of Water (2022). Saya termasuk dari bagian orang-orang yang menunggu dan percaya. Maka, begitu film ini resmi rilis di Indonesia, 17 Desember 202 lalu, saya lekas mencari tanggal yang pas untuk menonton. Bukan perkara mudah menentukan waktu sebab bioskop sering penuh ditambah durasi film yang panjang. Pada akhirnya saya memuaskan rasa penasaran itu pada Selasa (23/12/2025) di Solo Square. Kesan yang didapat selama tiga setengah jam duduk di bangku bioskop: senang, kagum, kecewa.
Avatar: Fire and Ash menampilkan cerita lanjutan dari dua film sebelumnya. Kisahnya bermula dari Avatar (2009). Jake Sully, seorang mantan marinir yang lumpuh, dikirim ke Pandora untuk menggantikan saudaranya dalam program Avatar. Dengan tubuh Na’vi buatan, ia menyusup ke suku asli Pandora demi kepentingan perusahaan yang ingin menambang mineral berharga. Namun, setelah jatuh cinta pada Neytiri dan memahami ikatan spiritual Na’vi dengan alam, Jake memilih ikut melawan bangsa langit demi melindungi Pandora.
Cerita berlanjut pada Avatar: The Way of Water (2022). Lebih dari satu dekade setelah kemenangan Na’vi, Jake dan Neytiri hidup damai bersama anak-anak mereka. Ancaman manusia ternyata kembali, memaksa keluarga Sully meninggalkan hutan dan mencari perlindungan di antara suku laut Metkayina. Di sana mereka belajar cara hidup baru dan menemukan ikatan spiritual dengan lautan Pandora.
Sekuel ketiga membawa nuansa lebih gelap. Mereka berhadapan dengan suku baru Na’vi bernama Mangkwan atau Ash People, yang hidup di wilayah vulkanik, dipimpin oleh Varang. Konflik memuncak ketika Mangkwan bersekutu dengan bangsa langit, menciptakan peperangan di Pandora.
Secara visual film Avatar selalu memukau. Dunia lain yang dihadirkan sang sutradara berhasil menarik imajinasi penonton untuk ikut merasakan keindahan, kekuatan, dan pentingnya alam dalam kehidupan. Tak cukup dengan visual hutan yang amat mempesona, laut pun disuguhkan dengan begitu indah.
Dalam Avatar: Fire and Ash, James Cameron menampilkan beberapa wajah baru, ada Varang, pimpinan Suku Mangkwan (Ash People). Dia digambarkan sebagai karakter antagonis yang membenci Eywa (Dewi Pandora). Selain itu juga ada Wind Traders, suku Navi pengembara yang menggiring makhluk raksasa Pandora di antara awan untuk berdagang. Hewan-hewan di laut juga turut bertambah, salah satunya makhluk mirip cumi-cumi. Mata penonton akan dibuat takjub melihatnya. Saya yakin, banyak yang berharap dunia khayalan dalam Avatar nyata. Ribuan orang pasti ingin pindah ke Pandora–dunia yang indah dan tenang.
Di tengah berbagai kelebihan yang layak mendapat apresiasi setinggi-tingginya, saya menemukan sedikit celah yang cukup mengecewakan. Avatar: Fire and Ash secara visual menyala, tapi narasi meredup. Mungkin sang sutradara sengaja membuatnya demikian untuk menyimpan kejutan di sekuel selanjutnya. Namun cukup disayangkan untuk durasi film lebih dari tiga jam dan visual yang begitu menakjubkan, isi cerita mengurangi daya tarik.
Berikut sedikit catatan yang bisa saya bagikan.
Karakter yang Menggantung
Tokoh Kolonel Miles Quaritch dan Varang dibuat sangat menggantung di akhir cerita. Mungkin ini strategi sutradara untuk menyimpan dua tokoh kunci di sekuel selanjutnya. Tapi cukup mengganjal bagi para penonton, utamanya Quaritch. Ia tokoh antagonis yang muncul sejak film pertama.
Dulu, penonton cukup puas karena di akhir cerita dia mati. Lalu kembali muncul di Avatar: The Way of Water dengan tubuh avatar, masih bisa diterima karena Quaritch tampil dengan banyak kebaruan. Tapi muncul lagi di Avatar: Fire and Ash tanpa kebaruan, kecuali karakter antagonisnya yang mulai terkikis karena Monkey Boy (anaknya) terasa membosankan. Jika di Avatar 4 dia kembali hadir tanpa kebaruan baik secara tampilan maupun karakter, saya yakin bisa membuat penonton sangat bosan.
Lo’ak, anak Jake Sully dan Neytiri terlalu membuat penonton jengkel. Karakter yang dimainkan menurut saya terlampau mengesalkan. Ia pembangkang dan sulit diatur. Saya bisa memahami itu khas sikap remaja tetapi sayangnya terlalu sering pembangkangan yang dilakukan sejak di Avatar 2 hingga 3, tanpa ada netralisir yang sepadan.
Sikap itu berulang kali membahayakan kelompok bahkan hingga membunuh kakaknya, Neteyam. Hingga Avatar 3, James Cameron belum bisa membuat penonton punya respect cukup besar dengan tokoh ini. Berbanding terbalik dengan Jake Sully saat di Avatar 1. Dia juga ditampilkan sebagai karakter pembangkang, tapi berhasil diimbangi dengan sikap pembelajar dan keberaniannya. Barangkali di Avatar 4, karakter Lo’ak akan banyak mengalami perkembangan karena sepertinya pemegang estafet kepemimpinan jatuh di tangannya, jika tidak pada Kiri.
Pola Cerita Berulang
Karena tokoh antagonis tak jauh berbeda dengan Avatar 2, hanya ditambah kehadiran Varang dari suku Mangkwan, konflik yang dibangun pada film Avatar 3 hampir mirip dengan Avatar 2. Kolonel Miles Quaritch kembali memburu Jake Sully ditambah Miles Socorro, Mick Scoresby memburu tulkun (makhluk laut cerdas mirip paus di Pandora), dan Parker Selfridge dengan Jenderal Frances Ardmore berambisi menguasai Pandora.
Banyaknya kesamaan tokoh dan konflik antara Avatar 2 dan Avatar 3membuat isi film kurang memberi banyak kebaruan. Puncak konflik pun seperti hanya menggabungkan antara Avatar 1 dan Avatar 2. Jake Sully kembali menjadi Toruk Makto, mengumpulkan pasukan, bersatu melawan bangsa langit. Di awal bangsa Pandora menang, kemudian hadir suku Mangkwan yang membuat pasukan Jake Sully terancam kalah, lalu hadir keajaiban yang membalikkan keadaan. Mirip seperti pola Avatar 1.
Judul yang Kurang Relevan
Judul Avatar (2009) dan Avatar: The Way of Water (2022) terasa kuat dan relevan dengan isi. Film Avatar: Fire and Ash juga punya kesan kuat di ingatan para penonton, tetapi tidak relevan dengan isi. Fire and Ash yang secara harfiah berarti api dan abu tidak dominan dalam film.
Mungkin ini merujuk pada Varang, dibuktikan dengan visual pada poster film, tapi kurang pas karena porsi Varang dalam film sangat sedikit dan tidak dominan, bahkan hampir bisa dikatakan ia hanya menjadi kaki tangan Quaritch. Setting tempat pun masih sama dengan Avatar 1 dan 2, gabungan antara hutan dan laut. Saya merasa judulnya menarik, tapi secara isi kurang mewakili.
Avatar dan Anak-anak
Tidak diduga sebelumnya, dua kursi di samping saya anak-anak. Usianya kisaran tujuh dan sebelas tahun. Di kursi lain bahkan ada yang membawa balita. Di Pertengahan film terdengar suara anak menangis. Tak lama bocah di samping saya juga mengeluh karena filmnya tidak lekas selesai, dia sudah lapar ingin segera makan.
Saya hanya membatin dalam hati, ini salah satu bentuk kelalaian pihak bioskop. Film Avatar: Fire and Ash menurut Lembaga Sensor Film (LSF) diklasifikasikan untuk penonton usia 13 tahun ke atas. Entah karena alasan apa, anak-anak di bawah usia itu diperbolehkan masuk.
Bukan soal karena “berisik’’ ketika film diputar, tapi lebih pada keamanan bagi mereka. Avatar: Fire and Ash banyak menampilkan adegan kekerasan. Film ini bukan seperti Avatar: The Last Airbender dengan tokoh Aang, bocah berkepala botak plontos yang bisa mengendalikan empat elemen. Avatar yang digarap James Cameron menampilkan kisah Jake Sully yang selalu beririsan dengan peperangan dan darah. Jadi, barangkali pihak bioskop dan orang tua bisa kembali mempertimbangkan kehadiran anak-anak.
Demikian catatan saya. Tentu ulasan ini sangat subjektif. Mungkin juga dipengaruhi niat saya menonton, selain untuk bersenang-senang juga sebagai bahan liputan jadi terkesan terlalu serius.
Terlepas dari semua itu, Avatar: Fire and Ash tetap menarik untuk ditonton. Banyak ulasan yang menyebutkan film ini bagus. Bahkan, kabarnya telah menjadi salah satu film Hollywood dengan debut terbesar di Indonesia sepanjang 2025. Film ketiga serial Avatar ini telah memperoleh Rp.93,9 miliar dalam pekan pertamanya di Indonesia.
Editor:


