Bayangkan ada dunia yang sudah diperingatkan berkali-kali oleh para ilmuwan tentang suatu bahaya, tapi tidak pernah didengar oleh para pembuat kebijakan karena suara para pakar tenggelam dalam lautan kepentingan politik, ambisi ekonomi, dan rasa angkuh manusia. Atau bayangkan, sebuah sistem, menyangkut hajat penting orang banyak, dipimpin seseorang yang tidak punya kapasitas di bidangnya. Mungkin hanya satu kalimat yang bisa diucapkan: Menunggu datangnya bencana.
Layar lebar bisa menjadi cermin kehidupan, termasuk masalah peminggiran suara pakar karena kepentingan politik. Film memungkinkan untuk memperlihatkan masalah-masalah yang tidak terungkap seluruhnya di ruang publik.
Tujuh film berikut bukan sekadar tontonan, melainkan peringatan keras, bahwa mengabaikan suara para pekar sama saja dengan menyiapkan panggung bagi kehancuran. Di balik setiap ledakan dan runtuhnya gedung, ada pesan sederhana yang sering diabaikan: dengarkan para ilmuwan sebelum terlambat.
Don't Look Up (2021)
Don't Look Up merupakan film satir politik-komedi gelap yang menyoroti bencana akibat dunia mengabaikan peringatan ilmuwan. Dalam film ini, dua astronom; Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence) dan Dr. Randall Mindy (Leonardo DiCaprio), menemukan sebuah komet raksasa yang sedang menuju Bumi dan akan menghancurkan planet dalam enam bulan. Alih-alih segera ditindaklanjuti, temuan mereka justru dipandang sebelah mata oleh pemerintah, media, dan masyarakat.
Presiden Orlean (Meryl Streep) lebih sibuk dengan kalkulasi politik, media lebih tertarik mengejar rating, sementara publik terjebak dalam skandal selebritas dan teori konspirasi. Upaya kampanye “Just Look Up” yang digagas para ilmuwan pun kalah oleh slogan populis “Don’t Look Up” yang menolak kenyataan.
Film ini menjadi kritik tajam terhadap sikap abai terhadap sains. Pesan utamanya jelas: ketika suara ilmuwan tidak didengar, bencana global bukan hanya kemungkinan, melainkan kepastian. Don't Look Up menggambarkan bagaimana kesombongan, kepentingan ekonomi, dan politik jangka pendek dapat menutup mata manusia dari ancaman nyata, hingga akhirnya berujung pada kehancuran planet.
The Day After Tomorrow (2004)
Film The Day After Tomorrow menggambarkan bencana iklim global yang terjadi karena peringatan ilmuwan diabaikan. Dalam film ini, Jack Hall (Dennis Quaid), seorang paleoklimatolog, menemukan tanda-tanda bahwa pemanasan global dapat memicu perubahan iklim ekstrem yang berujung pada zaman es baru. Ia menyampaikan peringatan di konferensi PBB, namun suara ilmuwan tersebut ditolak oleh para politisi, khususnya Wakil Presiden AS yang lebih mementingkan kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek.
Tak lama kemudian, serangkaian fenomena cuaca aneh muncul: badai super, tornado di Los Angeles, banjir besar di Manhattan, hingga pendinginan ekstrem yang membekukan seluruh belahan bumi utara. The Day After Tomorrow menjadi metafora kuat tentang krisis iklim, memperlihatkan bagaimana ketidakpedulian terhadap penelitian dan data ilmiah bisa berujung pada kehancuran global
Dante's Peak (1997)
Film Dante’s Peak menampilkan bencana letusan gunung berapi yang terjadi karena peringatan ilmuwan tidak segera ditindaklanjuti. Dalam film ini, Harry Dalton (Pierce Brosnan), seorang vulkanolog, datang ke kota kecil Dante’s Peak yang baru saja dinobatkan sebagai salah satu tempat tinggal terbaik di Amerika. Ia menemukan tanda-tanda aktivitas berbahaya dari gunung berapi yang lama dianggap “tidur”.
Bersama sang wali kota, Rachel Wando (Linda Hamilton), Harry berusaha meyakinkan dewan kota dan tim ilmuwan lain bahwa ancaman letusan nyata adanya. Namun, kepentingan ekonomi dan rasa aman semu membuat peringatan tersebut diabaikan. Akibatnya, ketika gunung akhirnya meletus, kota yang semula damai berubah menjadi neraka: lava, awan panas, dan gempa menghancurkan segalanya, memaksa warga berjuang untuk bertahan hidup. Film ini menekankan bahwa keputusan politik dan ekonomi yang menutup mata terhadap data sains hanya akan mempercepat datangnya bencana.
The Wave (2015)
Film The Wave merupakan kisah bencana tsunami di Norwegia yang terjadi karena peringatan ilmuwan tidak dipedulikan. Dalam film ini, Kristian Eikjord (Kristoffer Joner), seorang geolog, bekerja memantau pergerakan gunung dan celah batu di kawasan Geiranger Fjord. Ia menemukan tanda-tanda bahwa celah Akerneset akan runtuh dan memicu tsunami setinggi lebih dari 80 meter.
Kristian mencoba memperingatkan pihak berwenang, namun peringatan ilmiah tersebut dianggap berlebihan dan tidak segera ditindaklanjuti. Ketika akhirnya longsoran besar terjadi, tsunami dahsyat melanda lembah dan menghancurkan kota kecil Geiranger, menelan korban jiwa dan memaksa penduduk berjuang untuk bertahan hidup. Film ini, yang terinspirasi dari potensi nyata runtuhnya celah Akerneset di Norwegia, menjadi peringatan keras bahwa sains bukan sekadar teori, melainkan alarm keselamatan yang harus didengar sebelum terlambat
Volcano (1997)
Film Volcano (1997) menyoroti bencana letusan gunung berapi di tengah kota Los Angeles yang terjadi karena peringatan ilmuwan tidak segera diindahkan. Dalam film ini, Dr. Amy Barnes (Anne Heche), seorang ahli geologi, menemukan tanda-tanda aktivitas vulkanik di bawah kota Los Angeles. Ia memperingatkan pihak berwenang bahwa magma sedang bergerak dan berpotensi menimbulkan letusan besar.
Namun, peringatan ilmiah tersebut dianggap berlebihan dan tidak segera ditindaklanjuti oleh otoritas kota. Ketika akhirnya gunung berapi bawah tanah meletus, lava panas mengalir melalui jalanan, menghancurkan bangunan, dan menimbulkan kekacauan besar. Bersama Mike Roark (Tommy Lee Jones), kepala Office of Emergency Management, Amy berjuang menyelamatkan warga dari bencana yang sudah terlanjur terjadi. Volcano menjadi gambaran jelas tentang dampak fatal mengabaikan suara ilmuwan.
Geostorm (2017)
Film Geostorm adalah kisah bencana global yang terjadi karena teknologi ilmiah yang diciptakan untuk melindungi bumi justru diabaikan dan disalahgunakan. Dalam film ini, dunia menghadapi ancaman perubahan iklim ekstrim. Untuk mencegah bencana, para ilmuwan menciptakan sistem satelit raksasa bernama Dutch Boy Program, yang mampu mengendalikan cuaca di seluruh planet.
Awalnya sistem ini berhasil menjaga kestabilan iklim, namun ketika tanda-tanda kerusakan muncul, peringatan ilmuwan diabaikan oleh pihak berwenang. Alih-alih memperbaiki sistem, teknologi tersebut justru dimanipulasi hingga berbalik menyerang bumi. Akibatnya, badai super, banjir, dan fenomena cuaca mematikan terjadi serentak di berbagai belahan dunia, menciptakan ancaman kehancuran total yang disebut Geostorm.
28 Days Later (2002)
Film 28 Days Later memuat kisah horor pasca-apokaliptik yang memperlihatkan bencana global akibat eksperimen ilmiah yang diabaikan risikonya. Film ini mengisahkan sekelompok aktivis pembela hewan yang membebaskan simpanse dari laboratorium penelitian tanpa memahami peringatan para ilmuwan bahwa hewan tersebut terinfeksi virus mematikan bernama Rage.
Virus ini menyebar dengan cepat melalui darah dan air liur, mengubah manusia menjadi sosok penuh amarah yang brutal dan tak terkendali. Hanya dalam hitungan minggu, Inggris hancur total: kota-kota kosong, masyarakat runtuh, dan segelintir orang yang selamat berjuang di tengah dunia yang dipenuhi makhluk terinfeksi.
28 Days Later menegaskan sisi bencana akibat mengabaikan suara ilmuwan. Peringatan tentang bahaya eksperimen dan penyebaran virus tidak diindahkan, sehingga tindakan gegabah justru memicu kehancuran massal. Film ini menjadi refleksi keras bahwa sains bukan sekadar teori, melainkan peringatan yang bisa menentukan hidup dan mati umat manusia.
Editor: Kendi Setiawan


