Dark
Light
Dark
Light

Relawan Kapal 'Madleen' Diculik Tentara Israel, Bantuan Susu Bayi dan Obat-obatan ke Gaza Ditahan

Relawan Kapal 'Madleen' Diculik Tentara Israel, Bantuan Susu Bayi dan Obat-obatan ke Gaza Ditahan

Arina.id - Tentara Israel mengadang laju Kapal Madleen yang berlayar membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza Palestina. Para relawan yang berada di dalamnya bahkan dikabarkan diculik oleh para serdadu angkatan laut negeri zionis tersebut.

Koalisi Freedom Flotilla (FFC), organisasi kemanusiaan internasional yang kerap mengirim misi bantuan melaporkan para sukarelawannya yang berada di dalam kapal tidak lagi bisa dihubungi setelah pengadangan kapal tersebut. "SOS! Para relawan di kapal 'Madleen' telah diculik pasukan Israel," demikian bunyi pengumuman organisasi tersebut.

Dari Amman Yordanian, Nour Odeh, reporter Aljazeera melaporkan Kapal Madleen segera dibawa ke Pelabuhan Ashdod Israel setelah diadang. Pasukan Israel tersebut akan memaksa para sukarelawan menonton video propaganda kompilasi serangan 7 Oktober 2023--serangan Hamas ke Israel--kemudian mendeportasi mereka ke negara masing-masing.

Cara seperti itu sering kali dilakukan oleh pasukan Israel. Didukung oleh propaganda media-media maestream di sana, serdadu Israel sering menangkap aktivis pro-Palestina, termasuk anggota dewan yang berpihak pada Palestina, kemudian memaksa mereka menonton kompilasi video serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober yang menjadi dasar pembumihangusan dan genosida di Gaza.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, lewat laman akun Platform X miliknya, juga segera merespons penangkapan Kapal Madlee yang dikirim oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC). Kapal yang berupaya membawa bantuan kemanusiaan itu berusaha menembus blokade Israel atas Jalur Gaza yang diduduki secara ilegal.

Kapal itu membawa warga sipil tak bersenjata dalam misi kemanusiaan. Intersepsi Israel terhadap Madleen melanggar hukum internasional. Sebagai kekuatan pendudukan (sebagaimana diakui oleh ICJ), Israel memiliki kewajiban hukum untuk memastikan warga sipil di Gaza memiliki cukup makanan dan obat-obatan. 

"Mereka seharusnya membiarkan Madleen mengirimkan pasokan kemanusiaannya ke Gaza. Sejalan dengan kewajibannya sebagai kekuatan pendudukan, dan perintah yang mengikat secara hukum dari Mahkamah Internasional untuk mencegah genosida. Israel harus segera mencabut blokade ilegalnya terhadap Gaza, memfasilitasi penyediaan bantuan kemanusiaan di seluruh Gaza, dan mengizinkan misi pencari fakta internasional ke Gaza," demikian tulisnya di X. 

Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa Francesca Albanese yang berkomunikasi dengan nakhoda Kapal Madleen mengatakan bahwa saat kapal dicegat Israel, tidak ada relawan yang terluka. "Sang nakhoda meminta saya merekam," kata Albanese yang mengaku mendengar ucapan tentara Zionis di tengah panggilan dengan nakhoda sebelum sambungan komunikasi terputus.

"Koneksi saya dengan nakhoda terputus saat ia memberitahu saya bahwa ada kapal lain yang mendekat," ucap Pelapor Khusus PBB itu seperti dikutip dari Anadolu.

Otoritas luar negeri Israel menyatakan bahwa angkatan lautnya memerintahkan Madleen mengalihkan jalur dengan dalih bahwa kapal tersebut mendekati apa yang mereka sebut "kawasan terlarang". Demi menerobos blokade terhadap Jalur Gaza dan mengirimkan bantuan, FFC meluncurkan kapal layar sepanjang 18 meter bernama Madleen.

Menurut organisasi tersebut, kapal Madleen membawa bantuan yang amat mendesak bagi warga Gaza, termasuk susu formula bayi, tepung, beras, popok, perangkat pemurni air, serta pasokan obat-obatan dan alat medis, kruk dan alat prostetik anak-anak. Kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti di Catania, Pulau Sisilia, Italia Selatan, pada 1 Juni.

Sebanyak 12 orang yang ikut serta dalam pelayaran tersebut, termasuk 11 aktivis dan seorang jurnalis. Di antara mereka ialah aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, anggota Parlemen Eropa Rima Hassan yang berdarah Prancis-Palestina, dan jurnalis Al-Jazeera Mubasher dari Prancis, Omar Faiad.

Aktivis lainnya yaitu Yasemin Acar dari Jerman, Baptiste Andre, Pascal Maurieras, Yanis Mhamdi and Reva Viard dari France, Thiago Avila dari Brasil, Suayb Ordu dari Turki, Sergio Toribio dari Spanyol, dan Marco van Rennes dari Belanda.

 


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo