Arina.id – Sedikitnya tiga warga Palestina tewas dalam serangan terbaru militer Israel di Jalur Gaza pada Minggu (16/11/2025). Serangan ini terjadi saat ribuan pengungsi di wilayah pesisir itu terjebak hujan deras yang membanjiri tenda-tenda darurat, memperburuk krisis kemanusiaan yang terus membelit Gaza.
Sumber dari Kompleks Medis Nasser melaporkan kepada Al Jazeera bahwa tiga korban meninggal setelah Israel membombardir area timur Khan Younis, Gaza selatan. Pada hari yang sama, serangan juga menghantam lingkungan Zeitoun di Kota Gaza serta sejumlah titik dekat Rafah.
Koresponden Al Jazeera di Gaza City, Ibrahim al-Khalili, menyebut militer Israel masih menyerang area di dalam “garis kuning” — zona tempat pasukan sebelumnya mundur sebagai bagian dari gencatan senjata.
Ia menegaskan kondisi warga “kian memburuk” karena mereka harus menghadapi serangan berulang di tengah hujan deras yang membanjiri tenda-tenda darurat. “Bangunan tempat tinggal terus dibongkar, kepanikan menyebar, dan tempat perlindungan tidak mampu menahan cuaca,” ujarnya.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa 13.000 keluarga yang kehilangan rumah akibat dua tahun pemboman Israel kini hidup tanpa perlindungan layak di tengah cuaca dingin dan banjir.
Lebih dari 80 persen bangunan dan unit hunian di Gaza telah rusak atau hancur sejak perang dimulai, menurut data PBB. Meski gencatan senjata berlaku, Israel masih memblokir masuknya tenda dan rumah mobil yang sangat dibutuhkan.
Direktur Komunikasi UNRWA, Tamara Alrifai, mengatakan Israel membatasi berbagai barang yang dinilai memiliki “potensi penggunaan ganda”. “Banyak kebutuhan penting tidak boleh masuk, bahkan di tengah kondisi musim dingin,” katanya. UNRWA, lanjutnya, memiliki cukup pasokan di Mesir dan Yordania untuk memuat 6.000 truk bantuan—namun terhambat izin Israel.
Terjebak dalam Banjir
Selama dua hari terakhir, hujan terus mengguyur Gaza. Koresponden Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan banyak kamp pengungsian berada di titik yang lebih rendah dibanding area sekitarnya sehingga air masuk dari semua arah. “Beberapa wilayah sudah sepenuhnya tergenang,” ujarnya.
Bangunan yang setengah runtuh akibat bom juga mulai bocor dan dikhawatirkan kolaps ketika hujan kian deras. Di area pesisir, pengungsi yang mendirikan tenda dekat pantai terancam gelombang pasang.
“Semua tenda terendam: kasur kami, makanan, air, pakaian—semuanya basah,” kata Abdulrahman Asaliyah, salah satu pengungsi. “Kami butuh tenda baru, setidaknya yang mampu melindungi dari musim dingin.”
Caroline Seguin, Koordinator Darurat Gaza dari Doctors Without Borders (MSF), menambahkan bahwa banyak warga terbangun karena banjir dan takut kembali tidur. “Di Gaza, bisa tidur di tempat yang kering adalah kemewahan,” ujarnya. Ia juga menyoroti rumitnya proses administrasi Israel yang masih menghambat masuknya tenda dan obat-obatan.
Gencatan Senjata Ringkih, Korban Terus Bertambah
Sejak gencatan senjata diberlakukan bulan lalu, sedikitnya 266 warga Palestina tewas dan 635 lainnya terluka akibat serangan Israel, menambah total korban yang kini mendekati 70.000 jiwa.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia “tidak tahu” berapa lama gencatan senjata dapat bertahan. Ia menegaskan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina, sehari sebelum Dewan Keamanan PBB memberi suara atas resolusi AS mengenai “jalan kredibel” menuju kemerdekaan Palestina serta pembentukan pasukan stabilisasi internasional di Gaza.
Sementara itu, sayap militer Hamas, Brigade Qassam, bersama Palang Merah terus berupaya menemukan tiga jenazah sandera yang diyakini tertimbun reruntuhan.
Di Tepi Barat yang diduduki, kekerasan turut meningkat. Pada Minggu, tentara Israel menembak mati Jadallah Jihad Jumaa Jadallah (15) di kamp Far’a, selatan Tubas, serta Hassan Sharkasi di kamp pengungsi Askar di timur Nablus. Paramedis dilaporkan sempat dicegah untuk memberikan bantuan kepada korban.
Editor: Muhammad Zunus


