Arina.id - Amerika Serikat (AS) berencana kembali menyerang Iran sebelum pemilu tahun ini, 3 November 2026. Gedung Putih dikabarkan telah meminta Pentagon menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran, meskipun Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan akhir terkait rencana tersebut.
Menanggapi laporan tersebut, seorang pejabat Pentagon mengatakan kepada Anadolu bahwa tugas Departemen Pertahanan AS adalah menyiapkan berbagai pilihan operasi militer bagi presiden, Rabu 7 Oktober 2026.
"Tugas departemen ini adalah menyusun dan menyampaikan opsi-opsi militer kepada presiden," kata pejabat tersebut, meskipun ia tidak membenarkan maupun membantah laporan mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran itu.
Majalah The Atlantic, mengutip dua pejabat pemerintahan AS, melaporkan bahwa skala dan sasaran serangan yang mungkin dilakukan masih menjadi bahan pembahasan, termasuk apakah pemerintahan Trump pada akhirnya akan melancarkan operasi tersebut.
Menurut laporan itu, para penasihat Trump menilai waktu yang lebih tepat untuk melancarkan serangan baru adalah setelah pemilihan paruh waktu, bukan sebelumnya.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The Atlantic bahwa Trump "memiliki semua opsi yang tersedia kapan saja", tetapi tidak menjawab pertanyaan mengenai waktu kemungkinan serangan tersebut.
Secara terpisah, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) beberapa hari sebelumnya untuk menyelesaikan persiapan guna melanjutkan operasi tempur besar-besaran di Iran, dengan mengutip sejumlah pejabat AS. Menurut laporan tersebut, instruksi itu tidak mencantumkan tanggal tertentu untuk memulai serangan.
AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah kawasan serta secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis bagi pasokan energi dunia.
Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni setelah upaya mediasi Pakistan dan Qatar untuk menghentikan permusuhan serta membuka jalan bagi perundingan.
Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut sejak itu mengalami kebuntuan akibat sejumlah perbedaan pandangan, termasuk mengenai keamanan dan pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB di New York bulan lalu, Trump mengatakan bahwa dirinya berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.
Trump juga memperingatkan bahwa dirinya menghadapi "keputusan besar" untuk menentukan apakah akan mengupayakan kesepakatan atau "menghancurkan" Iran.
Editor: Muhammad Taufiq


