Jakarta, Arina.id–Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak sekolah, kini justru menjadi sumber kekhawatiran.
Berdasarkan data resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN), hingga 22 September 2025 tercatat 4.711 kasus keracunan makanan yang diduga berasal dari konsumsi paket MBG.
“Total catatan kami itu ada sekitar 4.711 porsi makan yang menimbulkan gangguan kesehatan,” ujar Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Senin (22/9/2025).
Data tersebut dibagi ke dalam tiga wilayah:
• Wilayah I: 1.281 kasus
• Wilayah II: 2.606 kasus
• Wilayah III: 824 kasus
Dari angka itu, wilayah Pulau Jawa menjadi episentrum tertinggi insiden keracunan.
Insiden terbaru: keracunan massal di Bandung Barat dan Garut
Kasus terbaru terjadi di Kabupaten Bandung Barat. Lebih dari 300 siswa mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan MBG. Pemerintah daerah langsung menghentikan sementara distribusi makanan sambil menunggu hasil laboratorium.
Sementara itu di Kabupaten Garut, sebanyak 657 pelajar juga mengalami hal serupa. Dugaan awal mengarah pada pengolahan makanan yang tidak sesuai standar oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditunjuk sebagai pelaksana penyedia makanan MBG.
Dalam keterangan resmi, Kepala BGN menjelaskan beberapa penyebab utama keracunan:
• Kapasitas SPPG yang belum matang, karena banyak di antaranya adalah unit baru
• Kurangnya pengalaman memasak dalam skala besar
• Penggantian supplier bahan baku yang tidak terstandarisasi.
Mengapa makanan bisa menyebabkan keracunan?
Kasus keracunan makanan seperti yang terjadi dalam program MBG bukanlah insiden yang berdiri sendiri.
Secara umum, ada banyak faktor penyebab keracunan makanan yang sering kali diabaikan, baik oleh pelaku industri makanan maupun konsumen rumahan.
Dikutip dar laman halosehat.com, berikut adalah beberapa penyebab umum yang patut diwaspadai:
1. Makanan tidak higienis
Kebersihan makanan sangat memengaruhi tingkat keamanannya. Kontaminasi bisa terjadi dari dapur yang kotor, bahan makanan tidak dicuci, hingga alat masak yang tidak steril.
2. Teknik memasak tidak tepat
Daging atau telur yang dimasak setengah matang bisa menyimpan bakteri berbahaya seperti Salmonella atau E. coli yang masih hidup.
3. Penyimpanan makanan pada suhu yang salah
Makanan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang dapat menjadi sarang bakteri. Idealnya, makanan disimpan di bawah 9°C atau di atas 45°C.
4. Kontaminasi silang
Menggunakan alat yang sama untuk daging mentah dan makanan siap saji tanpa mencucinya terlebih dahulu bisa menyebabkan perpindahan bakteri.
5. Air tidak bersih
Air yang digunakan untuk mencuci bahan makanan atau peralatan makan harus bersih. Air kotor berisiko membawa bakteri atau parasit.
6. Kontak dengan orang yang sakit
Tangan atau alat yang digunakan oleh orang sakit bisa menyebarkan penyakit lewat makanan.
7. Mengonsumsi makanan berjamur
Meski jamur terlihat hanya pada sebagian makanan, akarnya bisa menyebar ke seluruh bagian. Beberapa jamur bahkan menghasilkan mikotoksin yang berbahaya bagi hati.
8. Kontaminasi zat kimia
Makanan yang dicampur formalin atau zat kimia berbahaya lainnya untuk meningkatkan daya tahan sangat berisiko bagi kesehatan.
Pemanasan makanan dalam wadah plastik juga bisa memicu pelepasan zat kimia ke dalam makanan.
Editor: Kendi Setiawan


