Dark
Light
Dark
Light

Terbukti Hasil Riset! Makanan Haram Bentuk Karakter Buruk Anak sejak Dini

Terbukti Hasil Riset! Makanan Haram Bentuk Karakter Buruk Anak sejak Dini

Arina.id - Diakui atau tidak, ketika seorang anak memiliki karakter nakal, brutal, atau menunjukkan perilaku buruk lainnya, hampir selalu solusi yang ditawarkan adalah merefleksi kembali pola asuh dan cara mendidiknya. Apakah orang tua sudah mendidik dengan tepat atau justru ada kesalahan di dalamnya?

Sangat jarang kita menemukan solusi yang bersifat agamis, seperti memastikan makanan halal yang masuk ke tubuh anak. Pendekatan seperti ini sering dianggap tidak masuk akal, seolah tak lagi relevan dengan zaman sekarang.

Tak heran jika langkah yang sering dipilih orang tua adalah memberikan pendidikan yang dianggap berkualitas kepada anak. Ada yang mencoba mengubah pola mendidik, dari cara yang lembut menjadi keras, atau sebaliknya. Bahkan, tak sedikit yang menempuh jalan pintas dengan mengirim anak ke pesantren, berharap akhlaknya berubah dalam waktu singkat.

Padahal, konsumsi makanan halal atau haram, baik dari cara memperolehnya maupun zat makanan itu sendiri, sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Hal ini bukan sekadar anggapan tanpa dasar, melainkan sudah dibuktikan sejak lama oleh para ulama, dan kini diperkuat oleh berbagai penelitian modern.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami pernah melakukan riset tentang mengapa di satu daerah banyak lahir anak-anak yang saleh, sementara di daerah lain justru sebaliknya. Dari penelitiannya, beliau menemukan bahwa faktor utama yang memengaruhi hal tersebut adalah konsumsi makanan halal dan haram di daerah tersebut.

وَمِنْ الْمُشَاهَدَةِ أَنَّ بَعْضَ النَّوَاحِي يَكْثُرُ فِيهَا الصَّالِحُونَ وَالْمُتَّقُونَ، وَبَعْضَهَا يَقِلُّونَ فِيهِ، وَلَقَدْ اسْتَقْرَيْنَا سَبَبَ ذَلِكَ فَلَمْ نَجِدْهُ غَيْرَ أَكْلِ الْحَلَالِ أَوْ قِلَّةِ تَعَاطِي الشُّبُهَاتِ، فَكُلُّ نَاحِيَةٍ كَثُرَ الْحِلُّ فِي قُوتِ أَهْلِهَا كَثُرَ الصَّالِحُونَ فِيهَا وَعَكْسُهُ بِعَكْسِهِ، إذَا تَقَرَّرَ ذَلِكَ فَمُعْتَمَدُ مَذْهَبِنَا أَنَّ مُعَامَلَةَ مَنْ أَكْثَرُ أَمْوَالِهِ حَرَامٌ مَكْرُوهَةٌ لَا مُحَرَّمَةٌ

Artinya: ”Jika kita perhatikan, di beberapa daerah ada banyak orang saleh dan bertakwa, sedangkan di daerah lain jumlah mereka sedikit. Kami pernah meneliti penyebab hal itu, dan kami tidak menemukan sebab lain selain karena makanan halal yang dikonsumsi, atau karena mereka sedikit sekali memakan sesuatu yang syubhat (tidak jelas halal haramnya). Setiap daerah yang penduduknya banyak mengonsumsi makanan halal, maka orang-orang saleh juga banyak di sana. Sebaliknya, jika sedikit makanan halalnya, maka sedikit pula orang salehnya.” (Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, juz 3 hal.372)

Dalam sebuah tesis juga disebutkan bahwa konsumsi makanan haram ternyata berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan emosional dan spiritual seseorang. Penelitian ini dilakukan oleh seorang mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2019 dengan judul “Pengaruh Makanan Haram Terhadap Perilaku dan Tingkat Kecerdasan Emosional dan Spiritual Siswa Ditinjau dari Sudut Pandang Sufistik.”

Penelitian tersebut meneliti perilaku anak-anak yang merupakan putra-putri para pekerja seks komersial di sebuah daerah. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas dari mereka memiliki sifat jahl (bodoh atau kurang pengetahuan), mudah marah, dan cenderung bersikap egois. 

Temuan ini semakin menguatkan pandangan para ulama terdahulu bahwa makanan haram, terutama yang haram karena faktor eksternal (sebab lighairi dzatihi), seperti cara memperolehnya yang tidak halal dalam kasus para pekerja seks komersial ini. Bukan hanya memengaruhi kondisi fisik seseorang, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mereka sejak dini. 

Dari ulasan ini, seharusnya hal ini menjadi bahan renungan dan evaluasi bagi para orang tua maupun para pemangku kebijakan untuk turut memperhatikan faktor kehalalan makanan yang dikonsumsi anak-anak kita agar mereka tumbuh menjadi karakter yang cerdas dan berakhlak mulia. 

Dengan demikian, perhatian kita tidak hanya tertuju pada kualitas pola asuh dan cara mendidik mereka, tetapi juga pada sumber penghasilan orang tua, apakah sudah benar-benar halal atau belum. Terlebih di zaman akhir ini, di mana batasan antara yang halal dan haram semakin kabur, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ 

Artinya: “Akan datang suatu masa di mana manusia sudah tidak peduli lagi dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram.” (HR Al-Bukhari no. 2083). Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo