Arina.id - Bitcoin turun lebih dari 6% ke level terlemahnya dalam enam bulan pada Jumat, 14 November 2025, kemarin. Situasi ini disebabkan ketidakpastian tentang ekonomi Amerika Serikat (AS).
Situasi di Amerika itu memicu pelemahan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve pada bulan Desember. Walaupun di sisi lain, negeri penutupan kantor pemerintah (shutdown) sudah berakhir setelah 43 hari.
Sementara itu, mata uang kripto terbesar diperdagangkan pada harga USD 97.190 pada pukul 07.05 GMT, mendekati level terlemahnya sejak Mei. Data dari CoinMarketCap menunjukkan nilai pasar mata uang kripto global, termasuk Bitcoin, turun sekitar 6,9% dalam 24 jam terakhir menjadi USD 3,26 triliun.
Kapitalisasi pasar Bitcoin turun 5,8% dalam 24 jam terakhir menjadi USD 1,94 triliun, sementara volume perdagangan harian naik sekitar 50% menjadi USD 111,1 miliar. Namun, Bitcoin telah naik sekitar 4,1% sejak awal tahun 2025.
Ethereum, mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan nilai pasar, turun sekitar 9% menjadi USD 3.220.
Adapun di Indonesia, berdasar pantauan di Tokocrypto misalnya, hari ini, Sabtu 15 November 2025, harga jual Bitcoin juga turun lagi USD 96,334. Sementara Etherium dijual dengan harga USD 3,177.
Dikutip dari Anadolu, aksi jual ini terutama didorong oleh ketidakpastian atas prospek ekonomi AS. Pasar mengurangi taruhan pada penurunan suku bunga The Fed setelah penutupan pemerintah selama hampir 43 hari, yang berakhir Rabu, 12 November 2025.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa data ketenagakerjaan dan inflasi penting bulan Oktober mungkin tidak akan dirilis. Hal ini membuat The Fed memiliki lebih sedikit informasi menjelang pertemuannya pada 10-11 Desember.
Menurut CME FedWatch, pedagang memperkirakan peluang sebesar 45,4% untuk pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember pada hari Jumat, turun dari probabilitas 63,8% seminggu sebelumnya.
Kurangnya data ekonomi resmi mengurangi selera risiko dan membebani aset spekulatif, membuat para pedagang berhati-hati di pasar mata uang kripto.
Editor: Muhammad Taufiq


