Dark
Light
Dark
Light

Hidup Sederhana Hati Bahagia; Filosofi Minimalisme ala Sokrates hingga Gandhi

Hidup Sederhana Hati Bahagia; Filosofi Minimalisme ala Sokrates hingga Gandhi

Jakarta, Arina.id — Dalam kehidupan modern manusia sering kali dipenuhi dengan dorongan keinginan yang membuat mereka tidak pernah puas. Manusia pada umumnya menganggap kebahagaiaan adalah dengan memiliki lebih daripada yang telah dicapai saat ini. Padahal kebahagiaan sejati tidak diukur dari dicapainya berbagai keinginan. Dalam pandangan filosofi minimalisme jalan lain menuju kebahagiaan adalah merasa cukup. 

Demikian poin-poin yang disampaikan dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz dalam tayangan ceramahnya di akun Suara Filsuf.

"Hidup ini sebenarnya tidak mengejar lebih, kalau kita tidak ingin masalah. Kata Sokrates, 'Rahasia bahagia engkau tahu tidak ditemukan dalam mencari lebih banyak, tetapi dalam mengembangkan kapasitas untuk bisa menikmati lebih sedikit," terang Fahruddin Faiz.

Dia memberikan tips agar masyaraka berlatih bukan untuk memiliki banyak hal yang diinginkan, tapi latihanlah untuk bisa menikmati yang lebih sedikit dari yang dimiliki. Hal itu akan membuat bahagia.

"Kembangkan dirimu ke level bisa menikmati yang sedikit, bukan ke level punya banyak hal, punya banyak barang. Nanti kalian akan bahagia. Jadi, kalau fokusmu hanya memiliki sesuatu, tadi kamu merasa berarti dengan punya banyak. Ayo sekarang latihan: kamu tetap merasa berarti meskipun punya sedikit. Ini namanya bisa menikmati yang sedikit, merasa cukup dengan yang sedikit," bebernya.

Masih mengutip Sokrates, Fahruddin mengatakan: "Dia yang tidak puas dengan apa yang dia miliki, tidak akan puas dengan apa yang dia ingin miliki."

Jika kita tidak puas dengan yang kita miliki sekarang, biasanya kita menginginkan sesuatu. Tetapi percayalah, kalau apa yang kita inginkan itu tercapai, kita juga tidak akan puas. Karena yang kita kejar adalah kepuasan dalam kepemilikan. Sementara manusia itu punya tabiat tamak. Kalau sekadar keinginan, tidak pernah ada habisnya.

"Coba kalian tanya, siapa orang paling sukses di dunia. Terus kamu tanya, "Sudah selesai nggak pengin apa-apa?" Pasti jawabannya: masih banyak. Masih pengin ini, pengin itu. Tidak ada habisnya. Jadi, ayo latihan untuk bisa puas dengan apa yang kita miliki sekarang. Di situ kuncinya kebahagiaan, yang diajarkan oleh minimalisme," lanjutnya.

Pandangan semacam itu, kata Fahruddin juga dikuatkan oleh Lao Tzu yang mengatakan: "Orang yang merasa cukup dengan yang ia miliki adalah orang kaya."

Dengan demikian definisi kaya menurut Lao Tzu itu adalah orang yang merasa cukup.

"Kalau ada yang tanya, "Sampeyan ini orang kaya apa orang miskin?" Jawabannya bukan kamu punya apa, hartamu berapa. Tapi: kamu puas atau tidak dengan yang kamu miliki sekarang? Kalau kalian merasa puas dengan yang dimiliki sekarang, kalian orang kaya," terang Fahruddin.

Dia menyarankan para mahasiswa untuk mengklaim sudah kaya dengan menunggu nanti lulus, nunggu S2, jadi dosen, gaji besar, baru bisa beli macam-macam. Saat ini pun, saat masih menjadi mahasiswa, mereka bisa jadi orang kaya, dengan menerima dan menyukai apa pun yang kamu miliki. 

Pandangan serupa juga dikuatkan oleh Mahatma Gandhi yang mengatakan: "Hiduplah dengan sederhana agar orang lain juga dapat hidup."

"Kalau semua orang serakah, nanti isinya konflik, tabrakan. Kita harus tahu kapan kita berhenti. Kalau hari ini orang kaya relasinya banyak, tambah jaya-tambah jaya, yang lain tidak kebagian ruang untuk berkembang. Sekarang dibalik. Saatnya kita berbagi. Meskipun sekadar berbagi waktu, berbagi ruang, berbagi kesempatan. Dengan kita berhenti mengikuti ketamakan kita," ujar Fahruddin Faiz.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo