Jakarta, Arina.id—Setelah satu dekade diwarnai pergantian delapan presiden akibat krisis politik dan skandal korupsi, Peru memasuki babak baru. Otoritas pemilihan umum resmi menetapkan Keiko Fujimori sebagai pemenang pemilihan presiden putaran kedua, membuka harapan bagi stabilitas politik di negara Amerika Selatan tersebut.
Fujimori berterima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan jutaan warga Peru kepadanya dan berjanji segera bekerja menyelesaikan persoalan negara.
"Di balik kegembiraan atas hasil ini, kami tidak akan menunggu lebih lama lagi karena kami berada di sini untuk menyelesaikan berbagai persoalan negara dan mulai mengambil keputusan," ujar Fujimori, dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 5 Juli 2026.
Fujimori merupakan putri sulung mantan Presiden Alberto Fujimori, yang meninggal pada tahun 2024. Ia menghadapi kandidat berhaluan kiri yang juga mantan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata Roberto Sanchez dalam pemilihan putaran kedua pada 7 Juni.
Kandidat dari Partai Popular Force itu memperoleh 9.223.396 suara, unggul tipis atas pesaingnya dari Partai Together for Peru, Roberto Sanchez, yang meraih 9.173.755 suara. Selisih keduanya mencapai 49.641 suara.
Fujimori dijadwalkan akan dilantik pada tanggal 28 Juli. Ia akan menghadapi berbagai tantangan, seperti menstabilkan politik dalam negeri dan menemukan keseimbangan hubungan antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Cina, yang merupakan mitra dagang terbesar Peru.
Fujimori menjelaskan kantor transisi akan bertugas mengidentifikasi sektor-sektor prioritas sebelum pemerintahan baru mulai bekerja, sekaligus memastikan proses pergantian pemerintahan berlangsung cepat dan bertanggung jawab.
"Persoalan yang dihadapi rakyat Peru tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Untuk dapat bertindak, kami harus mengetahui secara tepat kondisi negara yang akan kami warisi," katanya.
Keiko Fujimori bukan sosok baru dalam politik Peru. Sebelum memenangkan pemilu kali ini, ia telah tiga kali maju sebagai calon presiden, yakni pada 2011, 2016, dan 2021, namun selalu mengalami kekalahan tipis.
Karier politiknya juga sempat dibayangi berbagai proses hukum terkait dugaan pendanaan kampanye, meski sejumlah perkara telah dihentikan atau masih bergulir melalui mekanisme peradilan.
Kemenangannya pada Pemilu 2026 menjadi pencapaian politik terbesar setelah lebih dari satu dekade berupaya merebut kursi kepresidenan.
Editor: Suci


