Batang, Arina.id — Program pengelolaan minyak jelantah yang diinisiasi Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang Jawa Tengah mencatat capaian signifikan.
Selama delapan bulan berjalan, program tersebut berhasil meraih omzet sebesar Rp63 juta.
Ketua TP PKK Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, mengatakan bahwa program ini menjadi fokus utama pada tahun sebelumnya dengan tujuan menjaga lingkungan.
“Tahun kemarin kita ingin fokus di satu program yaitu minyak jelantah yang tujuannya untuk menjaga lingkungan sekitar,” katanya diberitakan laman batangkab.go.id diakses Minggu (22/3/2026).
Saat Sosialisasi Penguatan Program Minyak Jelantah Jadi Rupiah di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Kamis (12/3/2026), pihaknya menjelaskan, pada tahap awal program ini dijalankan dalam skala kecil dengan metode jemput bola.
"Mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner, untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya minyak jelantah bagi lingkungan," terangnya.
Menurutnya minyak jelantah tersebut akan dibeli oleh PKK Kabupaten Batang dengan harga Rp7 ribu per liter, yang nantinya oleh supplier akan digunakan untuk bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan pengganti avtur.
Pada tahun ini, lanjutnya, program akan dikembangkan dengan menggandeng mitra dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Batang serta bekerja sama dengan Perusahaan Daerah (Perusda).
“Jadi, nanti dari teman-teman SPPG apabila ada minyak jelantah, bisa dikerjasamakan dengan kami, seperti contohnya kemarin di SPPG Kedawung kita menerima minyak jelantah sebesar 202,5 liter, nah ini sekaligus bisa menjadi ekonomi sirkuler,” terangnya.
Faelasufa menambahkan, konsep ekonomi sirkuler yang diterapkan dalam program ini memungkinkan limbah minyak jelantah dimanfaatkan kembali sehingga tidak terbuang percuma dan tetap bernilai ekonomi.
“Misalkan, SPPG yang minyak jelantahnya dibuang itu kan akan terputus, tapi jika minyak jelantahnya dijual dan dimanfaatkan menjadi bahan bakar pesawat, maka itu merupakan salah satu contoh ekonomi sirkuler yang positif,” ungkapnya.
Ketua Pokja Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Setyo Prabowo, menyebutkan bahwa setiap SPPG berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar setiap harinya.
Setyo menjelaskan, rata-rata setiap SPPG menghasilkan limbah padat berupa sampah organik dapur sekitar 70–100 kilogram per hari serta minyak jelantah sebanyak 50–60 liter per hari.
“Harapannya SPPG dapat bekerjasama dengan penyedia jasa yang dalam hal ini bisa melalui PKK Kabupaten Batang untuk pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan sampahnya,” ujar dia.
Editor: Kendi Setiawan


