Dark
Light
Dark
Light

Modul Ngaji 'Sepuh Sepuh' Ala Yunita Menjadikannya Penyuluh Agama Terbaik Nasional 2025

Modul Ngaji 'Sepuh Sepuh' Ala Yunita Menjadikannya Penyuluh Agama Terbaik Nasional 2025

Sastra Yunita merupakan penyuluh agama Islam yang berjibaku mengajar mengaji orang lanjut usia (lansia) di Jorong Sawah Laweh, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar).

Perempuan 36 tahun yang akrab disapa Ice ini memprakarsai lahirnya program "Penerapan Pola Sepuh Sepuh dengan Metode Mutlaqi”, sebuah strategi efektif untuk meningkatkan kualitas bacaan Alquran bagi lansia.

Program ini hadir dari keprihatinan Ice terhadap bacaan Alquran para lansia di majelis-majelis taklim setempat. Ia menemukan banyak lansia yang belum bisa membaca sama sekali atau membaca tetapi belum sesuai kaidah tajwid.

"Di majelis Yasin yang sering saya datangi, masih banyak bacaan Alquran ibu-ibu lansia yang belum sesuai kaidah tajwid. Ada juga yang belum bisa membaca sama sekali. Dari situlah muncul keinginan saya membuat program khusus bagi mereka," ujar lulusan Fakultas Dakwah UIN Imam Bonjol Padang itu, Kamis 23 Oktober 2025.

Pola Sepuh Sepuh merupakan singkatan dari Sepuluh Kali Pertemuan dengan Sepuluh Materi, yang disusun Ice ke dalam Modul Pembelajaran Tajwid. Materi ini diberikan secara bertahap agar peserta tidak kebingungan.

Metode Mutlaqi adalah gabungan antara Mutqin dan Talaqqi. Talaqqi menekankan tatap muka langsung antara guru dan murid, sedangkan Mutqin menekankan pengulangan materi. Dengan kombinasi ini, Ice memastikan peserta memahami bacaan secara bertahap dan efektif.

Setiap pertemuan berdurasi dua jam. Satu jam pertama fokus pada materi, kemudian dilanjutkan tadarus untuk memperbaiki bacaan. Namun, perbaikan hanya difokuskan pada materi yang sudah diberikan sebelumnya.

"Kalau materi baru sampai pada makharijul huruf, yang diperbaiki hanya makharijul huruf dulu. Kesalahan seperti dengung atau panjang akan dikoreksi setelah materinya diberikan. Jadi lansia tidak bingung," jelas ibu 4 orang anak itu.

Semula, Ice menghadapi kesulitan mengumpulkan peserta. Ia harus mengajak ibu-ibu lansia satu per satu. Selama tiga bulan pertama, kemajuannya sangat lambat karena kesibukan peserta.

"Tantangan awal adalah mengumpulkan jamaah. Saya temui satu per satu, ajak satu per satu, tapi tiga bulan lamanya belum ada kabar. Mungkin karena kesibukan masing-masing," kata Ice.

Usahanya berbuah hasil. Peserta meningkat dari tiga orang menjadi delapan, lalu terus bertambah hingga 75 orang yang tergabung dalam tiga kelompok majelis taklim. Masing-masing, Halaqah Darrul Qur’an di Jorong Sawah Laweh, Nagari Tungkar, Majelis Taklim Khadijah di Masjid Baitul Huda, Nagari Tungkar, dan Majelis Taklim Nurul Hikmah di Mushalla Nurul Hikmah, Nagari Ladang Laweh.

"Saya mengajar di rumah salah seorang peserta atau kadang juga di masjid. Mereka lalu berkumpul di sana. Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai pensiunan, guru, hingga ibu rumah tangga," katanya.

Hasil Nyata Berbuah Prestasi Nasional

Perkembangan bacaan Alquran para lansia sangat nyata. Dulu, dua baris ayat memakan waktu lama, sekarang peserta mampu membaca lebih banyak dalam durasi yang sama.

"Dulu, untuk membaca dua baris Alquran saja butuh waktu lama dan dalam dua jam hanya separuh peserta yang sempat membaca. Sekarang, dalam dua jam, 30 orang dalam satu kelompok bisa membaca minimal enam baris per orang," tuturnya.

Peserta yang sebelumnya tidak bisa membaca kini mulai lancar, sedangkan yang sudah bisa membaca namun belum sesuai tajwid kini mampu membaca dengan baik.

Beberapa peserta bahkan sudah mengajarkan bacaan mereka kepada majelis lain, dan ada yang berhasil mengadakan khataman Alquran. "Alhamdulillah, mereka tambah semangat dan terus belajar," katanya.

Di sisi lain, ketulusan dan konsistensinya dalam mendampingi para lansia lewat kegiatan literasi Alquran dan bimbingan rohani, membuat Ice mendapat apresiasi tinggi di tingkat nasional. Ia meraih Anugerah Penais Award 2025 sebagai Penyuluh Agama Islam Terbaik dalam Kategori Peningkatan Literasi Alquran.

Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dalam acara puncak yang digelar di Aston Kartika Grogol Hotel, Jakarta, pada Senin malam, 25 Agustus 2025.

Kemenangan Ice bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan bukti nyata bahwa inovasi sosial berbasis nilai keagamaan dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat.

Melalui Program Sepuh Sepuh, ia membuktikan bahwa penyuluh agama tidak hanya berkutat pada ceramah di mimbar, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menyentuh sisi kemanusiaan paling dalam. Dedikasi dan kerja kerasnya menjadi inspirasi bagi para penyuluh di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi dan berkhidmat dengan hati.

Dukungan Pemerintah

Program ini sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 80 Tahun 2022 tentang jabatan fungsional penyuluh agama Islam, yang salah satu tugasnya adalah pemberantasan buta huruf Alquran.

Ice sendiri memulai sebagai penyuluh agama honorer pada tahun 2020 dan resmi diangkat menjadi Penyuluh Agama Islam PPPK pada Agustus 2023. Hebatnya, programnya kini mendapat dukungan Kementerian Agama (Kemenag), termasuk bantuan penerbitan modul pembelajaran yang sedang direvisi.

"Kemenag sangat mendukung program ini dan siap membantu proses penerbitan modul jika revisinya sudah selesai," ceritanya.

Selain mengajar, Ice juga aktif di kegiatan seni dan sosial, seperti menyanyi gambus, menjadi MC akad nikah, melatih pidato dan Musabaqah Syarhil Qur’an, hingga membuka Kamp Pelatihan Da’i Cilik (KAMCI) untuk anak-anak.

Ia juga mendampingi remaja SMA dan remaja masjid agar terhindar dari pergaulan bebas dan pernikahan dini. "Semua yang positif untuk kebaikan, saya upayakan sebisa mungkin," katanya.

Ice berharap modul Pola Sepuh Sepuh bisa dipatenkan dan digunakan oleh majelis lain di luar kelompoknya. Ia juga berencana membentuk majelis tahsin baru bagi masyarakat yang bacaan Alqurannya masih banyak kesalahan.

"Banyak sekolah menjalankan program tahfizh, tapi bacaan siswa masih banyak kesalahan. Kalau guru-gurunya bisa membaca dengan baik, mereka bisa menularkan itu ke murid-muridnya," jelasnya.

Program Pola Sepuh Sepuh kini bukan sekadar belajar mengaji, tetapi menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan semangat belajar di usia senja.

"Selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus mendampingi lansia memperbaiki bacaan Alquran mereka," katanya Ice. (IKI)

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
 


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo