Dark
Light
Dark
Light

ASN Kemenag Semarang Berhati Malaikat, Menyelamatkan Bayi-Bayi yang Tidak Diinginkan

ASN Kemenag Semarang Berhati Malaikat, Menyelamatkan Bayi-Bayi yang Tidak Diinginkan

Di balik kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang, Yusuf Amri melakoni peran lain dalam hidupnya, yang jauh dari urusan birokrasi. Dia bukan sekadar pegawai pemerintah, tapi juga seorang ayah asuh berhati malaikat.

Sehari-hari, selain sibuk bekerja sebagai ASN, Yusuf, demikian orang-orang akrab menyapanya, juga menjadi orang tua asuh merawat puluhan bayi dan anak-anak telantar yang kelahirannya tidak diinginkan oleh orang tua mereka.

Hampir setiap hari suara tangisan bayi terdengar bersautan dari rumah sederhana di Jalan Gayamsari Selatan Raya, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang. Di sanalah Yusuf mengasuh, merawat hingga menyekolahkan puluhan anak yang ditelantarkan orang tuanya. Nama bayi-bayi itu pun tercatat dalam satu Kartu Keluarga (KK) milik Yusuf.

Perjalanan Yusuf menjadi ASN dimulai pada 2007 ketika ia diangkat sebagai guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri Sumerrejo. Sebelumnya dia sudah mengajar di beberapa sekolah swasta. Lalu pada 2021, Yusuf bertugas di kantor Kemenag Kota Semarang di bagian Pondok Pesantren (PD Pontren), membawahi pendidikan pesantren, madrasah diniyah dan TPQ.

Namun jauh sebelum itu, kepedulian Yusuf terhadap anak-anak yang terpinggirkan sudah tertanam sejak 2002. Saat itu, dia mengasuh delapan anak jalanan di sekolah swasta tempatnya menjadi kepala sekolah. 

Meski hanya sebagian kecil anak jalanan mau bertahan bersekolah, pengalaman itu menanamkan prinsip pada Yusuf untuk menyelamatkan kehidupan anak-anak yang membutuhkan perhatian, pendidikan dan kasih sayang.

Perhatian Yusuf terhadap anak-anak yang rentan mencapai titik puncaknya ketika ia pertama kali menolong ibu hamil yang terlantar sekitar medio 2016-2017. Dua kasus yang dia ingat dengan jelas adalah perempuan yang hamil di luar nikah justru berusaha menggugurkan bayinya. 

Air mata Yusuf pecah saat ia mengenang sebuah peristiwa dalam perjalanan dari Semarang menuju Mranggen itu. Di pinggir jalan, dia menemukan seorang perempuan hamil, tampak tak berdaya, diduga menjadi korban laki-laki yang tidak bertanggung jawab. 

Rasa putus asa tergambar jelas di wajahnya. Yusuf berusaha sekuat tenaga menolong, namun takdir berkata lain, baik bayi dalam kandungan maupun ibunya tidak tertolong. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam di hati Yusuf, sekaligus meneguhkan tekadnya untuk terus menjadi pelindung bagi mereka bayi dan anak-anak tidak berdosa tapi tidak diharapkan itu.

"Hati saya tergugah melihat mereka, bayi tidak berdosa, perempuan juga korban lingkungan dan pergaulan," kata Yusuf membuka cerita saat ditemui di kediamannya, Sabtu 18 Oktober 2025.

Dari pengalaman itu, Yusuf memutuskan untuk menjadikan rumahnya sebagai ruang aman bagi bayi maupun anak yang tidak diinginkan. Tahun 2023 yayasan bernama Rumah Bayi Nusantara yang dikelola Yusuf mendapat pengakuan hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Rumah pribadi Yusuf yang dijadikan yayasan kimi menampung 30 bayi dengan usia mulai 1 hingga 27 bulan serta 27 orang remaja. Bayi dan anak-anak ini berasal dari latar belakang beragam, termasuk anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya. Tetapi mereka mendapat perlindungan dan jaminan pendidikan di bawah asuhan Yusuf.

Visi yayasan ini jelas yakni menolong tanpa syarat, menyelamatkan hidup, memperjuangkan masa depan, dan menjaga nasab anak-anak. Dia menekankan pentingnya pendidikan dan akhlak yang baik bagi anak-anak, di samping menyediakan kebutuhan dasar seperti susu, popok, dan pakaian. 

"Kami tidak pernah mengadopsi anak-anak. Mereka tetap punya identitas asli, kami hanya memastikan mereka aman dan punya masa depan," ungkapnya. 

Selain mengurus rumah bayi, Yusuf juga memastikan anak-anak tetap sekolah. Untuk PAUD hingga SMP/MTs, yayasan memiliki klaster sendiri, sementara untuk SMA dan perguruan tinggi, mereka bekerja sama dengan lembaga pendidikan. Tahun ini, 14 anak asuh Yusuf bahkan diterima di UIN Walisongo Semarang. 

Yusuf mengaku perjuangannya menyelamatkan bayi-bayi yang tak diinginkan sempat menuai cibiran. Bahkan, ia pernah sempat diusir warga ketika menampung ibu hamil yang terlantar akibat stigma sosial. Meski begitu, keteguhan hatinya tetap tidak tergoyahkan.

"Setiap anak berhak hidup dan mendapat kesempatan meraih masa depan, tanpa dibebani kesalahan orang tua," kata Yusuf. 

Lebih lanjut, Yusuf mengungkap rasa syukurnya karena ada beberapa anak asuhnya yang telah kembali ke dalam pelukan keluarganya. Baginya, sebaik-baiknya tempat bagi seorang anak adalah keluarga.

"Harapan dan cita-cita saya, mereka bisa kembali ke keluarga. KK-nya pun sudah saya pindahkan ke keluarga masing-masing. Namun, sebagian anak masih kami biayai karena keluarganya belum mampu," tukasnya. 

Dari guru madrasah hingga ASN Kemenag dan pengelola yayasan, Yusuf Amri menunjukkan bahwa dedikasi dan kepedulian bisa mengubah hidup banyak orang. Rumah Bayi Nusantara bukan sekadar rumah, tapi simbol cinta, harapan dan kesempatan kedua bagi mereka yang tak punya siapa-siapa. (MRD)

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
 


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo