Dark
Light
Dark
Light

Viral Maulid Nabi Pakai Bahasa Indonesia: Kearifan Tradisi Lama yang Jadi Tren Baru

Viral Maulid Nabi Pakai Bahasa Indonesia: Kearifan Tradisi Lama yang Jadi Tren Baru

Jakarta, Arina.id - Biasanya bacaan Maulid Nabi pakai bahasa Arab, nuansanya syahdu tapi sering bikin yang awam nggak paham isi teksnya. Nah, baru-baru ini Majelis Taklim Raudhatul Mustofa dari Magelang bikin terobosan. Mereka membacakan Maulid versi bahasa Indonesia. Videonya viral di Instagram dan sudah dibagikan lebih dari 155 ribu kali.

“Allâhumma shalli wasallim wabarik ‘alaih, kesedihan mendera Ibunda Rasul kita, malaikat pun berdatangan menghibur dirinya. Bawa kabar berita keagungan putranya,” demikian potongan shalawat dikutip Arina.id, Jumat (5/9/2025).

Video tersebut mendapat respons positif. Banyak warganet menganggapnya efektif, terutama bagi mereka yang kesulitan memahami teks berbahasa Arab.

“Bagus ini, jadi lebih paham apa yang dibaca atau didengar, khususnya bagi saya yang awam dan belum pernah belajar bahasa Arab. Jadi lebih meresapi juga,” kata Ulul Azmi kepada Arina.id.

Ketua Lesbumi PBNU, Jadul Maula, mengatakan fenomena tersebut sebetulnya bukan hal baru di Nusantara. Sejak dulu para ulama telah menyusun kitab maulid dalam berbagai bahasa daerah.

“Bukan pertama terjadi. Dalam tradisi Jawa, banyak kelompok masyarakat menjaga dan melestarikan bacaan kitab Maulid Jawi yang berusia puluhan hingga ratusan tahun, dengan nama dan langgam yang bervariasi,” ujarnya.

Para ulama memang menerjemahkan kitab maulid yang berbahasa Arab, seperti Al-Barzanji atau Ad-Diba’i. Namun ada pula yang orisinal, ditulis langsung dalam bahasa lokal.

Di Bantul, misalnya, ada Shalawat Emprak, Dzikir Maulid Jawi, dan Shalawat Montro. Di Kulon Progo terdapat Shalawat Mondreng. Sementara di Banyumas ada tradisi Janjanen.

“Dalam suatu kesempatan acara maulid di Mamuju, Sulbar, saya juga pernah melihat dan mendengar para santri di sana mendendangkan maulid dalam bahasa Bugis,” tutur Jadul.

“Jadi, membaca maulid dalam bahasa daerah sudah menjadi tradisi yang sangat lama di Nusantara,” jelasnya.

Senada dengan itu, budayawan Zastrouw Al Ngatawi menilai fenomena ini sebagai cermin kearifan bangsa Nusantara. Menurutnya, hal seperti ini sudah lama dilakukan para ulama dan pendakwah Islam, khususnya sejak era Walisongo.

“Kita bisa melihat beberapa serat dan naskah kuno, seperti Serat Anbiya atau Kidung Shalawat Emprak. Semua mencerminkan proses vernakularisasi atau pelokalan atas teks-teks agama berbahasa asing,” jelasnya.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo