Madinah, Arina.id
Agar pelaksanaan ibadah haji tahun 2024 berjalan dengan baik, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Makkah Khalilurrahman mengingatkan jemaah untuk memperhatikan beberapa hal seperti kondisi cuaca panas ekstrem yang bisa mencapai 50 derajat celcius saat puncak ibadah haji. Ia mengingatkan bahwa bulan Mei sampai Agustus 2024 merupakan musim kemarau di Tanah Suci.
“Hindari langsung dengan sengatan matahari. Jemaah haji lebih banyak beribadah di hotel atau di masjid atau mushala yang ada di hotel, terutama jemaah yang lansia, yang risiko tinggi agar tidak memaksakan diri untuk melaksanakan sholat di Masjidil Haram,” imbaunya, Senin (20/5/2024).
“Kecuali bagi mereka yang sehat, yang kuat untuk melaksanakan sholat di Masjidil Haram tetap membawa payung, kemudian membawa air, jangan sampai dehidrasi, karena banyak kasus jemaah yang sakit karena dehidrasi ketika di Masjidil Haram lupa membawa payung, lupa membawa air,” imbuhnya.
Saat sholat di Masjidil Haram lanjutnya, jemaah harus memastikan sandal atau sepatu yang dibawa tidak ditinggal atau dititipkan di loker-loker penitipan sandal-sepatu di area Masjidil Haram. Pasalnya, masuk dan keluar ke dan dari masjid sering menggunakan jalur atau pintu yang berbeda.
“Masuknya dari pintu King Fahd nanti keluarnya akan berbeda. Oleh karena itu, saran saya jika menggunakan sandal masukan dalam kantong plastik, masukkan tas, dan dibawa jangan ditinggal,” katanya.
Jika jemaah lupa lokasi hotel, maka yang bersangkutan harus bertanya kepada petugas agar tidak kebingungan dan tersesat. Jemaah juga harus memastikan diri membawa kartu hotel untuk antisipasi jika terpisah dari rombongan.
“Nanti tunjukkan kartu hotel itu kepada petugas sehingga petugas mudah mengantarkan jemaah sampai ke sektornya, ke kantornya, ke hotelnya, dan ke kamarnya,” jelasnya.
Selain kartu hotel, jemaah juga harus selalu menggunakan gelang jemaah haji yang memuat identitas jemaah seperti nama, kloter, paspor, dan identitas lainnya. Gelang ini akan itu sangat memudahkan petugas untuk membantu melayani jemaah ketika tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit, pingsan, atau terpisah rombongan dan lupa hotelnya.
Saat beribadah di Masjidil Haram, jemaah juga diimbau untuk tidak membawa perhiasan dan barang berharga. Dikhawatirkan menjadi pemicu tindakan kriminal atau pencopetan yang terjadi di area Masjidil Haram.
Untuk memastikan keamanan juga lanjutnya, jemaah tidak berangkat sendirian ke Masjidil Haram alias selalu berkelompok atau beregu. “Ketika berangkat 10 orang, maka pulang pun harus 10 orang. Ketika berkelompok 5 orang, pulang pun 5 orang. Jangan sendiri-sendiri. Pastikan berangkat bareng, pulang pun bareng,” imbaunya.
Khalilurrahman juga mengimbau jemaah untuk tidak memasak di hotel yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Jika mau memasak, maka peralatan yang digunakan harus dipastikan aman seperti alat masak listrik atau otomatis.
“Pastikan ketika ditinggal pergi seperti sholat ke Masjidil Haram, semua alat masak tersebut mati dulu, sehingga tidak terjadi kebakaran seperti tahun-tahun yang lalu. Karena lalai ditinggal untuk sholat, kemudian magicom-nya meledak kebakaran,” pungkasnya.
Editor: Muhammad Faizin


