Jakarta, Arina.id — Ada sesuatu yang terasa ganjil dalam pidato Presiden RI Prabowo Subianto dalam Harlah ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Rabu malam, 23 Juli 2025. Selama sejam lebih berpidato, Prabowo hanya sekali menyebut nama Muhaimin Iskandar.
Prabowo mengawali pidato dengan salam lalu penghormatan kepada Wakilnya Gibran Rakabuming Raka, kemudian menyebut nama Wapres ke-13 sekaligus Ketua Dewan Syuro PKB Ma'ruf Amin. Disusul Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Setelah itu pidato mengalir saja selama sejam lebih.
Keunikan terjadi di sini. Selama sejam kemudian pidato inti Prabowo menyinggung soal korupsi, UU Nomor 33, situasi global, soal koalisi politik, lalu seperti biasa menyinggung program makan bergizi gratis (MBG). Namun selama itu ia tidak lagi menyebut nama Muhaimin Iskandar langsung, misalnya Cak Imin, Gus Imin, atau panggilan akrab lain.
Kita membayangkan dalam pidato intinya itu Prabowo bakal meng-endorse nama Cak Imin dalam kesuksesan program tertentu. Apalagi saat ini penguasa PKB tersebut menjabat koordinator menteri di Kabinet Merah Putih—meskipun sempat berseteru dalam Pilpres 2024 lalu.
Dalam inti pidato tidak ada apa yang disebut sebagai fenomena psikologis "Coctail Party Effect", yakni Prabowo bakal menyebut nama akrab Cak Imin berulang-ulang. Ini agak berbeda ketika Prabowo berpidato dalam acara Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Dalam Kongres PSI—yang tidak dihadiri Muhaimin—itu Prabowo berulangkali meng-endorse nama Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI. Bahkan Prabowo sempat membuat tiga pantun, dua di antaranya menyebut langsung nama Kaesang yang juga anak Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Dalam ilmu psikologi, ada teori bahwa menyebut nama orang secara langsung merupakan dasar psikologi yang kuat. Hal itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan tindakan yang benar-benar memicu respons kognitif serta emosional tertentu pada individu yang disebut namanya, serta pada orang lain yang melihatnya.
Intinya, menyebut nama bisa diartikan sebagai bentuk keakraban, kasih sayang, dan emosional tertentu, baik bagi yang menyebut atau disebut. Abraham Maslow dalam bukunya tentang teori kebutuhan: "A Theory of Human Motivation (1943), menyebutnya sebagai konsep kebutuhan pengakuan atau need for recognition.
Manusia, dalam penjelasan Maslow, memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diakui dan dihargai oleh orang lain. Teori hierarki kebutuhan Maslow itu menempatkan kebutuhan harga diri (esteem needs) di tingkat yang cukup tinggi, yang mencakup pengakuan, reputasi, dan martabat.
"Ketika seseorang menyebut nama kita, terutama di hadapan orang lain atau dalam konteks yang positif (misalnya, pujian, terima kasih, atau pengakuan atas kontribusi), ini memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Kita merasa divalidasi, dihargai, dan penting. Perasaan positif ini dapat meningkatkan harga diri dan memperkuat hubungan interpersonal."
Meskipun begitu, Prabowo menegaskan dirinya merasa nyaman saat berada di tengah PKB plus NU. Dari ungkapan itu yang harus digarisbawahi adalah NU (Nahdlatul Ulama)—merujuk pada organisasi. Padahal dalam Harlah PKB tersebut, pengurus PBNU tidak ada. Akan tetapi Prabowo memilih diksi "nyaman bersama PKB dan NU."
"Saya nyaman di tengah PKB. Saya nyaman di tengah Nahdlatul Ulama. Saya merasa dekat dengan tokoh-tokoh NU dan PKB," kata Prabowo yang kemudian mengungkit kedekatannya dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI sekaligus mantan Ketum PBNU serta Pendiri PKB.
Dia menilai PKB dan NU memiliki peran besar bagi negara, selalu berkontribusi saat Indonesia melewati sejumlah fase kritis. "Di saat genting, kritis, bangsa Indonesia—NU selalu tampil sebagai penyelamat dan stabilisator,” katanya.
Prabowo pun sepakat dengan pandangan Ketua Dewan Syuro PKB KH Ma'ruf Amin yang mengingatkan kembali tentang Pasal 33 UUD 1945. Menurut presiden, pandangan Kiai Ma'ruf sangat relevan dan menyentuh langsung ke jantung masalah.
"Saya sangat terkesan dengan sambutan dari Prof Maruf Amin. Sangat terkesan, sangat kena ke inti masalah. Saya terus terang saja sekian puluh tahun ini jarang mendengar tokoh politik, tokoh masyarakat, bahkan ahli ekonomi sekalipun jarang saya dengar Pasal 33 UUD tadi. Seolah Pasal 33 tidak pernah ada dalam UUD," ujar Prabowo.
PKB dan NU, ia melanjutkan, selalu konsisten menghadirkan citra Islam yang moderat dan bisa masuk ke lintas kalangan. Hal itu, kata Prabowo, menjadi alasan PKB dan NU bisa diterima di banyak lapisan masyarakat.
Prabowo berpesan agar NU dan PKB terus menjalankan peran menjadi Islam yang moderat. “Berbakti, bermanfaat bagi semua. Ini kuncinya: politik kita harus demikian, rahmatan lil alamin," kata Prabowo cukup diplomatis di tengah ketegangan hubungan PKB dan PBNU dalam beberapa waktu belakangan ini.
Editor: Muhammad Zunus


