Arina.id -- Sya’ban merupakan bulan ke-8 dalam urutan kalender Hijriyah dan memiliki makna tersendiri bagi umat Islam. Musta’in Romli mencatat setidaknya ada 2 peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban, yaitu perubahan arah kiblat shalat dari Baitul Maqdis ke Baitullah (Ka’bah) dan disetorkannya catatan amal manusia selama satu tahun terakhir.
1. Perubahan Arah Kiblat
Para ulama berbeda pendapat terkait waktu terjadinya perubahan arah kiblat shalat umat Islam. Namun demikian, mayoritas ulama sepakat bahwa perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah terjadi pada bulan Sya’ban tahun 18 Hijriyah.
“Hal ini tertera dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyah Ibnu Katsir,” jelas Musta’in Romli dalam artikel Inilah Peristiwa-peristiwa Bersejarah di Bulan Sya'ban, diakses Senin (3/2/2025).
Musta’in kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya Rasulullah menghadap ke arah Baitul Maqdis saat melaksanakan ibadah shalat . Padahal sejatinya, Rasulullah lebih senang menghadap ke arah Ka'bah karena itu adalah kiblat nenek moyang beliau, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah pun merasakan kegundahan karena pada saat yang sama, umat Yahudi pun melaksanakan ibadah dengan menghadap ke Baitul Maqdis.
“Perasaan itu terus menghantui Rasulullah hingga akhirnya beliau hijrah ke Madinah dengan tetap beribadah menghadap kiblat Baitul Maqdis selama enam bulan lamanya,” jelas Musta’in.
Rasulullah pun mengadu kepada Malaikat Jibril agar kegundahannya ini disampaikan kepada Allah. Tidak lama kemudian turunlah ayat yang mengabarkan bahwa Allah mengabulkan permintaan Rasulullah melalui firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Artinya: "Sungguh kami (Allah) sering melihat wajahmu menegadahkan ke langit, maka sungguh kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu ridlai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana pun kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya."
“Pengaduan Rasulullah kepada malaikat Jibril berlangsung ketika Rasulullah mengimami shalat para sahabat di masjid, Imam ar-Romli menjelaskan hal itu dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj bahwa semula Rasulullah berada di paling depan masjid tempat imam,” jelas Musta’in masih dalam artikel tersebut.
Selanjutnya, ketika Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memalingkan tubuhnya ke arah Ka'bah, maka secara otomatis posisi Rasulullah berbalik lalu berada di ujung masjid dan para sahabat pun mengikuti Rasulullah sehingga mereka berada tepat di belakang Rasul dan membelakangi Baitul Maqdis.
“Imam Romli menegaskan bahwa kejadian tersebut lahir sebelum diharamkannya bergerak banyak yang bisa membatalkan shalat. Demikian pula sebelum hukum berbicara termasuk membatalkan shalat diberlakukan,” terang Musta’in.
Mengutip kitab Al-Qaul al-Mubin Fi Sirah Sayyidil Mursalin, Musta’in menjelaskannya bahwa maksud dari kejadian ini adalah untuk membedakan antara kiblatnya orang Musyrik-Yahudi dan kiblatnya umat Islam. Agama Islam kembali ke khittah dengan menghadap kiblat ke Ka'bah sebagaimana nenek moyang Rasulullah yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
2. Laporan Catatan Amal
Musta’in kemudian menjelaskan bahwa ada peristiwa lain yang terjadi di bulan Sya’ban, yaitu disetorkannya laporan amal manusia kepada Allah.Oleh karena itu, tidak heran ketika datang bulan Sya'ban, umat Islam bersalam-salaman dalam rangka saling bermaaf-maafan sebelum amal mereka disetorkan.
Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitab Madza Fis as-Sya'ban menerangkan bahwa penyetoran amal umat manusia di bulan Syaban merupakan penyetoran amal besar-besaran layaknya sebuah perhelatan acara setor amal. Di bulan Sya'ban lah penyetoran amal terbesar, karena sebenarnya penyetoran amal tidak hanya terjadi di bulan Sya'ban.
Musta’in menjelaskan keterangan tersebut berdasarkan hadits Nabi yang bersumber dari Usamah bin Zaid sebagaimana berikut:
عَن أُسَامَة بن زيد رَضِي الله عَنْهُمَا قَالَ قلت يَا رَسُول الله لم أرك تَصُوم من شهر من الشُّهُور مَا تَصُوم من شعْبَان قَالَ ذَاك شهر يغْفل النَّاس عَنهُ بَين رَجَب ورمضان وَهُوَ شهر ترفع فِيهِ الْأَعْمَال إِلَى رب الْعَالمين وَأحب أَن يرفع عَمَلي وَأَنا صَائِم رَوَاهُ النَّسَائِيّ
Artinya: “Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, semoga Allah meridhai keduanya, dia bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Tidaklah aku pernah melihat engkau berpuasa di sebuah bulan —tidak diwajibkan puasa- dari beberapa bulan selain bulan Sya’ban, lalu Rasulullah menjawab: bulan Sya'ban merupakan bulan di mana para umat manusia tidak menyadari bahwa bulan antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan tersebut merupakan sebuah bulan di mana segala amal perbuatan disetorkan kepada Allah swt, lalu aku (Rasul) lebih senang amal perbuatanku disetorkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.”
Di akhir artikelnya, Musta’in mengajak kepada umat Islam untuk kembali menelaah peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya'ban ini. Sembari memperbanyak shalawat kepada Rasul, karena bulan Sya'ban merupakan bulannya Rasulullah dan memperbanyak membaca al-Quran.
“Bulan Syaban merupakan bulannya Al-Quran, maka tidak elok rasanya ketika tidak menelaah kembali beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syaban,” pungkasnya.
Editor: Aiz Luthfi


