Dark
Light
Dark
Light

Memaknai Laporan Amal Perbuatan Manusia di Bulan Sya’ban

Memaknai Laporan Amal Perbuatan Manusia di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan istimewa dalam Islam. Selain menjadi bulan persiapan menuju Ramadhan, Sya’ban juga memiliki keutamaan tersendiri, salah satunya berkaitan dengan laporan amal manusia kepada Allah. Artinya, pada setiap tahun pada bulan ini, amal perbuatan manusia yang telah direkap akan disetorkan kepada Allah swt. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad berikut:

  فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ  

Artinya, “Itu bulan yang dilalaikan manusia antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa,” (HR Nasa’i dan Ahmad).

Dalam hadits lain, disebutkan bahwa pelaporan amal perbuatan tidak terjadi pada bulan Sya’ban, melainkan setiap hari Senin dan Kamis. Rasulullah bersabda:

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِمَنْ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ يَقُولُ: دَعُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا   

Artinya, “Amal-amalan itu ditunjukkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni dosa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun kecuali seorang laki-laki yang antara dirinya dengan saudaranya terdapat permusuhan. Biarkanlah dua laki-laki itu sampai keduanya ber-islah.”

Lebih lanjut, ada juga hadits lain yang menyebutkan bahwa pelaporan amal perbuatan setiap pagi dan sore sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi berikut:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ   

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan Dia tidak layak tidur. Dia merendahkan dan meninggikan timbangan amal. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang. Amal siang diangkat kepada-Nya sebelum amal malam.”

Tidakkah ketiga hadits ini terkesan kontradiktif? Hadits pertama menyebutkan pelaporan amal terjadi setiap tahun, yaitu pada bulan Sya’ban. Sementara hadits lainnya menyebutkan pelaporan amal terjadi dua minggu sekali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sedangkan hadits lain menjelaskan pelaporan terjadi setiap hari dua kali, yaitu pagi dan sore.

Menjawab hal ini, Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al-Adzim Abadi dalam 'Aunul Ma'bud memberikan penjelasan komprehensif mengenai pelaporan amal perbuatan manusia kepada Allah swt. Ia menjelaskan bahwa ketiga hadits yang berbicara tentang pelaporan amal (harian, mingguan, dan tahunan) tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan menunjukkan tingkatan yang berbeda.

Pelaporan harian yang dilakukan setiap pagi dan sore merupakan tingkatan yang paling rinci. Hal ini menunjukkan betapa Allah sangat memperhatikan setiap detail perbuatan hamba-Nya. Untuk pelaporan mingguan yang dilakukan setiap hari Senin dan Kamis, ini lebih umum dari pelaporan harian, namun tetap memberikan gambaran yang cukup detail tentang amalan manusia selama sepekan. Terakhir, pelaporan tahunan yang dilakukan setiap bulan Sya'ban. Pelaporan ini mencakup seluruh amalan manusia selama setahun terakhir.

Adanya pelaporan amal perbuatan ini tentu memiliki hikmah yang sangat besar. Dengan menyadari bahwa setiap perbuatan kita dicatat dan dilaporkan kepada Allah swt secara berkala, seharusnya kita bisa semakin berhati-hati dalam bertindak. Pelaporan ini menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjauhi perbuatan dosa.

Selain itu, pelaporan amal perbuatan juga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk terus beramal saleh. Dengan mengetahui bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan dicatat dan mendapatkan balasan dari Allah swt, kita akan semakin termotivasi untuk melakukan yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan. (Abadi, 2017: juz 13, h. 164)

Kaitannya dengan Puasa

Ada yang menarik soal pembahasan pelaporan amal perbuatan manusia ini. Mengapa Nabi selalu mengidentikannya dengan ibadah puasa? Saat Sya’ban, beliau menganjurkan puasa dan dikaitkan dengan peristiwa pelaporan amal. Demikian juga saat hari Senin dan Kamis, yang kemudian menjadi amalan sunah cukup populer, puasa Senin-Kamis. Berkaitan dengan ini, Syaikh ‘Ubaidullah ar-Rahmani al-Mubarakfuri dalam Mirqatul Mafatih menjelaskan:

(فأحب أن يعرض عملي وأنا صائم) أي طلباً لزيادة رفع الدرجات. قال في اللمعات: لعله إنما اختار الصوم لفضله، ولأنه لا يدري في أية ساعة تعرض، والصوم يستوعب النهار، ولأنه يجتمع مع الأعمال الأخر بخلاف ماعداه من الأعمال-انتهى.

Artinya, "(Maka aku suka amalanku diperlihatkan sementara aku berpuasa)" yaitu karena mencari tambahan derajat yang lebih tinggi. Dalam kitab Al-Luma'at dikatakan: Barangkali Nabi memilih puasa karena keutamaannya, dan karena beliau tidak tahu pada jam berapa amalan itu diperlihatkan, sementara puasa itu mencakup siang hari, dan karena puasa itu bisa dilakukan bersamaan dengan amalan-amalan lain, berbeda dengan amalan-amalan selainnya.” (Al-Mubarakfuri, tanpa tahun: juz 7, h. 85)

Paparan Al-Mubarakfuri ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw sangat suka jika amalannya diperlihatkan kepada Allah swt dalam keadaan beliau sedang berpuasa. Hal ini karena beliau ingin mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Puasa memiliki keutamaan yang sangat besar, dan merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah swt. 

Selain itu, puasa juga merupakan ibadah yang sangat istimewa, karena dapat dilakukan bersamaan dengan amalan-amalan lain, seperti shalat, sedekah, dan lain sebagainya. Keistimewaan puasa salah satunya ditegaskan oleh hadits qudsi berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ.

Artinya, "Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”

Hadits qudsi tersebut menekankan bahwa ibadah puasa memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah swt. Penggunaan kata "untuk-Ku" dalam hadits ini bukanlah sekadar penegasan, melainkan sebuah pernyataan yang mendalam tentang betapa tingginya nilai ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Penyandaran ini memberikan indikasi bahwa puasa adalah ibadah yang sangat dicintai dan diridhai oleh Allah.

Analogi yang digunakan dalam hadits ini adalah penyandaran kata Ka'bah kepada Allah swt, sehingga menghasilkan istilah "Baitullah" yang berarti rumah Allah. Sama halnya dengan puasa yang disandarkan langsung kepada Allah, penyandaran Ka'bah kepada-Nya pun menunjukkan bahwa tempat ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan istimewa dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya di muka bumi.

Kedudukan istimewa puasa ini dapat dilihat dari berbagai aspek. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga melibatkan pengendalian diri dari segala bentuk hawa nafsu dan perbuatan dosa. Puasa melatih seseorang untuk menjadi lebih sabar, jujur, dan bertakwa kepada Allah swt.

Selain itu, puasa juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Melalui puasa, sebagaimana dijelaskan oleh Izzuddin bin ‘Abdissalam dalam Maqashidush Shaum, seseorang dapat merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan, sehingga tumbuh rasa empati dan kepedulian terhadap sesama yang kurang beruntung. Puasa juga dapat mempererat tali silaturahim antar sesama Muslim, terutama saat berbuka puasa bersama. (Izzuddin, 1992: h. 6)

Mengingat hal tersebut, sebaiknya kita jadikan bulan Sya'ban sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah. Karena bulan Sya’ban menjadi momen pelaporan amal tahunan kepada Allah swt. Tentu saja kita tidak mengharapkan laporan tersebut ditulis saat kita dalam keadaan malas beribadah atau bahkan melakukan maksiat. Selain itu, bulan Sya’ban juga bisa dimanfaatkan sebagai bulan evaluasi diri dan persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan amalan yang berkualitas. Wallahu a‘lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo