Arina.id. Presiden AS Donald Trump menyebutkan pihaknya berencana mengambil alih Terusan Panama di Amerika Tengah. Bagaimana respons China, Rusia, dan Panama atas rencana Trump?
Donald Trump kembali membuat heboh pada saat menjalani pelantikan sebagai Presiden AS untuk kedua kali, Selasa, (21/1/2025).
Dalam pidatonya tersebut, Trump turut menyampaikan rencana mengambil alih Terusan Panama yang dulu dibangun AS.
Dalam salah satu sumpahnya, Donald Trump menyebutkan dirinya bakal mengambil kembali Terusan Panama hingga mengklaim sebagai pembawa perdamaian dan pemersatu.
"Kami memberikannya kepada Panama dan kami akan mengambilnya kembali," beber Presiden AS Donald Trump, seperti dikutip via The Guardian.
Trump menambahkan, terusan Panama yang dibangun AS pada awal 1900-an namun akhirnya diberikan kepada Panama pada tahun 1977 termasuk sebagai hadiah bodoh yang seharusnya tidak pernah dibuat.
"Amerika Serikat - maksud saya, pikirkan ini - menghabiskan lebih banyak uang daripada yang pernah dihabiskan untuk sebuah proyek sebelumnya dan kehilangan 38.000 nyawa dalam pembangunan terusan Panama," lanjut Trump.
"Janji Panama kepada kami telah diingkari. Tujuan kesepakatan dan semangat perjanjian telah dilanggar sepenuhnya," demikian disampaikan Presiden AS Donald Trump.
Respons China, Rusia, dan Panama
Berbicara mengenai rencana Presiden AS Donald Trump yang akan kembali mengambil alih Terusan Panama, Kementerian Luar Negeri China lebih mendukung berada di bawah wewenang Panama dan bukan AS.
"Posisi China konsisten dan jelas terkait masalah Terusan Panama, saya tidak perlu menambahkan apa pun lagi," beber Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, dikutip via Antaranews, Rabu, 22 Januari 2025.
Sementara Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan Terusan Panama secara hukum adalah milik Panama.
Mereka juga mengingatkan kepada AS agar tidak mencoba merebutnya kembali melalui kekuatan militer maupun ekonomi.
"Kami berharap bahwa selama diskusi yang diharapkan antara kepemimpinan Panama dan Presiden AS Donald Trump mengenai masalah kontrol atas Terusan Panama... kedua belah pihak akan menghormati rezim hukum internasional saat ini atas jalur air utama ini," kata Alexander Shchetinin, Direktur Departemen Amerika Latin di Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip laman Politico.
"Rusia [...] menegaskan kewajiban untuk menjaga netralitas permanen Terusan Panama, mengadvokasi agar jalur perairan transit internasional ini tetap aman dan terbuka," lanjutnya. Shchetinin menuturkan AS tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan dalam negeri Panama.
Sedangkan Presiden Panama memberikan penolakan keras terhadap rencana Donald Trump untuk mengambil alih Terusan Panama.
Menurut pemberitaan BBC, Presiden Panama Jose Raul Mulino menolak ucapan Trump sembari menegaskan tidak ada satu pun negara di dunia yang dapat mengganggu pemerintahannya.
Editor: Abdul Fatah


