Arina.id - Sebanyak 5000 personel polisi bakal dilatih di Mesir dan Yordania untuk bertugas mengamankan wilayah Gaza Palestina. Tujuan lain untuk mengatasi kekosongan pengamanan di wilayah tersebut.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV lokal DMC, pada Rabu 13 Agustus 2025. Abdelatty mengatakan para petugas polisi tersebut bakal bertugas di sana setelah perang dengan Israel berakhir.
Ia menjelaskan, Mesir dan Yordania bekerja sama dalam mempersiapkan personel keamanan Palestina guna mengelola wilayah tersebut dan mencegah terjadinya kekosongan keamanan. Rencana ini terjadi setelah degasi Hamas melakukan pertemuan di Kairo kemarin.
Diplomat itu juga mengatakan Kairo akan menjadi tuan rumah konferensi internasional untuk rekonstruksi Gaza, di mana visi Mesir untuk pengelolaan Jalur Gaza pascaperang akan diumumkan.
Abdelatty menambahkan bahwa telah dicapai kesepakatan mengenai 15 tokoh terkemuka dari Gaza yang akan memimpin wilayah itu selama enam bulan dam menekankan bahwa Otoritas Palestina adalah satu-satunya badan sah yang berhak memerintah Gaza.
Pada Senin 11 Agustus 2025, Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Gaza akan dijalankan oleh "administrasi sipil non-Israel" setelah pendudukan Kota Gaza. Ia mengatakan administrasi yang direncanakan itu akan dijalankan oleh pihak ketiga, bukan Hamas maupun Otoritas Palestina.
Israel menghadapi kecaman yang kian meluas atas perang genosida di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 61.700 orang sejak Oktober 2023.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatannya di Gaza. Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas kejahatan perang.
Di sisi lain, kantor berita Rusia, TASS, mengutip Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait komitmennya terhadap konsep "Israel Besar". Netanyahu mengatakan dalam sebuah wawancara dengan saluran TV I24 bahwa dia sedang melakukan "misi sejarah dan spiritual" dan setuju bahwa ia merasa hubungannya dengan konsep "Israel yang besar."
Istilah tersebut muncul setelah Perang Enam Perang 1967 yang mengacu pada beberapa wilayah yang mereka duduki: Jerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Puncak Golan. "Israel yang lebih besar" adalah istilah yang digunakan dalam gerakan agama dan politik Yahudi sebagai justifikasi ekspansi wilayah Israel.
Editor: Muhammad Taufiq


