Dark
Light
Dark
Light

Israel Memperluas Invasi ke Lebanon, Perang Timur Tengah Siap Berkobar

Israel Memperluas Invasi ke Lebanon, Perang Timur Tengah Siap Berkobar

Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon pada Senin pagi, 23 September 2024. Serbuan itu menyebabkan ratusan warga Lebanon tewas, banyak yang terluka, dan ribuan orang mengungsi demi mencari tempat yang aman untuk keluarga mereka.

Serangan Israel dilaporkan terjadi di seluruh Lebanon tetapi difokuskan di selatan dan Lembah Bekaa, wilayah yang diyakini militer Zionis sebagai basis terkuat Hizbullah dan tempat roket, rudal, peluncur, dan pesawat nirawak milik kelompok milisi itu disembunyikan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeklaim bahwa pesawat mereka telah menyerang 1.300 "target teroris" Hizbullah di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.

Sebelum menyerang, Israel menyebar teror dengan mengirimkan 80.000 panggilan telepon yang mendesak warga Lebanon untuk mengungsi dari rumah mereka. Akibatnya adalah kepanikan, kekacauan, dan kemacetan, dengan jalan pesisir utama menuju ibu kota, Beirut, macet selama beberapa kilometer karena penduduk mencoba melarikan diri dari serangan yang akan datang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak warga Lebanon untuk menjauh dari bahaya sebelum militernya menyerang negeri itu. "Sudah terlalu lama Hizbullah menggunakan kalian sebagai tameng manusia. Mereka menempatkan roket di ruang keluarga kalian dan rudal di garasi kalian," katanya.

Sebaliknya, kata Netanyahu, serangan militernya ke Lebanan untuk menyingkirkan roket-roket Hizbullah dan melindungi rakyatnya.

Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati dalam sebuah rapat kabinet mengatakan: “Agresi Israel yang terus berlanjut terhadap Lebanon adalah perang pemusnahan dalam segala arti kata”.

Dalih serangan untuk apa?

Awalnya tidak begitu jelas alasan Israel menyerang Lebanon. Namun, dua hari setelah pesawat-pesawat tempur Zionis menggempur Lebanon, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan bahwa serangan mereka untuk dapat mengembalikan warganya yang mengungsi ke utara.

Gallant menekankan, itu adalah bagian dari upaya untuk memulangkan 65.000 warga Israel yang telah diperintahkannya untuk dievakuasi pada hari-hari awal konflik untuk mengantisipasi serangan Hizbullah terhadap rumah-rumah mereka di dekat perbatasan Lebanon.

Atas dasar itu, Gallant mengumumkan pengerahan kembali "pasukan, sumber daya, dan energi" ke wilayah utara dan Hizbullah saat perang memasuki "fase baru", yang tampaknya menyiratkan bahwa perang di Gaza telah berakhir.

Untuk mengembalikan warga Israel yang mengungsi tersebut, IDF harus terlebih dahulu menghancurkan persenjataan Hizbullah. "Pada dasarnya," kata Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Herzi Halevi kepada para komandan di Tel Aviv, "kami menargetkan infrastruktur tempur yang telah dibangun Hizbullah selama dua puluh tahun terakhir. Ini sangat penting."

"Pada akhirnya," Halevi menekankan, "semuanya difokuskan pada penciptaan kondisi untuk memulangkan penduduk utara ke rumah mereka."

Hizbullah tidak menjawab tudingan Netanyahu maupun para petinggi militer Israel bahwa mereka menyembunyikan roket, rudal, peluncur, dan pesawat nirawak mereka di rumah-rumah warga. Namun, sebagai isyarat tak gentar, mereka menembakkan rentetan roket ke beberapa pangkalan militer Israel di Israel utara dan fasilitas manufaktur senjata di daerah pesisir Zvulun, utara kota Haifa.

Pada malam ketika Israel melancarkan serangan udara, juru bicara militer negara itu berterus terang tidak menutup kemungkinan mereka melakukan invasi darat ke Lebanon. "Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membawa pulang semua warga negara kami ke perbatasan utara dengan selamat."

Pernyataan pers itu diyakini berhubungan dengan serangan alat komunikasi penyeranta (pager) di Lebanon pada pekan sebelumnya. Pada 17 September, ratusan pager milik anggota milisi Hizbullah diledakkan dalam sebuah serangan yang ditengarai didalangi oleh Israel, disusul serangan lain yang merusak radio walkie-talkie Hizbullah. Sebanyak 37 orang, termasuk 2 anak-anak, tewas dan ribuan lainnya terluka akibat kedua serangan tersebut.

Memicu konflik lebih besar dan potensi perang nuklir

Serangan Israel ke Lebanon dan aksi balasan Hizbullah meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik akan menyebar ke seluruh wilayah di Timur Tengah, apalagi invasi Zionis ke Gaza, Palestina, belum berakhir dan prospek gencatan senjata kian suram. 

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyatakan bahwa negaranya akan bekerja sama dengan mitranya di Timur Tengah untuk "meredakan ketegangan, dengan cara yang memungkinkan, orang-orang kembali ke rumah mereka dengan aman”. Tetapi tidak banyak yang terjadi setelah pernyataan Biden. Sebaliknya, sebagai sekutu Israel, Amerika Serikat, mengumumkan akan mengerahkan pasukan tambahan ke daerah tersebut, tanpa menyebutkan berapa banyak dan untuk tujuan apa. Saat ini AS memiliki sekitar 40.000 tentara di wilayah tersebut.

Israel telah melancarkan pertempurannya dengan kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon sebagai bagian dari pertempuran yang lebih luas melawan Iran.

Konflik tersebut juga berpotensi memicu perang nuklir. Israel memang tidak pernah mengakui memiliki senjata nuklir tetapi negara Zionis itu diyakini memiliki gudang senjata yang terdiri dari 90 hulu ledak nuklir. Iran, meskipun belum memiliki senjata nuklir, dicurigai telah mendekati memilikinya. Terlepas dari itu, Iran merupakan salah satu negara dengan militer terbesar dan terkuat di kawasan.

Meskipun Biden bertekad "meredakan ketegangan", gencatan senjata dari perang di Gaza yang hampir berlangsung setahun antara Israel dan Hamas tampaknya makin tidak mungkin. Nimrod Goren, peneliti senior di Middle East Institute di Washington, DC, dilansir dari VOA, mengatakan, “Kemungkinan gencatan senjata di Gaza bukan lagi solusinya, karena itu tidak terjadi. Jadi, saya pikir upaya diplomatik Amerika Serikat lainnya tidak jelas, terkait bagaimana upaya-upaya itu akan mencapai hasil”.

Kekhawatiran akan konflik lebih besar telah terwujud. Kelompok perlawanan Islam di Irak mulai bergerak dan mereka mengaku telah melancarkan serangan di Pelabuhan Laut Merah Israel di Eliat. Sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Kamis, Irak mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Pelabuhan Laut Merah Israel pada Rabu menggunakan pesawat tak berawak.

"Perlawanan Islam di Irak menyerang target strategis di Eilat pada hari Rabu menggunakan pesawat tak berawak," katanya dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di Telegram.

Meski demikian, militer Israel mengeklaim mereka berhasul mencegat sebuah pesawat nirawak yang mendekati Eilat dan satu lagi jatuh di daerah itu. Mereka melaporkan dua orang terluka ringan.

Hizbullah menyatakan itu adalah perang perhitungan dan mereka telah mempersiapkan kemungkinan invasi darat Israel sejak 2006. Mereka juga menyatakan selalu siap untuk skenario apa pun.

Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, sangat jelas dalam pidatonya beberapa hari yang lalu, mengatakan bahwa jika Israel mencoba menempatkan zona penyangga di Lebanon selatan, mereka akan gagal.

Lebanon bisa menjadi Gaza

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan tentang risiko mengubah Lebanon menjadi "Gaza lain". Dia meragukan kemungkinan gencatan senjata di Jalur Gaza antara Israel dengan Hamas setelah sebelas bulan berperang.

"Bagi saya jelas bahwa kedua belah pihak tidak tertarik pada gencatan senjata," kata Guterres kepada CNN International menjelang pertemuan tahunan para pemimpin dunia di PBB. "Dan itu adalah tragedi, karena ini adalah perang yang harus dihentikan."

"Baik pemerintah Israel maupun Hamas tidak benar-benar menginginkan gencatan senjata," dia menambahkan.

Karena fakta itu, ditambah lagi serangan Israel terhadap Lebanon dan balasan dari Hizbullah, Guterres mengatakan yang menjadi perhatiannya adalah "kemungkinan mengubah Lebanon menjadi Gaza yang lain".

Menteri luar negeri Mesir Badr Abdelatty memperingatkan tentang risiko perang regional habis-habisan karena pertempuran antara Israel dan Hizbullah Lebanon meningkat. Ia mengatakan eskalasi tersebut "berdampak negatif" pada perundingan gencatan senjata Gaza.

"Ada kekhawatiran besar tentang... kemungkinan eskalasi di kawasan yang mengarah pada perang regional habis-habisan," kata Abdelatty, berbicara menjelang pertemuan tahunan para pemimpin dunia di PBB.

"Namun Mesir, bersama Qatar dan Amerika Serikat (AS), memiliki tekad dan komitmen penuh untuk melanjutkan upaya untuk menengahi perjanjian gencatan senjata," katanya.

Qatar, Mesir, dan AS telah berbulan-bulan mencoba mengamankan gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera di Gaza, yang berulang kali dikatakan oleh para diplomat akan membantu meredakan ketegangan regional.

Semua unsur kesepakatan sudah siap, menurut Abdelatty. "Masalahnya adalah kurangnya kemauan politik di pihak Israel," katanya. "Kebijakan provokatif Israel atas meningkatnya pertempuran dengan Hizbullah, sekutu Hamas, menjadi masalah."
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo